
"Ada apa? " Rio langsung terbangun dengan mata yang segar.
Yang pertama kali Rio lihat adalah Ara yang sudah terbangun dengan terduduk dengan wajah terlihat marah.
"Ara ada apa sih teriak sepagi ini? " Tanya Rio pura-pura tidak tahu apa yang terjadi semalam.
"Ini anak aku sudah benar-benar menghindarinya. Dan ini juga keinginan kamu. Sekarang malah ia sendiri datang dengan tidak tahu malu." Bhatin Ara.
"Kamu ngapain tidur di sini? " Tanya Arsa dengan wajah kesalnya.
Rio berfikir sejenak, ia garuk kepalanya yang tidak gatal. Bodohnya kenapa ia bisa tidur di kamar Ara. Dan kini ia bingung harus berkata apa.
"Ya emang kenapa kalau aku tidur di sini?" Lesu Rio karena ia baru bisa terlelap di jam satu lebih dini hari. Rasa kantuknya masih terasa dan ia tak ingin bangun.
"Pake tanya lagi. Buruan keluar! Kita udah punya kamar masing-masing Rio." Ara menarik lengan besar Rio dengan sekuat tenaga.
"Aku masih ngantuk Ra. Lima menit lagi deh." Rio kembali menjatuhkan diri ke kasur.
"Rio ! Terserah kamu." Ara benar-benar malas berdebat dengan Rio. Biarlah sesuka hati Rio mau berbuat apa. Toh, ini rumahnya sendiri.
Ara beranjak dari tidurnya dengan wajah sangat kesal. Ara membiarkan Rio yang sedang tidur kembali di ranjang miliknya. Ia pergi berjalan menuju kamar mandinya dengan hati menggerutu.
Rio tidak benar-benar tidur. Ia membuka mata melihat punggung gadis cantik yang tengah kesal padanya. Rio tersenyum melihat manisnya ketika Ara kesal dan mencibir dirinya tipis. Lihat kaki Ara ia tendang ke udara ketika hendak masuk ke kamar mandi. Rio sangat gemas melihat tingkah sang istri di pagi hari.
"Dulu dia pemalu, dan lemah lembut. Sekarang dia berubah seperti singa kelaparan." Lirih Rio seraya menggeleng kepala heran.
***
"Ya Allah, dia lagi, dia lagi." Lirih Arsa ketika ia menuruni anak tangga dan melihat sosok lelaki yang tadi pagi tidur di ranjangnya tengah duduk di meja makan.
Rio sudah memakai baju kemeja bercorak abstrak dan celana bahan hitam. Sepertinya Rio tidak masuk ke kantor. Karena hari kemarin Ara sudah lihat Rio masuk kelas pagi.
"Pagi Non udah siap berangkat!" Sapa Bi Imah ketika menuangkan susu di gelas milik Ara.
Rio pun menoleh ke arah Arsa yang berjalan menuju meja makan dengan wajah di tekuk masih kesal mungkin. Rio hanya diam, tapi hatinya tergelak. Ara sengaja menatap ke arah lain, Ara benar-benar masih marah.
"Huh, males banget lihat dia." Bhatin Ara yang menghabiskan susunya, bola mata Ara melirik ke arah Rio yabg tengah fokus membaca koran.
"Non gak mau roti atau nasi goreng? " Tawar Bi Imah yang baru meletakan piring untuk Ara.
"Ara mau langsung berangkat Bi." Ketus Ara, nada ketusnya ia arahkan ke Rio. Tatapan Ara sepeti hasrat ingin menjintak kepala Rio.
"Loh gak sarapan dulu." Kata Bi Imah yang bingung.
"Gak usah, Derry udah nunggu Ara di depan." Jelas Ara kemudian ia mengambil tasnya.
Baru saja bibir Rio menempel pada bagian bibir cangkir, ia jauhkan kembali cangkir tersebut setelah mendengar nama Derry.
"Ara berangkat dulu ya Bi." Pamit Ara kemudian mendekati Rio yang masih betah terdiam dengan cangkir masih di pegangnya.
Ara menjulurkan tangannya ke arah Rio. Tak ada respon, Ara menyenggol tangannya ke bahu Rio sehingga membuat Rio tersentak.
Tin!Tin!
Suara klakson membuyarkan pikiran Rio yang masih tertegun akan sikap Ara yang masih menghormatinya sebagai suaminya. Rio letakan cangkir kopinya ke meja, ia tahu siapa yang datang. Pasti itu Derry yang sudah menanti Ara begitu lama.
"A' !" Panggil Ara untuk mempercepat kepamitannya untuk pergi.
Uluran tangan Ara di abaikan oleh Rio. Rio memilih beranjak dari duduknya. Cepat ia sambar tas miliknya dan menarik cepat uluran tangan Ara.
"Eh? Mau kemana?" Bingung Ara yang menurut saja ketika Rio menarik tangannya keluar dari rumah.
Benar saja Derry sudah siap dengan baju seragam sekolahnya dan tengah menunggu Ara. Derry yang melihat munculnya Ara dan Abangnya bersamaan membuatnya tersenyum manis. Bukan karena melihat abangnya dan Ara berjalan bersama. Tapi tersenyum khusus untuk Ara.
Bagaimana tidak, Derry sudah lama membujuk Ara agar mau berangkat bersama. Dan menjemputnya ketika Ara selesai kuliah dan pergi sebentar jalan-jalan. Itu rencana Derry. Ah! Derry sungguh lupa Ara siapa.
"Ara berangkat sama Abang." Derry yang sudah memegang helm untuk Ara ia berikan. Tapi ucapan Rio barusan membuat Derry tersenyum masam.
"Apa-apaan sih, nih orang emang udah gak waras." Dalam hati Ara kesel, ia terus berusaha melepaskan pergelangannya dari cengkeraman Rio.
"Aku gak ma-" Berontak Ara tak membuahkan hasil, belum ia selesai berucap tubuhnya sudah di dorong paksa masuk ke dalam mobil Rio.
"Tapi, Ara dah janji ma gue Bang." Derry tak pasrah melihat Ara di bawa sang kakak.
"Janjinya udah di batalin. Sana lu berangkat aja ke sekolah. Lagian sekolah sama kampus beda arah." Kata Rio sembari masuk ke dalam mobil.
Derry langsung lesu, ia gebrak helm yang ia pegang sedari tadi ke body tangki bensin dengan gemas.
"Huh, dasar gak mau ngalah sama adek nya." Gerutu Derry lalu ia pun pergi tanpa Ara.
Sedangkan Arsa ia sudah masang wajah mencebik dan pandangannya tertuju ke luar kaca mobil.
Apa-apaan, Rio memang tidak bisa ketebak perangainya. Kadang dingin, ya emang sikapnya selalu dingin. Sekarang ia memaksa dirinya pergi ke kampus dengan sikap dinginnya pula. Ara benar-benar tak menyukai nya. Bagaimana bisa dirinya di jodohkan dengan balok es seperti Rio. Itu bukan tipe Ara sama sekali.
Lihat sekarang, Rio hanya fokus mengemudi tanpa berbicara sepatah kata. Entah meminta maaf atau menjelaskan kenapa Ara harus satu mobil dengannya. Ara benar-benar kesal sekali, sampai kakinya ia hentakan ke dasar lantai mobil. Rio hanya melirik ke arah Ara dengan senyum tipisnya.
Tiba-tiba di persimpangan jalan, mobil Rio berbelok ke arah kiri. Seharusnya kampus berbelok kanan. Ara bingung ketika mobil melaju tak sesuai tujuan. Duduknya Ara sampai setengah tegap memastikan arah jalan menuju kampus.
"Emang lewat sini bisa?" Tanya Ara, maklum Ara tak tahu jalan kota Jakarta. Ya wajar jika bertanya. Tapi yang di tanya malah diam membisu.
Sekian Lama Ara tak kunjung mendapatkan jawaban penghuni mobil selain dirinya. Ara menoleh ke bangku sebelahnya, dengan tatapan kesal.
"Emang lewat sini bisa?" Tanya Ara, kali ini nadanya penuh tekanan. Ara masih menatap Rio dengan rahangnya semakin menegang.
Rio hanya membalas tatapan Ara dengan wajah datarnya yang tak pernah Ara sukai. Wajah tanpa ekspresi milik Rio sungguh Ara benci. Hanya beberapa detik saja tatapan mereka bertemu. Sampai mobil yang di kendarai Rio berhenti di depan sebuah apartemen.
***
Gimana-gimana udah geregetan belum😅. lanjut gak? kalo mau like dong, sama comment di bawah. Aku kangen tahu sama kalian😂😂.