Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 53


"Kayaknya ada masalah nih? " Tebak Arfan memberi tanda ke arah Alex.


Arfan berusia 21 dan Alex pun sama. Mereka senior Rio, tapi di pertemanan mereka tidak membedakan umur. Mereka selalu kompak.


"Kalau gue tebak lagi nih, pasti masalah hati." Tebakan yang benar, tapi malahan buat candaan dengan mereka.


Rio merengut, sahabatanya lagi kesusahan. Mereka malah tertawa, menertawai kesusahannya. Dasar laknat.


"Tenang bro, cerita aja pasti kita bantu." Alex mendekat dan merangkul bahu Rio.


"Ah.." Rio menepis rangkulan Alex. "Lo pada gak asik."


"Bro, kita asik kok." Arfan juga mulai mendekati Rio.


"Gue ajak lo semua ke sini buat ngilangin stres gue bukannya namabahin." Kesal Rio.


Tadi pagi Rio memberi pesan kepada dua sahabatnya ini untuk bertemu di basecamp mereka. Yaitu club milik Alex, usaha kecil-kecilan katanya. Mereka bertemu di ruang VIP.


"Lah, nambahin dari mana? "Kata Alex.


"Udahlah cerita, tentang apa? Ara?" Tanya Arfan.


Rio hanya terdiam.


"Ada apa sama Ara? " Tanya Arfan.


"Entahlah, gue rasa adek gue naksir sama Ara." Ucap Rio dengan tatapan kosong.


"Lah, kok bisa?" Terkejut Alex.


"Bisa lah, adek nya nikung. Wong, kakaknya aja labil." Celetuk Arfan.


Mendengar celetukan dari Arfan, tatapan Rio beralih ke dirinya dengan tajam. Arfan yang di berikan tatapan mematikan langsung beringsut menjauh.


"Tenang bro, santai." Arfan mencoba menenangkan Rio.


"Nih ya, namanya cinta butuh kepastian. Perjuangin lu nya dapat, di biarin ya di tikung. Gue heran sama lo Rio, kalau lu bingung dengan hal beginian. Coba dengar kata hati lo yang paling dalam. Itu cara sederhana." Anjur Arfan.


"Kepastian? Kata hati?" Berfikir Rio.


"Gak bisa gue?" Geleng frustasi Rio.


"Lah napa? " Tanya Alex.


"Masalahnya bukan masalah kepastian atau kata hati. Tapi pilihan, gue harus pilih di antara keduanya." Sambungnya, Rio menyandarkan diri di badan sofa lalu bergantian menoleh ke dua sahabatnya.


"Maksud lo, ada selain Ara gitu?" Penasaran Alex, Rio mengangguk.


"Siapa? " Bareng mereka berdua.


Rio menoleh dan menatap kedua sahabatnya bergantian, lalu berkata "Angel."


"Woah, serius?" Kaget Arfan.


Alex hanya tertegun, ia bahkan sulit untuk menelan air liur nya.


"Lah gimana sama Ara? Emang Ara tahu? Terus sekarang gimana dia?" Pertanyaan beruntun dari Arfan.


"Ara tahu, bahkan kita tinggal satu atap." Polos Rio tanpa dosa.


"Woah, lu sakit sih. G-gue gak tahu Ara kayak gimana. Gue gak pernah liat dia secara langsung. Dan gue gak kenal karakternya. Tapi gue rasa lu nyakitin dia ****." Ucap Alex.


Untung Rio bertemu kedua teman yang bisa menghargai perasaan wanita. Terlebih Alex karena ia tahu pasti rasanya di dihianati. Karena mamanya dulu sempat memiliki tekanan bhatin luar biasa akibat papanya berselingkuh secara terang-terangan. Alex tahu betul sakit bagaimana, makanya ia tak ingin seperti papanya.


"Terus gue harus gimana?" Lunglai Rio kepada Alex.


"Ya lu gimana perasaan lu sendiri tentang Ara? " Tanya Alex.


"G-gue gak ngerti? " Geleng Rio.


"Wait, Lo bilang tinggal satu atap. Kenapa bisa? Terus Angel pasti tahu kan Ara istri lo?" Arfan bingung, bingung kenapa Rio sangat lemah dengan perasaanya sendiri.


Rio menatap sayu ke arah Arfan, ia sejenak menenangkan diri. Ia tahu jawaban yang ia berikan pasti sangatlah sahabatnya tak sukai.


"Apartemen dia lagi di renovasi, sementara


Dia tinggal di rumah gue selama satu minggu. Angel gak tahu kalau Ara istri gue. Ka, karena gue bilang Ara sepupu gue."


"Hah?" Melongo Arfan.


"Parah sih lu, sakit emang lu. Gue gak tau lagi dah mau bilang apa ke lu." Alex tak menyangka alurnya seperti ini.


"Terlalu gak mikirin perasaan Ara. Ara itu istri lo. Bisa-bisanya karena lu bingung sama hati lo. Terus dengan mudahnya lo kenalin Angel ke Ara dan lo bilang Ara sepupu lo. Parahnya lo bawa Angel ke rumah lo yang sekarang lo tinggali sama Ara. Lo gak mikir perasaan Ara apa? Sehat dong pikirannya Ara tuh manusia bukan binatang." Kesal Alex.


"Gue harus gimana?"


"Sederhana aja bro, lu pilih di antara keduanya. Pilih Angel atau Ara. Pilih Ara lu tinggali Angel, pilih Angel lu ceraiin Ara. Beres."


Arfan hanya terdiam melihat Alex menceramahi Rio. Memang Alex lah orang yang tepat memberikan jalan kepada Rio sekarang. Bisa di bilang Alex lebih bisa menyingkapi dengan dewasa hal seperti ini. Walaupun Alex orang yang paling receh di antara mereka bertiga. Tapi jika menyangkut tentang perasaan dirinya ahli dalam pakar kesulitan tentang hubungan.


"Gak semudah itu."


"Apanya yang gak mudah?"


"Nentuin pilihan."


"Ya ampun, serah lu dah." Pasrah Alex.


"Menurut gue, mending akhiri hubungan lo antara Ara atau Angel secepatnya. Ambil keputusan lo dari hati lo sendiri. Jawaban yang tepat cuma di hati lo sendiri. Lo yang jalani, Lo yang punya perasaan untuk siapa. Ini gak baik, Lo udah gak jujur sama Angel. Dan pasti itu udah nyakitin Ara, cepat atau lambat Angel pun merasa tersakiti. Sekarang atau nanti hasilnya sama aja kan. Lo udah nyakitin Ara, nantinya juga nyakitin Angel." Ungkap Arfan panjang lebar.


"Yang lebih menyakitkan bukannya orang tua lo ya. Terutama nyokap lo."


Rio langsung seperti sadar akibat perkataan Arfan barusan. Ia bagaiman Mamahnya tahu tentang ini. Mamahnya berharap dirinya bisa menjadi imam yang baik untuk Ara. Dan, Bunda?


Rio mengusap rambutnya, kepalanya terasa sakit. Satu persatu kenyataan yang ia tepis selama ini membayangi dirinya. Secara gak langsung ia menyakiti dua keluarga sekaligus.


"Gue nyaman sama Ara." Ucap Rio.


"Angel?" Tanya Arfan.


"Angel?" Bhatin Rio, entah perasaan macam apa ini.


"Dulu gue cinta sama dia. Gue rela nunggu selama tiga tahun lamanya. Sekarang dia datang, tapi, tapi hati gue..."


***


I'am sorry. Aku kemarin up padahal udah aku periksa lagi. Kayaknya kemarin bner deh. Aku rencananya up dua episode. Dan karena aku rasa gak ada kesalahan gak aku chek lagi update-annya. Sorry bukan nipu akunya yang salah mungkin kurang teliti.