Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 105


"Papah kemana, Mah? Ara gak lihat dari tadi," tanya Ara.


"Papah, papah lagi ada kerjaan di luar kota. Baru kemarin aja berangkat," jawab Mamah Fani.


"Sebenernya, Mamah nyuruh kita ngumpul begini ada apa?" tanya Derry yang terlihat gelisah seperti ingin mengakhirinya.


"Sabar, tunggu Abangmu," kata Mamah Fani.


"Ish, lagian kemana sih Bang Rio?" kesalnya karena tidak sabar Derry ingin beranjak untuk memanggil Rio.


"Bentar lagi juga datang, sabar Derry," ucapnya. "Nah, itu Abangmu."


Rio datang setelah 10 menit setelah Ara keluar dari kamar mandi. Entah apa yang di lakukan Rio selama itu. Yang jelas, wajahnya sangat frustasi sekarang. Ara pun menyadari kedua matanya terlihat sehabis menangis. Walau sudah Rio tutupi dengan sisa-sia air yang sengaja ia basuh untuk menutupinya.


"Kemana sih lu, Bang. Lama banget," protes Derry yang kembali duduk.


"Diem lo,"titah Rio.


Rio duduk di samping Derry, berhadapan dengan Ara. Ia duduk menyandar, matanya menatap ke bawah. Dengan kartu ATM milik Ara masih ia genggam.


"Apa ucapan aku keterlaluan, ya. Sampai-sampai dia nangis," batin Ara yang sedikit bersalah.


"Ayo, Mah. Bang Rio udah di sini," gerundel Derry tak sabaran.


"Maksud Mamah, ajak Ara sama Rio. Mamah mau .... "


"Mah, Derry di sini," tunjuk dirinya yang merasa tidak di sebut namanya.


Hal itu membuat Ara menahan tawa. Ada-ada saja Derry. Rio melirik ke arah Ara. Melihat Ara hatinya terasa tertusuk beribu duri. Tapi merasa juga diri Ara lah pengobat segala sakit yang ia rasakan saat ini.


"Derry!" mata Mamah Fani melotot. "Udah sana ah, kalau mau pergi sana. Mama gak maksa juga kamu di sini, ganggu tau gak!" kesal Mamah Fani karena Derry terlalu banyak tingkah.


Bibir Derry mencebik kala Mamahnya meminta dirinya pergi saja. Tanpa protes, Derry pun beranjak pergi dari sana. Tanpa di suruh pun, memang Derry ingin pergi.


"Jadi, lanjut pembicaraan kita ya," ucap Mamah seraya menghela nafas panjang. "Ara," mama mengusap punggung tangan Ara.


"Rio," menatap sang anak dengan tatapan teduh. "Kalian sudah menikah selama enam bulan. Mama tahu, Papa, dan juga Bunda Nisya tau bahwa hubungan kalian memang tidak baik-baik aja. Kita tau, perasaan kalian selama ini. Enggak mudah sampai di titik ini, kalian masih muda. Hidup kalian juga masih jauh lebih panjang."


Rio termangu mendengar penuturan mama. Ia menatap heran, sambil mencerna setiap kalimat yang di lontarkan oleh Mama Fani.


"Di bilang egois dan menyesal. Kami sebagai orang tua dan mertua merasa keputusan kami terlalu cepat menyuruh kalian menikah di usia yang belum matang. Kami pikir adanya kalian menikah, karena kami: Mama, Papa, dan Bunda Nisya juga saling mengenal satu sama lain dengan baik. Kalian akan belajar hidup bersama, tumbuh bersama, bahagia, dan sama-sama menumbuhkan rasa cinta satu sama lain. Itu yang kami pikirkan, tapi kenyataannya berbeda," urai Mama Fani.


Entah perasaan aneh menyeruak di dada Ara sekarang. Sekadar menelan saliva pun terasa sulit. Dirinya sekarang ketakutan, bibir bawahnya ia terus gigit kecil. Matanya menjurus serius ke arah ibu mertuanya yang sedang membicarakan inti permasalahannya.


"Ara," Mama Fani tersenyum manis ke arah Ara. "Maafin, anak Mama ya. Kalau selama ini buat Ara susah, menderita, dan terus menerus kesakitan. Mama tidak habis pikir, apa yang terjadi sudah keterlaluan."


Rio semakin menundukkan kepalanya. Ah, Mamanya terlalu frontal membahas kekurangannya secara langsung di depan Ara.


Ara tersenyum getir, "gak papa Ma. Ara udah terbiasa."


"Hah, terbiasa? Ara sebanyak itu kesalahan aku selama ini. Sampai-sampai kamu merasa terbiasa," kata Rio dalam hati.


Ara melihat sekilas ke arah Rio yang masih saja tertunduk dengan kedua tangannya saling mengepal erat. "Ara udah maafin Rio kok, Ma."


Kepala Rio langsung tegak melihat ke arah Ara. Terkejut, apa benar Ara sudah memaafkan dirinya?


Mama Fani tersenyum lebar, hatinya sedikit lega. "Makasih sayang, Mama malu. Malu anak Mama gak bisa jaga kamu dengan baik."


Rasa sedih, dan kekecewaan seorang ibu tumpah begitu saja. Merasa gagal mendidik anak lelaki yang harusnya bertanggung jawab. Akan tetapi malah sebaliknya.


"Sebenernya .... " Ara menatap Rio sebelum ia melanjutkan ucapannya. Rio sekarang menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Kedua pundaknya bergetar menandakan ia sedang menangis, "kami udah berusaha menyelesaikan masalah kami sendiri. Tapi memang belum ada solusi yang tepat buat kami. Mungkin, Ara memang salah pergi dari rumah. Yang akhirnya menimbulkan masalah seperti ini. Tapi Ara sendiri udah gak tau lagi harus bertahan segimana lagi. Maafin Ara, Ma."


"Maafin Ara udah buat keadaan seperti ini. Ara gak bermaksud melukai siapa pun," akhiri Ara dengan berusaha untuk tidak meneteskan air matanya.


Tangisan Mama Fani pecah seketika. Membuat suasana semakin terasa menyedihkan. Perasaan Mama Fani hancur pastinya.


Suara tangis Rio sekarang pun terdengar memilukan setelah lama ia tahan-tahan. Isi dadanya bak tercabik-cabik beribu-ribu kali anak duri. Sesal yang amat sangat membuat dirinya semakin ingin mempertahankan Ara.


Mama Fani menghela nafas panjang kemudian mengatur ritme nafasnya. Setelahnya ia menghapus sisa air matanya. Kini ia menatap sang anak dengan tatapan tegas.


"Rio, kami sudah dengar bukan. Ara sudah memaafkan kamu, ini yang kamu pinta. Mama udah menurutinya. Sekarang giliran kami orang tua, Mama akan mewakili Papa dan Bunda Nisya atas keputusan yang kami buat setelah mengetahui apa yang sedang terjadi. Ini semua sudah di pertimbangkan secara matang, dan kami semua menyetujui. Karena untuk kebaikan kalian semua."


"Rio, tolong ceraikan Ara," ujar Mama Fani berusaha kuat mengucapkan ucapannya sendiri di hadapan anaknya. Ada perasaan tak tega, ada perasaan sesal setelah mengutarakannya.


Iya, bak di sambar petir. Rio yang terkejut atas apa yang Mamanya sendiri ucapkan. Rio menatap sang Mama dengan tatapan sendu.


Rio tak menyangka akhir dari pembicaraan ini, Mama meminta dirinya melepaskan Ara. Entahlah, Ara sudah memintanya berulang kali. Tapi ketika mamanya yang meminta, dunianya terasa runtuh seketika. Jantungnya terasa di tikam terus menerus.


"Maksud Mama?" tanya Rio.


"Iya, selesaikan semuanya Rio. Mau sampai kapan kamu terus menerus bersikap dengan kelakuanmu yang bikin Mama dan Papa malu. Kalau memang gak mau melanjutkan, ya sudah selesaikan. Jalani kehidupan kalian masing-masing. Jangan gantung perasaan Ara, Rio," tandas Mama Fani.


"Rio gak mau, Ma! Rio udah, bener-bener menyesal, sekarang Rio mau memperbaiki semuanya dari awal. Bukan mengakhiri, ini bukan solusi Ma. Tolong tarik ucapan Mama," tegas Rio.


Ara yang mendengarnya, langsung menatap tak percaya ke arah Rio. Memang Ara sendiri pernah meminta pisah. Rio juga menolak, tetapi Rio tidak pernah mengucapkan untuk memperbaiki dari awal. Apa artinya ....


"Terserah kamu, Nak. Tapi tolong kasih keputusan yang tepat. Ara juga butuh kehidupan yang dia inginkan. Kamu sendiri harus dewasa mengambil keputusan, jangan sampai nantinya akan terulang lagi kejadian kayak gini. Mama sama Papa malu. Malu dengan keluarga Ara. Keputusan yang kamu buat jangan bikin kami kecewa terutama Ara," pinta Mama Fina.


"Semuanya sudah di tanganmu Rio. Tinggal gimana kamu mau memperbaiki semuanya. Mama udah gak akan ikut campur lagi, semuanya ada di tangan, usaha, dan sikapmu sekarang. Buat Ara sendiri, tolong kasih kesempatan lagi buat Rio, ya."


Mama Fani menatap harap Ara. Kedua tangan Ara selalu Mama Fani genggam.


"Ini kesempatan terakhir kamu, Rio. Kalau kamu belum berubah juga, jalan pisah kalau Ara meminta, kamu gak boleh nolak. Setelah ini terserah kalian mau memperbaikinya seperti apa," ungkap Mama Fani


"Rio dengar sendiri, Ara sudah memaafkan kamu. Ara kamu juga udah denger keinginan Rio untuk terus melanjutkan. Semua keputusan ada di kalian berdua."


Malam ini terasa malam yang panjang bagi Ara dan Rio. Ara dan Rio sama-sama mau menerima apa yang di bicarakan oleh Mama Fani. Tetapi tetap Ara butuh waktu untuk sendiri. Ara meminta untuk sementara tidak ingin tinggal dulu dengan Rio.


Bagaimana pun, Ara sendiri butuh menenangkan pikirannya. Mama Fani mengizinkan karena paham apa yang Ara rasakan karena ulah anaknya sendiri.


Mama Fani pun merasa lega menemukan jalan untuk mereka. Mama Fani berharap hubungan mereka ada kemajuan untuk lebih baik. Saling mengasihi dan saling mencintai satu sama lain. Mama Fani percaya mereka saling memiliki rasa hanya saja belum waktunya.


___


"Kalau gitu Ara pamit pulang," Ara langsung mencium punggung tangannya Mama Fani.


"Iya, hati-hati di jalan ya," keduanya saling berpelukan. "Derry, hati-hati ya. Bawa mobilnya jangan laju, pastiin Ara pulang."


Derry yang sedari tadi sudah membukakan pintu mobil untuk Ara. "Siap, Ma!"


"Assalamualaikum," salam Ara.


"Waalaikumsalam," jawab Mama Fani seraya melambaikan tangannya ketika mesin mobil menyala.


___