
Ara pulang di antar Gilang.
"Makasih ya." Ucap Ara ketika turun dari motor yang di kendarai Gilang.
"Sama-sama." Gilang meraih helm yang di berikan Ara.
"Sorry juga udah ngerepotin kamu." Ara tak enak hati membuat Gilang harus bersamanya seharian ini.
"Ya santai aja sih. Lagian aku seneng di repotin kamu." Kekeh Gilang.
Ara tersenyum mendengar penuturan Gilang yang berbau gombalan ala Gilang. Kenapa Gilang suka menggoda wanita mana saja yang ia temui? Padahal dirinya sudah meminang wanita.
"Hati-hati di jalan, aku masuk dulu ke dalam." Pamit Ara.
Gilang hanya mengangguk dan senyuman khasnya terukir di wajahnya untuk Ara.
Ara baru jalan berapa langkah, Gilang memanggil namanya. Otomatis Ara menoleh ke arah Gilang.
"Jangan sedih lagi ya, dan aku sumpahin nanti malam mimpi indah." Kata Gilang kemudian motornya melaju meninggalkan Ara.
"Gilang." Lirih Ara kemudian ia berbalik dan menuju pintu masuk.
Ia pulang telat 2 jam dari jam sebelumnya. Ara biasa pulang jam 8 malam. Ya bukan biasa, hanya hari kemarin saja. Hari pertama ia masuk kerja di cafe Gilang. Jam 10 malam, pertama kalinya Ara pulang selarut itu.
Kakinya melangkah ke pintu masuk. Dadanya bergemuruh, gugup pastinya. Rio pasti sudah pulang. Dan dirinya pulang telat sekali. Apalagi dirinya juga kerja tidak meminta izin kepada Rio. Tapi ia bodo amat, ia juga begini karena Rio.
"Tumben pintu gak ke kunci?" Heran Ara, tapi ia tetap melangkah masuk tanpa ragu.
Saat ia masuk ruang tamu cahayanya sangat minim. Ia berfikir mungkin Bi Imah yang memang mematikan lampu tengah. Ara menutup pintu dengan perlahan, matanya terbelalak ketika sinar lampu tiba-tiba menyala. Ara tahu itu pasti Rio, Ara hanya berdiri terpaku tak tahu harus bersikap bagaimana.
"Ehem." Dehem suara Rio menelusup masuk ke gendang telinganya, membuat Ara terperanjat. Ara tahu dari awal itu Rio, tapi dengar suaranya membuat Ara takut. Sampai Ara tak berani berbalik badan.
"Jam berapa ini?" Tanya Rio.
"Dia nanya aku?" Bhatin Ara menunjuk ke dirinya.
"Kamu gak tahu waktu, ini jam 10 Ra. Kamu kemana aja? Semalam ini baru pulang. Kamu pulang sama siapa tadi? Tadi kenapa di jam kelas kamu gak ada? Gak ngabarin aku, terus jam kuliah habis kamu kemana?" Tanya beruntun Rio, setiap pertanyaan satu langkah untuk Rio.
Ara menghela nafas panjang dan membuangnya perlahan. Kakinya ia putar mengarah dimana Rio berdiri. Tapi mata Ara tak mau melihat Rio secara langsung. Ara pun tak tahu jelas ekspersi Rio. Pandangannya terhalang ujung topi milik Gilang yang masih ia kenakan. Ara merasakan jarak diantar dirinya dengan Rio hanya beberpaa langkah kecil saja. Karena Ara masih bisa melihat ujung kaki Rio.
Ara bingung maunya Rio dirinya tuh seperti apa. Seperti binatang peliharaan, sesuka hatinya mau berbuat apa.
"A-aku, aku gak kemana-mana. Aku tadi jalan sama Tasya." Elak Ara, jujur ia sedang keringat dingin jika menghadapi Rio. Jemarinya ia eratkan pada ujung tali tas miliknya.
"Bohong!" Jantung Ara berdetak lebih cepat ketika Rio mengatakan kata tersebut.
"Siapa dia?" Ara terkejut, siapa yang dimaksud Rio?
"Siapa? Maksudnya?" Bingung Ara.
"Lelaki yang tadi anter kamu barusan." Jawab Rio, jarak mereka semakin terkikis ketika Rio terus melangkah maju.
"Di-dia Gilang." Lirih Ara karena ia sedang takut. Rio terus maju, sampai Ara kehabisan ruang untuk melangkah mundur. Tangannya meraba daun pintu, ia tersudut sekarang.
"Oh, Gilang namanya." Manggut Rio, tangannya terulur menangkup dagu Ara yang sedari tadi Ara tekuk.
"Siapanya kamu?" Nada penekanan, Ara mengangkat wajahnya. Tapi matanya ia buang ke arah lain.
"Huh! Buat apa dia bertanya, urusan apa tentang aku di tanya." Bhatin Ara.
"Temen." Jawab santai Ara.
"Bohong!" Ucap Rio nadanya naik satu oktaf. Sontak bola mata bermanik hitam mengkilat menyorot tajam ke arah Rio. Bohong, kecuali Ara mengatakan Gilang adalah kekasihnya itu baru bohong. Ara berbohong darimana.
"Jujur! Dia siapa?" Teriak Rio seraya memukul daun pintu di sisi wajah Ara. Ara terkejut mendapatkan sikap arogan Rio barusan.
"Ckck, amnesia akut." Bhatin Ara, bukanya menjawab Ara malah membuang muka.
"Bukan urusanmu." Sinis Ara dengan berwajah santai.
"Kamu!" Geram Rio, tangannya mengepal kuat dan tatapannya sungguh mengerikan. Ara hanya melirik sekilas, tapi ia masih memasang wajah dinginnya.
"Aku ini suami kamu Ra." Rio mengingatkan Ara siapa Ara sebenarnya. Hah! Waktu yang tepat.
"Hah? Suami?" Bhatin Ara remeh.
Ara mendengar itu langsung meradang. Ia dorong tubuh Rio kuat, entah kekuatan darimana berasal. Ara bisa mendorong tubuh Rio sedikit menjauh. Tapi ekspresinya menunjukan sisi pembelaan. Tersenyum menyeringai dengan tatapan sinis.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Rio. Bunyinya nyaring sekali, tangan Ara sampai kebas terasa. Ini luapan rasa amarah seharian yang ia pendam. Kini terbayarakn. Puas rasanya.
Rio menegakkan kepalanya lurus mengarah lawan bicaranya. Matanya terbaca bahwa ia sedang bingung kenapa Ara menamparnya barusan.
"Kalau kamu suamiku, lalu aku siapa? Hah!" Teriak Ara.
"Ra?" Lirih Rio.
"Sepupu! Keponakan! Budak! Simpanan! Atau apa?" Ara mendorong tubuh Rio. Mata Ara sudah mulai terasa panas. Tapi ia sembunyikan dengan baik. Awal permainan baru akan di mulai.
Rio tersadar ia memang bersalah dalam hal ini. Berkata demikian tanpa tak mau tahu tentang perasaan Ara. Jika Rio tidak mencintai seharusnya Rio bisa menjaga perasaan Ara.
"Kenapa kamu bisa aku gak bisa?"
"Kenapa kamu bisa dekat dengan wanita lain, dan aku gak bisa?" Setiap kalimat yang di ucapkan Ara terdengar santai, rasa emosi Ara benar-benar bisa di sembunyikan
"Dan kenapa kamu bisa punya hubungan lebih dengan wanita lain dan aku? " Bergetar bibir Ara mengatakan itu.
"JAWAB!" Teriak Ara lalu mendorong Rio lebih keras. I
Rio ling lung. Rio bertanya seperti tadi tak melihat dirinya seperti apa. Kenapa Rio seperti terlihat lelaki yang suka memainkan perasaan wanita . Jujur hatinya sakit ketika Ara berbicara apa adanya.
"See? Gak bisa jawab kan." Sesak dada Ara menahan keinginannya menangis.
"Kita memiliki status sama. Kamu suamiku..." Ara menunjuk ke arah dada Rio.
"Dan aku istrimu." Tunjuk Ara sendiri.
"Itu masalah status, bukan hati. Raga kita menyatu, tapi nggak dengan perasaan." Bergetar hebat bibir Ara mengatakan ini. Tapi Ara harus mengatakan semua ini.
Hati Rio seperti tersayat-sayat mendengar kalimat Ara dari awal. Sampai ia tak kuasa bersitatap dengan Ara. Sama halnya dengan Ara. Dadanya pun terasa sesak dan ngilu.
_____