Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 77


Ara terdiam, nafasnya mulai tersengal. Ia eratkan kedua tangannya ke sprei. Memejam kan mata adalah keseharusannya. Gigit dalam-dalam bibir bawahnya ketika hal asing mulai di terasa di sana.


Ia gelisah, itu mulai akan memasuki tahap awal. Ketakutan mulai memasuki, ia masih perawan. Ara pernah dengar katanya saat sesuatu masuk akan terasa sakit.


Bukan itu yang sakit, tapi hubungan yang tidak jelas ini. Kenapa Ara tiba-tib teringat kepingan wajah Angel bersama Rio di saat seperti ini. Itu akan terasa sakit jika Rio tidak memiliki niatan baik untuk meluruskan hubungan mereka.


Ara mendorong tubuh Rio begitu kuat, air bening meleleh begitu saja dari sudut mata Ara.


Jelas Rio tersentak dengan sikap Ara yang begitu tiba-tiba menolak.


"Tolong... jangan, ak-aku belum siap!" Ara merenggut kedua sisi kemeja nya dalam dekapannya, untuk menutup rapat bagian tubuh nya terbuka.


Rio terpaku, ia tak harus berbuat apa. Canggung pastinya, ia merubah posisi nya untuk tidak mengungkung Ara.


Ara, ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Ia peluk erat-erat selimut yang menutupi tubuh nya, Ara melihat raut wajah Rio yang begitu kebingungan dan merasa bersalah.


Ya, mungkin itu menyakitkan untuk Ara. Mungkin takut dengan rasa sakit nanti nya, hanya itu yang terbesit di fikiran Rio. Mengapa Ara berubah fikiran.


"Maafkan aku..." lirih-nya dengan suara serak.


"Ak-aku belum si-siap," lanjut nya dengan suara terbata.


"Ah, gak pa-pa. Aku tahu itu mungkin akan menyakitkan, makanya kamu bel-"


"Bukan itu yang ku maksud..." sela Ara.


Mengerut kening Rio, maksud-nya apa?


"Aku belum siap bukan karena rasa sakit hilang nya selaput dara ku. Lebih sakit nanti nya, kalau kamu masih menggantung hubungan kita," ungkap nya.


Melebar mata Rio memperlihatkan pupil mata nya membesar berwarna hitam pekat. Ia seperti tertampar beribu kali tamparan untuk nya.


Rio paham maksud dari Ara, ya diri nya terlalu sembrono. Terlalu nafsu menginginkan lebih padahal status mereka hanya status di atas sebuah kertas.


Wajar saja Ara menolak dirinya mentah-mentah.


"Ma-maksud kamu?" **** nya Rio hanya untuk mengetahui keinginan Ara.


"Aku gak mau hidup seperti ini terus? Tanpa kejelasan, dan statusnya apa aku aja gak tahu. Rio, menurutku kita sudah terlalu jauh, dan cukup kita untuk saling mengenal satu sama lain. Saat nya kamu harus tegas dengan pilihan mu, Rio!" desak Ara.


Rio diam, ia menatap Ara kosong. Perasaan sakit menghujam dada nya saat ini.


Ara simpulkan Rio sulit memilih untuk saat ini.


"Memulai hidup baru atau ceraikan aku segera!..."


Bagaikan petir menyambar relung nya tanpa ampun. Rio terkejut atas kedua pilihan, apakah diri nya harus memilih?.


"...Pilihan ada di tangan mu sekarang, beri tahu aku kalau kamu sudah memiliki jawaban-nya," ucap nya melemah, Ara membaringakan tubuh nya dengan berselimut hingga batas leher.


Tak kalah sakit bathin Ara, ia berkata namun teramat menyakit-kan untuk nya sendiri. Ara memejamkan matanya rapat-rapat, membayang kan jawaban apa yang Rio beri nanti nya.


Kata-kata Ara barusan bersarang di pikiran nya sekarang. Rio memilih untuk menenangkan diri sembari membersihkan diri di kamar mandi. Siapa tahu air dingin mampu membersihkan pikiran nya yang kalut.


Flasbak End


Ara beranjak dari duduk nya karena terkejut pintu kamar nya di ketuk oleh seseorang. Ia sudah gugup jika itu Rio yang menghampiri nya.


Ara belum siap mendengar jawaban Rio, aduh, kenapa Ara yang harus merasa ketakutan? Bukan kah sudah benar?


Ia gigit kembali ujung kuku nya. Seraya maju mundur ingin membuka pintu kamar nya. Akhirnya Ara memutuskan untuk membuka pintu. Ia melangkah dengan jantung berpacu cepat.


Krek...


"Bi Imah?"


Oh, syukur lah ternyata bi Imah. Ara bisa bernafas lega, Ara tersenyum tipis lalu membuka pintu lebar mempersilahkan masuk bi Imah. Bi Imah membawa keranjang di tangan nya yang berisi setumpuk baju bersid dan sudah terlipat rapih milik Ara.


"Baju nya udah bersih, silahkan di pake," ujar bi Imah sambil memasukan baju-baju Ara ke dalam lemari.


"Makasih bi," kata Ara.


"Neng, gak kuliah?" tanya bi Imah.


"Kuliah kok bi," angguk Ara.


"Ini Ara mau mandi," nyengir nya seraya langsung pergi ke kamar mandi.


Bi Imah hanya menggeleng kepala melihat nona nya.


---


Ara sudah berpakain rapih, jeans warna putih tulang di padukan tank top putih dan blazer hitam. Memancar kan aura kedewasaan Ara jika berpenampilan seperti itu.


Ara bolak balik mencari sesuatu di kamar tersebut. Kuluk-kilik kaki nya melangkah seraya mengeringkan rambut basah nya.


"Di mana?" gumam nya.


Ara cari di tempat biasa ia taruh pun tidak ada.


"Kemana ya, di cari ilang, gak di cari ada. Dasar hairdry!" umpat nya jengkel.


Ia pun terpaksa turun ke bawah untuk bertanya dengan bi Imah. Mungkin saja bi Imah yang menaruh di tempat lain.


"Bi, bi Imah!" panggil nya.


"Iya, ada apa neng?" tanyanya ketika menghampiri Ara yang akan menuju ruang makan.


"Hairdry aku ke mana bi?" tanya Ara.


"Di tempat biasa Ara taruh gak ada," lanjutnya.


"Lho, bukan nya barang-barang neng ada di kamar tuan Rio semua kecuali baju ya neng?" ingat bi Imah.


Karena bi Imah lah yang membawa semuanya barang Ara pindah ke kamar Rio.


Ara menepuk jidat, "Ya Allah kenapa harus di sana sih?"


***