Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 82


"Sorry, sorry, lo sih apa-apa gak di pikir!"


Gilang malah balik marah padanya. Maksud Gilang memang tidak salah, tapi tidak usah mulut dan hidungnya di bekap segala.


"Iya, maaf,maaf." Ucap Tasya yang mengakui tindak cerobohnya yang membuat Ara menjadi pusat perhatian.


Gilang menarik Tasya untuk berdiri di tempat jauh dari orang-orang yang lalu lalang.


"Lagian, mana Ara sih?" Tanya Gilang.


"Ah, lu laki-laki emang gak paham," sungut Tasya.


"Eh, lu kok jadi ngatain gue laki-laki gak paham sih!"


"Huft, berdebat sama kulit kacang emang terlalu garing," sindir Tasya.


"Ih, lu kalau bukan cewek udah ku patah-patahin!" Geram Gilang yang ingin menguyel-nguyel kepala Tasya.


Tasya menyadari Ara tidak di tempat itu lagi. Membuat iya gusar mencari sosok Ara. Ia sudah lama mencari Ara, ia ingin menelpon namun handphone milik Ara susah sekali di hubungi. Ingin menghampiri ke rumahnya pun, ia tak tahu alamatnya. Makanya Tasya berharap Ara masuk.


"Dengerin gua gak sih?"


Gilang merasa di acuhkan karena Tasya begitu sibuk menoleh ke kanan ke kiri sendiri entah mencari apa.


"Tasya!" Panggilnya.


"Apa sih?!" Sentak Tasya yang merasa terganggu.


"Dengerin gua gak sih?!"


Tasya menghentakan kakinya, seraya menarik nafas panjang. Ya ampun, kenapa ia harus bisa memiliki sahabat seperti Gilang ini. Apa yang di katakan sahabat, jika mereka berdua selalu berantem setiap kali bertemu.


"Apa yang gue bisa dengerin dari lo? Liat, Ara ilang lagi kan. Emang buang-buang waktu ngomong sama lo, mending bantu gue cari Ara," ucapnya lalu pergi meninggalkan Gilang.


"Hei, dia tuh udah gede ngapain di cari," ucap Gilang yang sudah menyusul di belakang Tasya.


"Ah, lo mana paham sih."


Terhenti langkah kaki Gilang, ia kesal sekali dengan setiap jawaban Tasya. Ia hanya sungguh kesal, hanya bisa menatap punggung Tasya dengan tatapan kesal.


"Gimana gue mau ngerti kalo elo gak jelasin sih?!! Emang gue cenayang!!" Geram pelan Gilang.


"Tasya tungguin gue!" Gilang pun beranjak menyusul Tasya kembali.


 


"Apa aku kabur aja?" Bingung Ara.


Melihat Tasya dan Gilang tadi, Ara tak ingin membawa mereka ke dalam masalahnya. Makanya ia lebih menghindar. Ya, Ara mendengar bahwa Tasya dapat hukuman setelah kemarin yang terjadi di perpusatakan dengan Uut hanya untuk membela Ara.


"Kenapa kehidupanku baru di mulai malah harus ketimpa masalah kayak gini sih?"


Ara merasa ruang untuk dirinya semakin sempit karena masalah kemarin. Walau kejadiaannya memang benar, tapi semua orang mencemoohnya tanpa ampun. Sah-sah saja, toh mereka ini sudah menjadi suami istri. Sayangnya, hanya Rio dan Ara yang mengetahui hubungan mereka sendiri.


Ia bingung harus mempermasalahkan siapa jika sudah begini.


"INI SEMUA GARA-GARA RIOOO, BRENGSEK!!" Teriak Ara keras.


Untungnya di taman belakang kampus sedang sepi orang.


"Ya ampun, ni anak kemana sih?"


Mobil Rio berjalan dengan kecepatan sedang, wajahnya terlihat sedang kebingungan dengan salah satu tangannya menggenggam ponsel pintarnya.


"Mana gak bisa di hubungi lagi!" Cemas Rio.


Jam di ponselnya menujukan pukul empat sore. Dia sudah memutari jalanan kota Jakarta dari jam dua siang hanya untuk mencari Ara.


Dasar, gadis kecil bodoh. Ini Jakarta bukan di desanya. Ara sendiri belum familiar dengan jalanan terdekat di sini. Kenapa harus bolos dari jam kuliah?


Mana gak kasih kabar sama sekali. Jangankan kabar ponselnya saja sulit di hubungi. Mana bisa Rio pulang sendiri tanpa Ara. Kalau ada Mama di rumah pasti di tanyain.


"Ara, kamu ke mana sih?!" Lirihnya seraya kedua matanya terus menatap ke sembarang arah guna mencari sosok Ara.


Rio mau cari kemana lagi, selain mengandalkan ponselnya untuk menghubungi Ara namun sulit. Selain itu ia harus rela meninggalkan pekerjaannya demi Ara yang sekarang Rio hanya bisa memutari jalanan yang tak tentu arah. Dengan perasaan cemas, khawatir, bingung, dan kesal karena ponsel Ara sulit di hubungi. Kemana lagi Rio harus mencari di kota Jakarta ini?


Rio tak putus asa, ia masih berusaha menghubungi nomer Ara yang terus-terus di aktif. Sampai di mana keberuntungan berpihak padanya.


"Ah, nyambung!" Serunya tak percaya.


Tak butuh waktu lama panggilannya pun di terima oleh Ara.


Ara yang jauh di sana hanya bisa mengernyitkan dahinya dengan sedikit menjauhkan ponsel miliknya dari telingnya.


"Halo... halo... Ara kamu masih di sana kan, halo...!!" Teriak-teriak Rio. Tak ada jawaban membuat ia semakin khawatir hingga mengerem mobilnya mendadak di bahu jalan.


"Iya, aku masih di sini," jawab Ara.


Ah, lega Rio kira yang menjawab telfonnya bukan Ara. Padahal hanya beberapa detik saja dari setelah rentetan pertanyaannya yang belum Ara jawab namun sudah keduluam halo holanya Rio.


"Ara..." Lirihnya karena lega mendengar suara Ara. Ia sandarkan tubuhnya ke badan kursi mobil sembari memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa sakit kepala yang tiba-tiba menyerang.


"Kamu lagi di mana?" Tanya Rio singkat.


"...."


"Oke, aku jemput ya, jangan pergi kemana-mana sebelum aku sampai. Ponsel harus tetep aktif, paham!" Tegas Rio.


"...."


Panggilan pun berakhir, dan tanpa basa basi Rio pun menacap gas menuju sharelock dari Ara.


Dan tiba sepuluh menit saja, Rio telah sampai tujuan yang telah Ara berikan.


Terlihat Ara terduduk di sebuah bangku menghadap jalan dengan banyaknya orang berlalu lalang melewati Ara yang tengah duduk dan menikmati keramaian di sekitarnya.


"Ah, syukur!" Lega Rio.


Ia lepaskan seat belt, dan turun dari mobil miliknya. Kakinya cepat melangkah mendekat ke arah di mana Ara tengah duduk di sana.


Ara tak menyadari jika Rio telah tiba. Tahu-tahu tubuhnya terasa di rengkuh seseorang dari samping dengan sangat erat. Ia terkejut, dan reflek melihat wajah siapa yang tengah memeluknya dengan tiba-tiba.


Aroma maskulin yang tak asing untuknya menyeruak. Ara menatap bingung dengan sosoknya yang masih memeluknya dengan begitu erat.


"Rio, kapan kamu datang?!" Tanyanya.


Rio melepas pelukannya, " Kamu kemana aja sih?" Tanyanya dengan nada gelasnya. "Kamu gak kenapa-kenapa?" Memastikan keadaan Ara baik-baik aja, ia memutari pandangannya ke seluruh bagian-bagian tubuh Ara takut ada yang terluka.


Ara menggeleng, ia hanya menatap wajah Rio yang tengah mencemaskannya. Kerutan di kening terlihat jelas betapa ia tengah mengkhawatirkannya.


Rio melihat sekeliling sekitar area mereka tempati. Hembusan nafas berat terdengar," Kamu kok bisa ke sini sih?"


"Oh, aku..."


"Kenapa kamu gak masuk kuliah?!" Terdengar nada amarah dari Rio.


Siapa yang tak kesal. Hari ini Rio sudah mempersiapkan segalanya, menyelesaikan masalah Ara yang sempat menimpa Ara karena ulahnya. Berharap hari ini berjalan dengan keadaan normal. Namun gagal karena Ara tak masuk.


Di tambah, Ara pergi dengan keadaan dirinya memang belum mengenal Kota Jakarta. Di hubungi pun sangat sulit.


"Aku, aku," terbata Ara karena ia bingung hendak menjawab bagaimana.


"Tahu nggak, gimana aku takutnya kamu kenapa-kenapa? Ponsel gak aktif segala, mending kalau kamu langsung pulang ke rumah. Tadi aku telfon ke rumah, Kamu belum pulang. Gimana kalau Mama tahu kalau sempet kamu gak ketemu?!" Marahnya Rio memanglah wajar, dan Ara hanya terdiam bola matanya memperhatikam setiap mimik wajah Rio yang benar marah bercampur khawatir akan keadaannya.


"Seandainya kamu tahu, apakah kamu akan sempat marah sama aku?!" Lirih Ara dengan pandangan kosongnya.


Rio tertegun sesaat, tampak terlihat wajah sedih terlihat dari pandangan Ara dan mengutarakan hal yang Rio tidak paham.


"Maksudnya?!"


"Hah!" Ara tersadar ia langsung memanglingkan wajahnya ke sembarang arah, menghindari kontak mata langsung dengan Rio. "Aku, aku tadi..." Ara membenarkan posisi duduknya kembali agar berhadapan langsung dengan Rio, namun suaranya tercekat mengingat suatu hal ketika melihat wajah Rio.


Rio menunggu kelanjutan ucapan Ara yang tertunda karena tiba-tiba Ara seperti orang ling lung. Diam, dan pandangannya menatap Rio dengan kosong.


"Tadi kenapa?"


"Hey," kejutnya. "I, iya, tadi, tadi Ara memang bolos kampus. Terus gak tahu mau kemana, niatnya sih mau pulang tadi. Tapi, aku malah salah naik angkot. Tau-tau di turunin di sini." Jelasnya sedikit berbohong.


"Terus kenapa ponselnya gak aktif?" Tanya Rio.


"Lowbet," jawabnya singkat.


"Terus sekarang ponsel hidup, gimana caranya?!"


"Rio, udah gak usah banyak tanya. Yang penting kan akunya di sini, gak usah di fikirin masalah hal kecil. Aku udah gede, udah bisa mengatasi masalah!" Ketusnya sembari beranjak dari duduknya.


"Ayo, pulang!" Ajaknya.


***