
Di kamar pengantin yang cantik dan bernuansa romantis. Dekorasi serba putih, bunga mawar merah dan putih segar menghiasi di setiap sudut ruangan. Semerbak baunya menyeluruh ruangan. Inilah hari yang sakral untuk Rio dan Ara. Hari dimana mereka akan bertemu untuk pertama kalinya. Bertemu dengan ikatan suci. Tanpa ada perasaan sayang, rindu ataupun cinta. Di meja rias sudah terdapat wanita cantik, bergaun kebaya putih modern. Rambutnya di sanggul dan tertata rapi seperti pengantin wanita lainya. Bermakeup natural sudah membuatnya cantik dan manis. Tapi air mata telah membasahi pipinya. Ia tak kuasa harus ditakdirkan seperti ini
******Ara Sukma Wijaya******
Anak tunggal dari pasangan Bunda Nisya dan alm Ayah Angga. Usia 18 tahun, dan baru menyelesaikan sekolah SMA di salah satu sekolah di desanya. Di sekolahnya Ara siswi yang berprestasi dan penuh talenta. Di kenal baik hati dan murah senyum. Tinggi 158, cantik, imut, manis, kulitnya putih seputih susu, bodynya proposional, rambut sedikit bergelombang panjang sepinggang , matanya bulat besar, bulu matanya lentik sekali, hidungnya sedikit mancung, pipi chubby, dan bibir yang mungil tipis. Wataknya sedikit manja, cepat tersinggung, keras kepala dan sangat pintar menyembunyikan masalah yang ada tapi di sisi lain Ara wanita yang tangguh dan mandiri sekali. Pintar segala hal, walaupun Ara terlahir wanita dan berpenampilan feminim sekali. Ara tak malu untuk melakukan hal sesuatu yang harusnya lelaki lakukan. Seperti membetulkan kran air, manjat pohon, atau berbau otomotif pun dia bisa. Memasak adalah salah satunya yang Ara suka. Tak heran dia sampai di cap sebagai raga wanita jiwa laki-laki oleh teman dekatnya. Intinya Ara sangat pintar dalam segala hal. Tapi ada satu keburukan yang tak bisa Ara hilangkan yaitu lupa. Ara sering lupa menaruh atau mengingat sesuatu.
**********
Terdengar bunyi pintu terbuka.
Cepat-cepat Ara menghapus air matanya.
"Assalamualaikum" Salam Bunda Ara..
"Waalaikumsalam" Balas Ara dan tersenyum kepada Bundanya..
Bunda Nisya menatap cermin di depannya. Melihat sang putri semata wayangnya terlihat sedih.
"Ara anakku, kamu menangis ya. Kamu sedih nak" Tanya Sang Bunda dan memalingkan wajahnya ke arah Ara yang tengah duduk di bangku meja rias.
"Kamu bahagia nak ? " Tanya Bunda sekali lagi.
"Gak kok Bund. Ara tidak sedih. Ara bahagia Bunda makanya menangis." Jawab Ara tersenyum manis kepada sang Bunda.
"Ya sudah. Sebentar lagi rombongan keluarga Rio akan sampai. Kamu siap-siap ya nak" Ucap Bunda dengan sembari memoles bedak tipis ke Ara karena sedikit pudar terkena air mata Ara.
"Ya Bund. Ara gugup Bunda" kata Ara dengan melihat bundanya dari cermin.
Bunda Nisya lalu melihat ke arah cermin dan tersenyum. Bunda Nisya langsung memegang tangan putrinya yang sudah dingin sekali.
"Nak baca doa, sebut nama Allah. Insya Allah rasa gugup Ara akan mereda" saran Bunda Nisya dan menatap mata Ara lekat-lekat. Meyakinkan Ara bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tok
Tok
Tok
"Waalaikumsalam. Masuk" Jawab Bunda.
"Wah Masya Allah Teteh cantik sekali." Puji Qia dengan mata terbelalak. Dan langsung masuk ke kamar Ara.
*******Qia Adellia******
Qia Adellia adalah anak angkat Bunda. Usia 14 tahun. Qia remaja yang baik sekali, cantik, dan periang.
Qia berasal dari panti asuhan Kasih Ibu.
Alasan Bunda mengadopsi Qia karena untuk menambah anggota keluarga. Karena selama Bunda dan Ara ditinggal oleh Ayah. Mereka hidup bertiga, Bunda, Ara dan Mbak Inah ART.Dan Bunda sangat sayang pada Qia. Ara pun begitu sudah menganggapnya sebagai adik kandung. Bunda sangat adil kasih sayang pada mereka. Jadi mereka tumbuh sangat baik. Malah seperti adik kakak sungguhan.
***********
"Makasih Qia" Ara langsung peluk adiknya.
"Teteh kalau ikut suami nanti. Sering lihat kami ya teh" ucap Qia dengan masih memeluk Ara.
"Ia teteh janji. Kalau ada waktu Teteh pasti main kerumah" Ara sedih sekali harus meninggalkan Bunda dan Qia. Apalagi setelah menikah Ara akan tinggal di Jakarta.
Bunda sedih dan menitikan air mata. Tak rela anaknya pergi jauh-jauh darinya. Tapu sudah keharusaan Ara ikut suaminya.
"Ya Allah Qia lupa..!!!" Panik Qia dengan mata terbelalak lebar.
"Ada apa Qia?" Tanya Bunda dan Ara hampir serempak.
"Qia kesini tuh mau kasih tahu kalau keluarga calon suami Teteh sudah datang Bunda." Jawabnya dengan rasa penyesal karena ia lupa.