Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 61


"Wait!" Ara tak sengaja melihat wajah Derry yang lebam di sekitar bibir saat Ara ingin memberikan helm kepada Derry.


Derry sadar, ia lupa untuk menutupi luka lebam. Alhasil ia berusaha menyembunyikan lukanya dari Ara.


Tapi Ara panik, dan khawatir tentang luka lebam tersebut.


"Derry, kenapa kamu lebam kayak gini?" Tanya Ara yang berusaha menahan tangan Derry untuk tidak menutupi luka tersebut.


"Lu, luka apa kak?" Pura-pura tidak tahu, tapi masih berusaha menutupinya.


"Luka apa? Liat sampai lebam begini, kamu berantem ya?!" Ara mendelik ke arah Derry.


Derry cepat menggeleng dan mengatakan tidak.


"Siapa yang berani mukul kamu, hah, bilang sama aku!"


"Luka kecil doang kak."


"Luka kecil kamu bilang," Ara memukul bahu sang adik ipar dengan keras hingga Derry mengerang kesakitan.


"Kamu tuh udah kelas 3 SMA masih berantem-berantem aja, ini baru pipi kamu yang lebam. Belum semuanya!" Ara menunjuk-nujuk ke seluruh tubuh Derry.


"Siapa, kasih tahu aku, biar aku..."


"biar aku apa?" Derry melanjutkan kalimat Ara yang sempat terpotong tadi olehnya.


Ara langsung kicep, ia dirinya bakal melakukan apa jika ia benar-benar bertemu dengan orang yang telah memukuli Derry.


Sedangkan Derry yang lelaki saja bisa babak belur, apalagi dirinya hanya wanita yang mungkin tak mampu menjaga dirinya sendiri. Malah berlagak ingin menantang.


"Bakal, bakal..." Ara terlihat berfikir sejenak.


"Bakal apa?" Tanya Derry sekali lagi di ikuti senyum ledekan untuk Ara yang sok berani.


"Bakal aku ajak ke cafe, duduk bareng, terus nyelesein masalah dengan kepala dingin," Ara mengatakan hal tersebut dengan percaya diri.


"Hahaha!!" Gelak tawa Derry.


Ara malu sebenarnya mengatakan hal tersebut, tapi dengan tebal muka ia tunjukan ke Derry.


"Serius!" Yakin Ara.


Ara ada-ada saja, kenapa juga dirinya berfikir demikian membuat Derry gemas saja kepada Ara.


"Iya, iya aku percaya," ucap Derry dengan masih tertawa.


"Ara..." Suara toa terdengar dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan Tasya.


Ara yang namanya di panggil sontak melihat ke arah sumber suara, Derry pun menoleh ke arah yang sama.


Dengan cepat Ara melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar ke arah Tasya. Tasya pun berjalan mendekati Ara.


"Kalau gitu, aku pergi ya kak..." pamit Derry.


"Ah, iya, sekali lagi makasih ya udah anter aku, pasti kamu telat," Ara tak enak hati membuat Derry telat ke sekolah yang memang arah kampus dan sekolah Derry tidak searah.


"Iya sama, nanti aku jemput ya," belum sempat Ara membalas, Derry keburu pergi.


"Ha, ish belum juga bilang iya," kesal Ara melihat Derry pergi begitu saja.


"Cie, berondong nih ye," ledek Tasya datang-datang meledek Ara.


Berulang kali Tasya menyeggol bahu Ara hampir terjatuh.


"Apasih?"


"Kasih tahu dong cara gaet berondong, aku kan mau."


"Cuma temen Sya, udah yuk ke kelas!" Ara pergi begitu saja tanpa menghiraukan rengekan sang sahabat.


"Ih, pelit!" Tasya menhentakan kakinya dengan bibir manyun.


***


"Kamu tuh kalau punya ilmu bagi-bagi kenapa?" Tasya masih saja mengerecoki Ara.


"Tularin dikit kek ilmunya gak papa, kasihanilah aku yang jomblo ini R."


"Tasya aku gak ada keahlian apapun, dia cuma temen kok gak lebih," ungkap Ara.


Ara pusing di recoki Tasya, ingin jiwanya keluar dan mengatakn dia adalah adik iparnya sendiri mana mungkin bermain api di belakang sang suaminya yaitu kakak kandung dari Derry.


"Bohong, kalian serasi tahu," tak percaya Tasya.


Ara menghela nafas panjang, sepanjang koridor Tasya terus bertanya itu tak itu sampai depan pintu kelas mereka.


"Ar..."


Kelihatannya dosen pun baru masuk, jadi Ara dan Tasya bisa bernafas lega.


Ara berjalan mendekati bangkunya, Rio sedari tadi sibuk membaca buku. Namun saat Ara mendekati kursinya, mata mereka saling bertemu sepersekian detik.


Memang seperti biasa, di kampus mereka menutup rapat hubungan mereka. Jadi walau bertemu mereka seperti tidak saling kenal.


Mata mereka bertemu, perasaan Ara tidak baik setelah menatap mata Rio walau sepersekian detik. Tapi isyarat mata Rio laksana mematikan. Walau begitu Ara halau fikiran negativ nya.


45 menit selesai sudah akhir pertemuan hari ini. Satu persatu mahasiswa pergi meninggalkan kelas.


Tidak dengan Ara, Ara seperti sedang menerima telpon.


"Iya Bunda, weekend besok Ara pulang, iya, iya," ternyata Bundanya.


"Ara aku keluar duluan ya, aku tunggu di kantin!" Bisik Tasya.


"Ok!" Angguk Ara.


"..."


"Temen Ara Bund."


"..."


"Iya Bunda sayang, Ara janji weekend besok Ara pulang," janji Ara.


"..."


"Rio baik-baik aja Bunda, hah?!"


"..."


"Gak usah lah Bund, Rio akhir-akhir ini sibuk, Ara takut ganggu Bunda."


Bunda ingin Ara pulang setelah pernikahan di gelar di rumah mereka. Sudah lama Ara tak pulang, tadinya Bunda sangat sungkan untuk menyuruh sang anak pulang karena sudah bersuami.


Namuj rindunya mengalahkan rasa itu semua. Akhirnya Bunda menelpon sang anak setelah sekian lama ia jarang mendapat kabar dari sang putri.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Bunda ingin Ara datang dengan Rio.


Ara sendiri, mau-mau saja jika datang bersama Rio. Apalagi ini permintaan sang Bunda, Ara sama sekali tak mau mengecewakan permintaan apapun jika menyangkut tentang Bunda.


Menikah di usia muda dan di jodohkan saja Ara mau. Apalagi hanya membawa suaminya itu. Tapi untuk kali ini Ara sama sekali tak ingin berhubungan dengan Rio.


Karena baru semalam mereka ribut, bisa di bilang Ara gengsi untuk mendahuluinya.


"Usahakan Ra, Bunda maunya kalian berdua harus datang!" pinta Bunda dari jauh sana.


Ara berfikir sejenak, ia gigit bibir bawahnya. Ia bingung harus menjawab apa.


"Ara kan anak Bunda, Bunda kangen sama Ara aja, lagian Rio gak bis..." smartphone Ara tiba-tiba di rampas oleh seseorang dari tangannya.


"Eh, hape ku!" Ara terkejut siapa yang mengambil alih telponnya.


"Rio..." gumam Ara.


Sejak kapan Rio di sini, iya tahu mereka satu kelas. Cuma Ara merasa di ruangan ini hanya dirinya seorang. Ia yakin semua orang sudah keluar. Apa dirinya tidak benar-benar memperhatikan sekitar.


"Assalammualaikum," awalan dari Rio.


"Ini, waalaikumsalam, ini nak Rio?" Ibu mertuanya terdengar senang.


"Maaf Bunda, Rio belum ada waktu ajak Ara pulang ke Bandung. Tapi Rio janji, minggu ini Rio sama Ara bakal pulang," kata Rio, pastinya membuat Bunda Ara berbunga-bunga mendengar hal ini.


"Bunda tunggu Nak, masyaallah Bunda seneng banget dengernya," ucap Bunda.


Ara yang mendengar hal itu, ia tak terima. Tak keterimaannya hanya ia simpan di hati. Malas jika harus berdebat, ia memilih diam saja. Terserah Rio berbicara apa kepada Bundanya. Ara menatap papan tulis, sedangkan Rio duduk di kursi yang biasa di tempati oleh Tasya sambil ngobrol dengan ibu mertuanya.


Brak!!


"Kaget woy!" Reflek Ara mendongak ke atas melihat wajah seorang yang main gebrak meja miliknya ketika Ara sedang melamun.


"Gak lucu!" Melotot Ara ke arah Rio, ia kaget berakhir kesal.


"Yang mau ngelucu siapa?" Ucap Rio songong.


Ara membuang wajah, ia ambil smartpohen miliknya di atas meja ke dalam saku bajunya.


"Bodo amat, awas aku mau pergi," pinta Ara, masalahnya Rio me-blocking kursinya untuk Ara tidak bisa pergi dengan mudah.


"Rio..." Dongak Ara ke atas untuk bisa memperlihatkan wajah kesalnya ke Rio.


"Ara..." bukannya takut ketika Ara menunjukan wajah galaknya, Rio semakin berani mengikis jarak antara wajah mereka sampai Ara harus menghindarinya.


***