Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 46


"Jadi mulai sekarang kita sama-sama gak usah ikut campur tentang perasaan masing-masing, dan hubungan masing-masing. Cukup status ini kita yang tahu, itu kan yang kamu mau."


Ya awalnya itu Rio yang mau. Tapi ketika Ara berucap demikian kenapa hatinya yang tak rela. Ini menandakan merenggangnya jauh hubungan antara mereka.


"Dan itu artinya kita jalani hidup masing-masing. Satu atap, namun beda dimensi. Kita putuskan tanggung jawab kita masing-masing mulai hari ini. Di saat di rumah tidak ada kata tanggung jawab seorang suami, dan tanggung jawab seorang istri." Tegas Ara.


"Detik ini juga, ayo hidup seperti orang tak saling mengenal satu sama lain. Dan jangan pernah ikut campur hubungan siapa pun di antara kita." Akhir dari semuanya, Ara cukup lega mengatakan hal ini semua.


Biarlah semuanya begini saja. Toh, kita tak saling jatuh hati. Agar semuanya jelas, perlahan akan kembali pada tempatnya. Jika sudah pada tempatnya nantinya tak ada hati yang terluka.


Rio sendiri terdiam tak tahu harus berbuat apa, berkata apa. Dirinya lah yang salah, dirinya yang tak pernah menghargai Ara. Dirinya yang membuat Hubungan ini semakin renggang. Pernikahan mereka sebatas status, semuanya kehendak kedua orang tua mereka.


Jika tak ada yang mau memulai hubungan pernikahan dengan baik-baik saja. Lebih baik seperti ini, biarlah awalnya terluka. Ketika nanti pergi bisa melangkah tanpa ada perasaan lebih.


Ara pergi meninggalkan Rio menuju kamar di lantai atas. Air mata tak ada yang luruh ketika tadi menyerukan perasaannya. Tapu sekarang luruh bebas, mengeluarkan rasa sakit teramat.


"Kenapa bisa sesakit ini? Kenapa bisa sesesak ini? Kenapa? Bukanya tidak ada perasaan, bukannya tak ada harapan untuk memulai rumah tangga dengan baik. Bukannya Rio sudah memilik kekasih hati. Semuanya nyata, semuanya benar-benar adanya. Bukannya ini yang kamu mau Ra? Menjauh sejauh-jauhnya. Pergi dan lupakan Rio." Bhatinnya, ia berlarian dengan air mata mengalir deras.


Ara tutup pintu kamarnya dan mengunci diri di dalam kamar. Bersandar, lalu menjatuhkan diri di balik pintu. Ia benamkan wajahnya di antara kedua lututnya, agar meredam suara tangisnya.


Sejujurnya dirinya sudah jatuh hati dengan Rio. Entah kapan ini terjadi? Bahkan Ara sendiri menolak keras bahwasanya ia benar-benar jatuh hati.


Apakah ini rasa sakitnya patah hati? Apakah harus sesakit ini, sesak terasa. Sekedar bernafas saja sulit meratapi takdir serumit ini. Harus bagaimana? Apakah dirinya harus bercerita pada kedua orang tuanya? Atau gimana?


***


Ara membuka matanya ketika secercah cahaya menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Hari ini Ara lelah sekali, tidak bersemangat. Bahkan dirinya tertidur di lantai, kepalanya terasa pusing. Ia pijat pelan dahinya.


"Jam berapa?" Ara meraih ponsel melihat waktu, ternyata pukul delapan pagi.


Hanya ada kelas jam sepuluh nanti. Ara sedikit santai, ia berusaha berdiri dengan kepala terasa berputar-putar.


"Ya ampun sakit banget." Adu Ara sembari terus memijat pelipisnya, dan kakinya tetap melangkah ke kamar mandi.


Wajahnya ia masih dengan air, dirinya melihat di pantulan cermin wajahnya sangat kusut. Mata sembab, dan kantung mata tebal. Pandangannya sayu sekali. Ara tersenyum tipis melihat keadaan kacaunya sekarang. Baru ini ia merasakan menderita yang benar-benar menderita.


Ara tak pernah jatuh hati sama siapa pun. Sekali jatuh hati harus kepada orang yang salah. Tertawa sarkas, dirinya benar-benar menyedihkan jika tentang asmara.


***


Tadi jam tujuh pagi.


"Bi Ara udah turun?" Tanya Rio yang menuruni anak tangga menuju meja makan.


"Belum Tuan." Geleng Bi Imah.


Rio menatap ke arah pintu kamar Ara yang tertutup. Wajahnya berubah sedih, memang dirinya keterlaluan sekali pada Ara. Hati kecilnya ingin mengatakan kata maaf pada Ara, ia sadar dirinya yang salah. Sudah selayaknya jika merasa bersalah harus berucap maaf. Tapi ia ingat kata-kata Ara semalam. Ara sudah memutuskan hubungan mereka, dalam arti status pernikahan mereka tetap tapi tidak boleh saling mendekat. Status pernikahan mereka hanyalah di mata kedua orang tua masing-masing. Selain itu seperti orang tak saling mengenal. Miris memang, tapi ini kenyataannya.


***


Ara baru turun, bunyi sepatu hak tinggi menapak lantai tangga membuat Bi Imah dan Rio menoleh ke arah sumber suara. Pandangan mereka terpaku melihat Ara terlihat berbeda.


Biasanya Ara hanya memakai sepatu kets atau flat shoes saja. Tapi pagi ini memakai sepatu hak tinggi. Bukan hanya berganti sepatu saja. Tapi penampilannya, Ara terlihat anggun memakai dress polos berwarna biru langit di bawah lutut. Rambut yang di gelung rapih dan menyisakan anak rambut di bagian telinga agar menjuntai. Dengan riasan tipis di wajah menambah cantik serta manis.


"Bi, Neng langsung berangkat." Ara melewati Rio begitu saja lalu meraih tangan Bi Imah untuk menciumnya.


"Loh, kok buru-buru, sarapan dulu."


"Gak deh Bi. Gilang udah nunggu Ara di depan." Tolak Ara.


Hah! Gilang ! Telinga Rio masih normal kok. Kenapa mendengar nama tersebut, darah Rio mendidih.


"Bareng sama aku ke kampus." Rio tiba-tiba berdiri.


Ara melirik sinis, dia lupa apa yang di katakan Ara tadi malam. Giliran Ara berias saja dia langsung mengajak, apa jika Ara tak berias terlihat burik di matanya. Ara geram sekali, ingin menggetok kepala Rio sekarang juga.


Ara cuek, tak menjawab pula. Ara lihat Rio sudah mengambil kunci di meja ruang tv. Apa-apaan Ara belum berkata iya atau tidak, kenapa dia percaya diri sekali.


"Bi, kita berangkat. Assalamualaikum! " Pamit Rio serta menarik tangan Ara.


Ara terkejut ketika Rio menarik tangannya, sontak Ara berusaha melepas genggamannya.


"Hey, lepas! Lepas!" Berontak Ara , Rio tak perduli.


"Aku gak mau berangkat sama kamu Rio." Sentak Ara.


Langkahnya terhenti ketika baru ingin di ambang pintu keluar. Jantung Ara kenapa berdebar di saat tidak tepat. Kenapa melihat sikap dingin drastis Rio menakutkan sekali? Membuat Ara melemah berontaknya, menelan ludah saja sampai sulit.


Tubuh Rio berbalik, dan mata Rio menyorot tak suka, gengamananya malah berubah semakin kuat. Ara ketakutan hingga mundur beberapa langkah. Jantungnya berdebar hebat. Kenapa jadi dirinya yang di sudutkan.


"Kenapa?" Tanya Rio dengan nada dingin serta tatapan mematikan, rahang mengeras.


"Sial !" Umpat Ara kenapa sekarang dirinya takut. Bahkan Ara sering mengalihkan kontak mata dengan Ara saking takutnya.


Ara memberanikan diri memberontak kembali setelah persekian detik. Tapi cengkeraman Ara semakin kuat. Pergelangan tangan Ara sampai terasa sakit.


"Aku udah bilang tadi malam, mulai sekarang kita hidup di dimensi lain. Anggap saling tidak ada jika kita bersama. Aku fikir itu udah cukup jelas." Jelas Ara.


Hati Rio terasa tertusuk belati tak berwujud, namun sakitnya terasa nyeri hingga di ulu hati. Rio berfikir Ara akan melupakan masalah tadi malam. Tapi kenyataanya itu memang adanya. Ara benar-benar ingin hubungan yang di satukan oleh kedua orang tua mereka harus berakhir perlahan.


Bukannya ini yang di inginkan Rio dari awal. Tapi kenapa sakit sekali Ara berkata seperti itu. Tak rela jika benar-benar terjadi menjauh dari Ara. Rio tak tahu kenapa dan ada apa dengan dirinya sekarang. Rio mencintai Angel, tapi tak rela berpisah dengan Ara. Rio bingung, ingin melepas gengagamannya dari pergelangan tangan Ara. Tapi semakin ia berusaha melepaskan tangan Ara semakin mengerat saja.


"Lepas!" Sentak Ara, ia terlepas dari gengaman yang menyakitkan pergelangan tangannya. Lihat, sampai meninggalkan bekas memerah di kulitnya.


Rio masih terpaku, kata demi kata dari Ara masih memutar di dalam kepalanya. Ara menatap kesal lelaki di depannya ini.


"Awas! Aku mau lewat !" Ara menyingkirkan tubuh Rio yang menghalangi pintu keluar.


"Aku izinin kamu pergi dengan dia." Rio lagi-lagi menahan Ara.


"Mau apa lagi sih?" Kesal Ara yang berusaha lagi melepas pergelangan tangannya dari Rio yang kembali Rio genggam kuat.


"Tapi kamu ganti penampilanmu sekarang!" Perintah Rio.