
Ara mengulet ke sana kemari. Rasa untuk bangun dari tidur sangatlah malas. Di tambah cuaca di luar sedang mendung, karena sedari tadi telinganya menangkap berulang kali suara gemuruh dari atas langit. Dan pula kemarin malam ia tidak benar-benar bisa tidur dengan baik.
Sebenarnya ia akan pergi ke Bandung hari ini untuk berkunjung ke rumahnya. Namun ia urung, sehari saja ia ingin meliburkan diri. Tapi entah mengapa walau hawanya ingin tidur lebih lama tapi dirinya tidak bisa untuk terus memejamkan mata. Terpaksa ia harus membuka mata.
Pertama kali yang ia lihat adalah Rio di sisinya dengan tengah memandangi dirinya tanpa berkedip sama sekali. Sontak membuat Ara ingin terbangun duduk, tapi keburu di cegah Rio. Rio menarik tubuh Ara masuk ke dalam pelukannya lalu menyelimuti diri mereka berdua.
"Cuaca tidak lagi bagus, di luar sedang mendung." Bisik Rio tepat di telinga Ara.
Posisi Ara di peluk Rio menyamping kiri. Ara pun bisa melihat di luar jendela balkon kamar. Terlihat langit sangat gelap di selingi angin bertiup kencang, gemuruh yang bergantian, tak jarang kilat pun turut menghiasai langit gelap pagi itu.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Ara yang masih menatap luar jendela.
"Jam setengah delapan," bisik Rio.
Ara menelan salivanya kasar, bisikan Rio membuat tubuhnya bereaksi memanas. Jantungnya yang berdetak normal kini bertahap semakin cepat.
DUARRRR!!!
Kedua mata Ara membulat seiringnya kilat cahaya menghiasai langit dengan suara menggelegar memekakkan telingnya. Itu terjadi tepat di depannya. Bahkan terlihat jelas. Ara pun reflek berbalik badan, mencari persembunyian yang aman. Ia benci suara petir.
Bahkan saking takutnya Ara menutupi kedua telinganya menggunakan tangannya lalu memejamkan matanya erat-erat.
Biasanya ketika cuaca seperti ini Ara akan berlari menuju Bundanya untuk bersembunyi dengan memeluknya erat dan memejamkan mata. Ia akan merasa nyaman dan aman. Apalagi ketika menghirup aroma khas Bundanya.
Tapi sekarang tidak ada Bunda di sisinya. Ia harus mengandalkan dirinya sendiri. Walau sebenarnya ia sedang takut, kilat dengan suara yang menggelegar itu terus terjadi. Dan itu semakin membuat dirinya ketakutan.
Entah sejak kapan ia memiliki ketakutan tersebut. Pertama kali yang ia ingat saat usia lima tahun. Ia mulai berani tidur sendiri di kamar miliknya. Sebelumnya ia akan merengek dan menangis karena Ayah dan Bundanya selalu memaksakan dirinya untuk tidur sendiri tidak lagi tidur dengan mereka.
Saat itu Ara menolak dan selalu berkata ia takut sendiri. Dan saat itu pun ia berjanji pada Ayah dan Bundanya jika dirinya berusia lima tahun ia akan tidur sendiri. Akhirnya Ayah dan Bunda menyetujui.
Dan saat umur lima tahun, Ara menepati janji. Ia memberanikan diri untuk tidur di kamarnya sendiri untuk pertama kalinya dan pada saat itu kondisi sedang hujan tanpa petir ataupun suara gumuruh sama sekali. Ya hanya hujan deras malam itu.
Tapi saat tengah malam, hujan tak kunjung reda. Dan kilatan dan suara gemuruh bersautan di langit sana. Hingga suara petir yang sangat keras mengejutkan Ara pada malam itu. Ia terkejut, lalu bangun. Dan yang ia lihat kegelapan dan hanya kilatan menerangi kamarnya sebagian di barengi suara petir.
Ara teriak dan ketakutan. Ia mulai menangis dan mulai memanggil Ayah dan Bundanya agar segera menemuinya.
Kenangan yang buruk, hingga saat Ara dewasa ia masih ketakutan. Walau semakin dewasa ia tidak takut tidur sendiri. Tapi kegelapan dan kilatan hak yang ia sangat benci.
Rio termenung melihat Ara begitu ketakutan. Terdengar sama-samar Ara memanggil Bunda dengan bibir bergetar. Ternyata Ara sangat takut dengan kilat.
"Kamu takut?" Tanya Rio berbisik.
Ara tidak menjawab, ia terus memanggil Bundanya berulang kali.
"It's okey," Rio mengecup kening Ara dengan lembut. "Ada aku di sini." Bisiknya seraya memeluk tubuh Ara erat.
"Semuanya akan baik-baik saja. Nggak ada yang perlu kamu takuti." Ucapnya lembut agar membuat Ara semakin tenang.
"No, it's scary!" Bisiknya namun tegas. Karena kilat tersebut terus menggelegar.
"Peluk aku, peluk aku." Arah Rio karena Ara semakin tak terkendali.
Ara menggeleng, ia takut sekali. Biasanya sang Bundalah yang menenangkannya dengan mudah. Dirinya merasa lemah jika menghadapi sesuatu yang membuat dirinya takut.
"Ara, lihat aku! Buka matamu!" Pinta Rio.
Ara tetap menggelengkan kepalanya. Ia sangat takut. Ia tak berani.
"Kenapa?! Ini cuma kilat, nggak akan menyakiti kamu!" Ujarnya.
"Tapi aku takut!"
Ara tidak mau menurut, apalagi mendengar Rio. Rio pun kembali memeluk Ara agar sedikit tenang. Ia tak tahu jika Ara begitu takut dengan kilat. Dirinya pun tak tahu harus melakukan apa jika Ara ketakutan begini. Yang ia hanya bisa lakukan hanya memeluknya dan bebicara bahwa ini akan baik-baik saja.
Ara benci hari ini. Suara kilat terus bersahutan, hujan semakin deras. Ara berdoa agar hujan dan kilatnya segera mereda. Ia bahkan lebih benci pada dirinya sendiri yang begitu takut hanya dengan sebuah kilatan.
Tapi semakin lama ia mulai terkendali. Ia lebih merasa aman dan tenang. Apalagi ketika dirinya memeluk tubuh Rio, bahkan aroma tubuhnya sama halnya aroma Bunda yang dapat menenangkannya. Ara resapi betul aroma khas Rio, semakin di hirup ia semakin tenang. Bahkan kini pelukannya semakin erat.
____
Satu jam telah berlalu, Ara membuka matanya kembali. Ia sadar suara kilat tidak lagi terdengar namun masih hujan tapi tak sederas tadi. Ia baru menyadari ternyata ia tidur. Dan baru menyadari ia tidur tengah memeluk sebuah guling hidup, besar, beraroma, dan hangat.
Ara melihat di depannya ada sebuah sesuatu yang tak asing baginya. Kenyal, berotot, dan berbidang ya itu dada telanjang Rio. Ara pun mendongak ke atas, ia tersenyum masam ternyata Rio tidak tidur.
"Maaf," ucap Ara sembari menarik diri dari tubuh Rio.
"Udah baikan?" Tanya Rio.
"Udah, ka-kalo gitu aku, aku mau mandi," katanya dengan gugup.
Ara berbalik badan dengan merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus tidur di dan memeluknya? Baru kaki kanan hampir memijakan di lantai. Rio menarik kembali Ara dan memeluknya dengan erat.
"Rio, aku mau mandi!" Ujar Ara berusaha melepaskan diri.
"Tanggung jawab!" Bisiknya tanpa mau melepas Ara.
Ara mengerutkan dahinya mendengar ucapan Rio.
"Tanggung jawab apa?!" Tanyanya menatap Rio.
"Kamu tidur di pelukan aku." Jawabnya gamblang.
Ara semakin tidak paham dan malahan semakin gila mendengar jawaban Rio.
"Kenapa kamu hamil? Luka? Lecet kulitnya gara-gara aku sentuh kulitmu? Atau berdarah? Dimana bilang, kasih tahu aku?!" Ara terus berbicara dan mencoba mencari apa yang harus di pertanggung jawabkan olehnya dengan mencarinya di dada bidang Rio dari dalam selimut.
Rio menarik panjang nafasnya, ia memijat-mijat keningnya. Rio sedang menahan sesuatu di sana yang amat menyiksanya sedari tadi.
"Dimana tunjukin!" Ara menyembul dari dalam selimut ketika mencari-cari apa yang harus ia pertanggung jawabkan.
"Mana?!" Ara berbicara begitu dekat, membuat Rio tersipu malu. "Nggak ada yang lecet, luka, ataupun berdarah. Jadi aku mau mandi!" Ucapnya setelahnya ia ingin beranjak dari tempat tidur.
Rio memejamkan matanya sejenak, ia bangun hampir duduk. Ara yang hampir turun dan menyibakkan selimut, kembali Rio menarik lengan Ara hingga Ara tersungkur di depan 'nya' tanpa sehelai kain yang menutupinya. Benar-benar polos, bersih, besar menjulang ke atas.
Ara terkejut bukan main, ia sampai tak mengedipkan mata. Ini pertama kalinya dalam 18 tahun ia hidup belum melihat 'hal' milik seorang lelaki. Pipinya bersemu merah, dengan jantung berdetak tiga kali berkerja. Menelan air liurnya saja susah sekali.
Untung tadi ia menahan diri ketika Rio menarik lengannya begitu kuat. Jika tidak, mungkin bukan lagi melihat setiap sisinya bahkan bisa merasakan apakah keras, lembek, lembut, atau kasar.
Rio semakin malu, begitu lama Ara memperhatikan hal yang ia jaga. Ia menutupi kedua matanya saking malunya.
"Udah puas liatnya?!" Tanya Rio.
****