Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 8


Dia Calon Kakak Ipar Derry sekaligus menantu pertama dari Mamah Fani.


"Oh Fani, ayo masuk. Silahkan duduk" Bunda Nisya menyilahkan Mamah Fani dan Derry untuk duduk.


"Makasih Teh Nisya." Mamah Fani dan Derry duduk di sofa.


"Kenapa repot-repot ke Bandung?. Di sini sudah banyak yang bantu. Gak usah khawatir lah semua pasti beres." Ucap Bunda Nisya.


Keluarlah sesosok gadis yang membawa nampan berisi 3 gelas cangkir teh manis.


"Silahkan diminum tante, a'" Tawarnya dengan lembut. Derry memandang gadis di depannya dengan intens dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Oh ya Derr. Ini Mamah kenalin ini Bunda Nisya. Panggil aja Bunda. Ini temen Mamah dari kecil." Jelas Mamah Fani. Derry pun langsung menyalami Bunda Nisya yang murah senyum.


"Ini anakku yang bungsu Teh. Namanya Derry Afriansyah, masih sekolah SMK."


Jelas Mamah Fani.


"Derry Bunda" Ucap Derry ramah


"Dan ini Ara, Ara calon kakak ipar kamu Derr. Dan Ara juga seperti Rio, baru lulus SMA. Hehehe" Mamah Fani tersenyum kepada Ara.


"Derry" Derry langsung bersalaman keoada calon Kakak iparnya.


"Ara" Balasnya dengan suara lembutnya. Tangannya sangat halus. Membuat Derry dengan posisi tangannya masih menggenggam jemari-jemari lentiknya Ara.


"A',..... A'..." Ara berusaha melepaskan telapak tangannya tapi Derry sendiri masih menggenggam erat.


"Derr.... Derry. Lepas tangannya Ara" Mamah Fani berusaha melepaskan tangan putranya yang menggenggam erat jemarinya Ara.


"Eh Maaf... Maaf Kak. Rupanya calon istri Bang Rio cantik dan manis ya Mah" Derry memuji Ara. Dan Ara hanya tersipu malu.


"Iya dong. Kalau gini kan Mamah gak salah pilihkan" ucap Mamah Fani bangga.


Derry hanya tersenyum melihat Pipi Ara seputih susu merona merah. Karena ia merasa malu di puji berlebihan.


"Gini loh Teh. Aku kesini sekalian bawa baju pengantin kemarin buat Ara. Kemarin yang ku kirim agak kebesaran kan. Terus aku minta di kecilin lagi. Nah sekalian mau lihat persiapan di Bandung. Takutnya kalau aku datangnya dekat-dekat hari H. Tapi masih ada yang belum siap atau takut ada yang harus di rombak. Kan gak keburu, jadi aku harus periksa lagu. Kita kan jauh rumahnya. Teteh juga kan bukan di dekorasi saja, harus ketring juga kan. Ya walau sederhana tapi harus tetap mewah. Apapun aku lakuin Teh buat anak-anak." Jelas Mamah Fani dengan tersenyum.


"Ya udah kalau begitu kita lihat-lihat. Kita cek sama-sama aja Fan" Ajak Bunda Nisya ke Mamah Fani.


"Oh boleh. Ara temankan Derry ya. Derry suka cepat bosen. Jadi tolong temanin ngobrol ya." Ucap Mamah Fani


"Iya tante" Ara pun langsung setuju.


Di ruang tamu hanya ada mereka berdua. Hanya ada orang sibuk mondar-mandir untuk mempersiapkan semuanya.


Tak ada yang berani membuka suara. Mereka hanya saling tatap sekilas.


Canggung rasanya di dalam keadaan seperti ini.


Derry berusaha mencairkan suasana.


"Kak aku mau jalan-jalan sekitar desa ini. Apakah kak Ara mau temankan Derry sebentar?" Tanya Derry.


"Hmm.. Boleh saja. Tapi jalan kaki saja ya." Ara pun langsung berdiri dan keluar.


"Iya gak pa-pa" Balas Derry dan berjalan dibelakang Ara.


Aroma tubuhnya soft sekali. Khas dan sesuai dengan Ara. Cantik, putih seperti susu kulitnya, tinggi hanya 158 , rambutnya bergelombang. Tubuhnya ramping, berpakaian sederhana tetapi tetap cantik.


Dan tak terasa sampai di sebuah jembatan. Ara berhenti dan diikuti Derry. Di bawahnya aliran air jenih, dan hamparan sawah hijau. Sejuk mata memandang. Mereka kini sama- sama berdiri sejajar dengan bola mata tertuju pemandangan yang indah anugerah Tuhan tiada duanya.


Derry melihat ke arah wajah Ara yang hanya bermakeup natural sekali. Bibirnya tipis merah merekah, hidungnya mancung, bulu matanya lentik, matanya bulat besar, bola matanya warna coklat, pipinya chubby, kulitnya putih seputih susu, rambutnya bergelombang dan berwarna coklat natural.


5 menit sudah Derry memandang wajah cantik Ara.


"A'... A'..." panggil ara dengan lembut, tapi Derry masih memandang dan tersenyum. Ara memegang lembut tangan Derry karena berusaha menyadarkan Derry.


"Eh iya Kak. Ada apa?" Kejut Derry..


"A' tadi lihat wajah Ara. Apa ada sesuatu di wajah Ara ? Atau di mata Ara A'? Tunjukin, Ara malu tahu" Ara menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu takut ada sesuatu diwajahnya. Derry tersenyum melihat tingkah Ara yang menggemaskan.


Derry memegang pergelangan tangan Ara dengan lembut. Ara hanya diam mendapat perlakuan Derry. Ara dan Derry saling bertatap mata.


"Lepasin A'." Berontak Ara. Namun Derry tidak melepaskannya. Ara langsung menundukan kepalanya karena malu.


Perlahan Derry melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Ara. Dan Derry menyentuh lembut dagu Ara. Menuntun wajah cantik Ara agar kembali menatap wajah Derry. Derry menatap mata Ara dan berkata


"Matamu indah, juga tidak ada yang salah di wajahmu. Yang salah hanya aku." Ucap Derry serius dengan masih menatap matanya Ara


" Maksud Aa' apa? " Tanya Ara dengan menaikan salah satu alisnya. Ara tak tahu apa yang Derry ucap.


"Aku salah jatuh hati" ucap Derry.


"Dengan siapa? " Tanya Ara polos.


Derry mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Hanya berjarak 5 senti.


"Apa yang Aa' lakukan?" Tanya Ara


"Stttttt... " ucap Derry


Ara menutup matanya perlahan. Derry tersenyum melihat reaksi Ara yang polos.


"Kamu" Bisik Derry di telinga Ara yang tengah memejamkan matanya.


Dada Ara berdegup kencang seketika.


Dan Ara membuka matanya perlahan untuk melihat posisi wajah Derry. Dan Derry sudah di posisi normal. Pipinya yang putih kini merah merona. Ia masih tidak percaya dengan ucapan Derry.


Ara hanya terdiam, dan tertunduk malu atas sikap Derry terhadap Ara.


Derry tersenyum puas dengan melihat Ara salah tingkah dengan perlakuan Derry.


"Ya sudah ayo kita pulang. Mamah dan Bunda pasti khawatir. Karena kita pergi tidak pamit. " Derry memecahkan keheningan antara Ara dan Derry


Ara hanya mengangguk. Dan kini mereka berjalan sejajar, tapi mereka hanya diam.


"Asalammualaikum Neng Ara. Itu calon suaminya. Masya Allah kasep pisan. Serasi maneh, sing hiji ayu sing hiji kasep pisan. Selamat ya Neng semoga langgeng" salah satu warga yang kebetulan lewat dan bersalaman dengan Derry dan Ara. Ara berusaha berbicara, tapi tidak bisa.


"Bukan Mang. Ini tuh....." Ara berusaha mengelak.


Tapi keburu orangnya pergi.


"Waalaikumsalam,Amin. Maksih Mang" teriak Derry tersenyum ketika salah satu warga menganggap kalau Derry adalah calon suaminya.


"....Adik ipar mang..." Ara melanjutkan dengan nada lemas. Dan Ara sangat kesal dengan Derry. Kenapa Derry harus bersikap seolah-olah Derry memang calon suaminya ? Padahal hanya Adik Ipar.


Ara kesal sekali dengan Derry. Dia menatap tajam matanya kearah Derry yang di sisinya. Derry tahu kalau kakak iparnya kesal dengannya. Tapi ia malah membalasnya dengan senyuman. Ara makin kesal dan Ara langsung jalan mendahulukan Derry. Derry hanya tersenyum , dan mengikuti langkah Ara yang membelakanginya.


.....Di Rumah Ara.....


Ara langsung masuk, memberi salam dan bersalaman dengan Mamah Fani dan Bunda Nisya. Ara langsung kebelakang dengan wajah lesu.


"Asalamualaikum" susul Derry langsung masuk dan bersalaman dengan Mamahnya dan Bunda Ara.


Derry langsung duduk di sofa.


"Kalian habis darimana? Kenapa dengan Ara ? Seperti orang lagi kesal saja." Tanya Mamahnya penuh keingintahuannya.


"Derry dan Kak Ara hanya jalan sebentar melihat Desa Mah." Jelas Derry dengan sambil mengambil cangkir teh yang tadi disuguhkan oleh Ara. Dan diminumnya sampai habis.


"Lalu kenapa Ara pulang-pulang kesal?" Tanya Mamahnya Derry.


"Emang Kak Ara kesal ." Jawabnya singkat.


"Karena tadi ada orang lewat pada saat kami mau menuju pulang. Orang itu berhenti , dan bilang kalau Derry adalah calon suaminya Kak Ara. Dan orang itu sempet memberi selamat pada kami. Dan bilang kalau kami serasi. Dan pada saat Kak Ara ingin menjelaskan bahwa Derry hanya Adik Iparnya. Orangnya malah keburu pergi. Nah Kak Ara jadi kesal deh." Jelas panjang Derry.


Mamah Fani dan Bunda Nisya langsung tertawa terbahak-bahak karena mendengar cerita Derry.


Derry pun pamit ke kamar kecil.


Ara sedang di dapur, Ara masih dongkol dengan kejadian tadi. Derry melihat sikap dan wajah Ara yang begitu makin cantik ketika kesal. Ara masih mengumpat, entah apa yang diumpatnya. Derry ingin tertawa tapi ditahan. Derry masih ingin melihat Ara di kejauhan.