Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 12


Bunda Nisya terkejut. Dan langsung buru-buru meninggalkan Ara dan Qia menuju ruangan ijab kabul untuk menyambut keluarga Rio sekeluarga.


Ara semakin gugup, tangannya bergemetar dan dingin. Qia tahu kakaknya sedang Gugup.


"Teh, kalau A' Rio melihat Teh Ara cantik dan anggun seperti ini pasti langsung jatuh hati sama teteh. Klepek-klepek loh Teh" Ledek Qia agar suasananya tidak tegang.


Pipi Ara merah merona ketika di goda adiknya. Qia memang tahu kondisi kakakanya tahu betul. Makanya Qia berusaha menenangkan Ara dengan cara di goda.


Ara hanya tersenyum tersipu malu sekali.


***************


 


 


 


Setelah menyambut keluarga Rio.


"Bagaimana sudah berkumpul semua sanak keluarga dari calon mempelai lelakinya?" Tanya bapak penghulu.


"Sudah pak" jawab Bunda Nisya.


"Kalau sudah, kita mulai sekarang. Panggil calon mempelai wanitnya untuk duduk bersanding di sisi calon mempelai lelaki." Suruh Bapak penghulu mengarah ke Bunda Nisya.


"Oh baik pak" Jawab Bunda Nisya dan berlalu pergi.


Rio sendiri sudah berpakaian senada dengan Ara. Baju pengantin serba putih hanya dasi yang berwarna hitam dan memakai kopiah hitam pula. Mamah Fani dan Papah Rendy terlihat serasi memakai baju seragam batik. Memang keluarga besar Ara dan Rio memakai baju seragam batik. Rio sendiri terlihat gugup. Ia penasaraan dengan gadis Mamahnya pilih. Karena ini baru pertama kali mereka bertemu secara langsung di hari pernikahan mereka. Pernikahan mereka hanya di hadiri oleh keluarga Rio, keluarga Ara dan beberapa tetangga Ara.


Di saat ruangan sedang riuh suara ngobrol. Tiba-tiba saja hening seketika. Mata mereka tertuju gadis cantik dan anggun memakai baju pengantin kebaya berwarna putih. Bermakeup natural tapi sangat cantik. Ara tersenyum kepada semua orang yang hadir. Senyumnya manis sekali, jalan perlahan keluar menuruni anak tangga berlegak legok bak sang putri. Auranya terpancar membuat seisi ruangan terhipnotis oleh kecantikan Ara.


Ara di didampingi oleh Bunda Nisya dan Qia. Mereka menuju tempat dimana Rio duduk berhadapaan oleh penghulu. Rio sendiri tidak memalingkan wajahnya. Mata Rio menatap dari atas sampai ke kaki. Sungguh wanita cantik, ia tak menduga jika Mamahnya menjodohkan Rio dengan seorang bidadari. Tapi ketika mengingat kata perjodohan hatinya kembali terselimuti es yang dingin dan membeku. Rio cepat-cepat mengarahkan pandangannya ke arah lain. Rio kembali bersikap dingin tanpa ekspersi sama sekali.


***********


 


 


Ara tahu diri dan menyesuaikan keadaan ini. Ia tersenyum ramah, mencoba melihatkan sisi kebahagiannya di depan keluarga Ara dan Rio bahkan semua yang hadir.


Rio dan Ara tak saling senyum atau pun menatap. Mereka terdiam satu sama lain.


**************


 


 


Ijab qabul pun berlangsung dengan haru bahagia. Ara terus meneteskan air mata. Statusnya sekarang menjadi istri Rio Sekarang Ara harus membuat Bunda bahagia. Tak apa dirinya menderita. Terpenting Bunda selalu tersenyum. Sesekali Ara melihat ke arah sang Bunda. Raut wajahnya begitu bahagia. Bunda Nisya menangis melihat anaknya sudah sah menjadi istri Rio. Begitu pun Mamah Fani yang sekarang telah menjadi mertuanya. Begitu bahagia, Ara tersadar ternyata ia telah membuat kebahagian orang sekitar.


Bunda, Qia, Mbak Inah, Mang Anton, Mamah Fani, Papah Rendy, dan keluarga lainnya mereka tersenyum bahagia.


"Selamat kalian sudah menjadi suami istri yang sah. Silahkan tanda tangan dulu" Suruh Bapak penghulu menyodorkan buku nikah mereka dan beberapa lembar kertas. Rio terlebih dahulu dan Ara setelahnya.


"Saling tukar cincin" Ujar Bapak Penghulu dengan menyodorkan kotak beludru dan membukanya. Terlihat 2 cincin perak dan berhias permata berlian yang indah dan bersinar.


Rio mengambil dan memasangkab ke jari jemari lentik dan halus Ara. Dan memasukannya secara perlahan.


Dan begitu sebaliknya Ara.


"Istri cium tangan suami dan suami mencium kening istri" Bapak penghulu memberi perintah terakhir kali.


Dengan malu-malunya Ara memegang dan mencium punggung tangan suaminya. Rio pun merasa canggung karena selain Mamahnya yang ia suka cium tak ada wanita yang pernah ia cium. Perlahan namun pasti Rio mencium kening seorang wanita untuk pertama kalinya terhadap istrinya sendiri. Begitu romantis dan mesra. Ara hanya memejamkan kedua matanya. Merasakan kehangatan di dalam diri Rio. Setelah itu mereka sungkeman kepada orang tua masing-masing. Begitu bahagia, begitu hangat, begitu haru. Itu yang mereka rasakan sebagai keluarga besar yang baru.


Setelah rangkaian acara ijab qabul rampung. Tinggal sanak keluarga dan tetangga yang memberi selamat kepada kedua mempelai pengantin yang sangat serasi ketika bersanding.