Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 54


"Hei! " Sapa Angel dari balik pintu menghampiri Ara yang sedang sibuk dengan taman mini yang ia buat dua minggu lalu.


Ara yang merasa terpanggil menoleh ke kebelakang. Canggung ketika Angel datang menghampirinya. Angel tersenyum pada Ara.


"Hai!" Senyum Ara lalu ia lanjut kesibukannya.


Angel mendekati Ara yang tengah berjongkok Angel berdiri persisi di sisi Ara.


"Tinggal di sini udah lama?" Tanya Angel, membuat Ara bereaksi aneh.


"Ya, dua minggu lebih mungkin."


"Lo deket banget sama Rio dan Derry juga. Sampai-sampai dua hari tidur di kamar lo si Rio. Sedeket itu? " Angel sudah mulai merasa ada keanehan dalam hubungan Rio dan Ara.


"Deket sih gak, tapi kita kan suami istri wajar kan tidur satu kamar?" Bhatin Ara geli sendiri yang harus masuk ke dalam sandiwara aneh seperti ini.


"Gak juga kok. " Jawab datar Ara.


Ara tancapkan sekop mini nya ke dalam olahan tanah. Ia berdiri, Ara menatap ke arah Angel yang juga ikut menatap dirinya.


Ara tersenyum tipis, lalu meninggalkan Angel sendiri. Angel merasa dongkol yang hanya mendapatkan jawaban tak sesuai yang ia inginkan. Angel menatap Ara pergi dengan kesal.


"Sumpah banget males ketemu terus ngomong sama laler. Bawaannya mau nyakar tuh muka. Au, ah bete jadinya." Lirih Ara berjalan menuju dapur. Ia cuci tangan, kemudian membuka pintu kulkas untuk mengambil air dingin. Ara ambil ponsel miliknya di saku celana. Ia cari kontak nama, scroll, scroll. Tekan kontak nama Tasya lalu,


"Hallo Sya?"


"...."


"Di kos an?"


"...."


"Iya, aku boleh main ke sana gak? Kamu gak sibukan kan? Aku bosen nih dirumah." Ucap Ara dengan mendengus kesal.


"...."


"Oke! Kirim alamatnya ya, aku langsung otw." Semangat Ara.


***


Ara keluar dari pintu depan, Ara tadi hanya mengambil tas dan barang seperlunya. Dan menambahkan polesan make up tipis. Ara bersenandung kecil dengan riang di saat berjalan. Tapi bisa di bilang apes, ia pas berpapasan dengan Rio yang baru saja pulang entah habis dari mana.


Sejenak mereka saling berhenti dan menatap. Ara tebak Rio sedang kacau. Mukanya terlihat kusut. Tapi bodo amat, Ara cuek, dia pilih lanjut berjalan.


"Eh?" Tersentak Ara lagi-lagi Rio suka menarik lengannya.


"Lepas!" Lirih Ara sesekali melihat pintu masuk dengan rasa was-was.


"Mau kemana? "Tanya Rio.


Masih berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Rio, "Mau ke rumah temen."


"Aku anter ya?" Tawar Rio.


"Oke, aku bakal lepasin tapi aku mau ngomong sebentar sama kamu."


"Ck, nanti aja bisa gak? Aku buru-buru." Ara tidak mau nanti Angel lihat lalu menimbulkan pertanyaan dan berujung masalah. Ara paling males berurusan dengan masalah.


"Sebentar aja." Paksa Rio yang semakin kuat menahan Ara.


"Rio, tolong jangan masukan aku ke dalam lubang permasalahan kamu sendiri. Aku capek, aku males ribut. Toh kita udah sepakat kita berdua harus hidup seperti di dimensi lain. Aku udah ngelakuin apa yang kamu mau. Sekarang aku cuma kamu minta lepasin tangan aku dan izinin aku pergi." Ungkap Ara


Tiba-tiba....


Rio dan Ara yang sedang berargumen langsung mendadak menoleh bersamaan ke arah pintu.


"Kalian lagi apa?" Angel bertanya dengan ekspresi kaku melihat Ara dan Rio ternyata yang di depan.


"Aku keluar denger ada suara keributan di sini, ternyata..." Mata Angel langsung menangkap situasi dimana Rio memegang pergelangan tangan Ara. Ara sadar lalu cepat berusaha melepaskan tangannya dari Rio.


Rio tak melihat Ara sama sekali ataupun melepaskan tangannya.


"Ki, kita tadi...." Bingung Ara.


"Gara-gara nih balok es, otaknya pun ke beku juga." Geram Ara dalam hati. Bukanya cepat memberi alasan ke Angel malah diam.


"Katanya mau anter aku, ya udah ayo." Sekarang tangan Ara berbalik menggenggam lengan Rio. Rio tersentak dan melihat pergelangannya tengah di genggam oleh Ara.


"Tadi kita ngeributin masalah aku minta anterin pergi tapi Rio nya gak mau. Jadi kita debat kecil-kecilan, tadi" Nyengir Ara.


Angel tersenyum terpaksa, dia merasa ada yang aneh. Apalagi tatapan Rio ke Ara sungguh beda.


"Oh, kirain ada apa? Ya udah Rio anter Ara. Dia kan belum tahu jalan di Jakarta takut salah jalan." Kata Angel mencoba ikut membujuk Rio.


Ara lega sedikit, akhirnya bisa menghirup udara lagi. Kacau, dia tuan rumah, dia istrinya pula sah di mata agama, sah di mata negara. Tapi kelakuannya kayak selingkuhan. Hadeh!


Rio tersenyum tipis ke arah Ara. Ara sedikit terkejut dengan ekspresi Rio tadi. Perasaanya tidak enak tiba-tiba. Bahkan genggaman Rio tidak sekuat tadi. Ara bergidik ngeri.


"Aku nawarin tadi, sekarang malah bilang aku yang gak mau anter. Nakal! " Rio menjawil hidung mancung Ara.


Demi apapun petir, halilintar, gledek, syok jantung Ara mendengar Rio berkata demikian. Jantungnya seperti sedang mengacu adrenalin saja. **** !


Angel dia seperti tertimpa bogem sebesar ukuran gajah menjatuhi dirinya. Apa-apaan kemesraan yang sedang terjadu terlihat jelas di depan mata.


Kenapa sikap Rio mendadak manis. Sejak Angel kembali bahkan di masa dulu ia bertemu hingga pacaran dengan Rio. Rio sama sekali tak pernah menunjukan sikap manisnya.


Sebatas pegangan tangan dan saling candaan. Kecurigaan Angel semakin membesar saja. Tapi ia tutupi dengan senyumannya.


Ara terbelalak, masih diam tanpa kedip. Jantung ini seakan mau lari marathon. Ara tahu Rio sudah melakukan hal lebih sekedar menjawil hidungnya. Tapi sekarang di lakukan di depan pacarannya, bukan tepatnya selingkuhan mungkin.


"Dasar Rio balok es, otak kelamaan membeku sampe gak berfungsi dengan baik apa. Bisa-bisanya dia seenaknya bicara sembarang. Tadi aku berusaha menyelamatkan dirimu dari pacar mu agar tidak curiga. Eh sekarang jorokin diri sendiri. Malah ngajak aku lagi." Bhatin Ara, rasanya ia ingin nepuk jidat..


"Ayo kita jalan. Anter ke alamat mana?" Rio main tarik aja menuju mobilnya.