Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 78


Mau tidak mau Ara harus kembali ke kamar Rio. Bukan cuma hairdry yang ia butuh kan namun yang lain nya juga.


"Mau saya yang ngambil, neng?" tawar diri bi Imah terlihat Ara enggan untuk naik ke atas.


"Gak usah bi, biar Ara yang pergi," ujar nya seraya bergegas kembali naik ke atas.


Ara ragu untuk masuk begitu saja ke dalam kamar atau pun mengetuk. Ara belum siap bersitatap dengan Yusuf saat ini. Tapi, ah, bodo amat lah. Ara memutar knop pintu dan masuk saat pintu terbuka.


Ternyata Rio sedang mandi, bisa bernafas lega Ara. Ia akan cepat-cepat mencari yang ia butuhkan dan akan di kembalikan ke kamar nya lagi.


"Rio taro mana sih hairdry, di telen apa ya," kesal Ara tak kunjung menemukan benda satu itu.


Ia cari dan buka-buka laci meja rias penuh nafsu alias semangat.


"Cari apa?" suara Rio cukup membuat Ara terkejut.


"Alamak, kenapa cepet banget sih kelar nya," gumam nya merasa kesal harus bertemu dengan Rio.


"Hah, apa?" Rio tadi sedikit mendengar suara Ara berceloteh namun tidak terdengar begitu jelas.


Ara berdiri tegap menghadap ke Rio dan berujar, "Mau cari hairdryer," sentak nya karena terkejut ke sekian kali nya.


Ara melongo dengan tatapan terkesima melihat dada telanjang Rio. Ia benar-benar menyadari dari jarak dekat begitu bagus tubuh Rio seusia ini. Otot perutnya sangatlah menggiurkan.


Rio terheran melihat sikap Ara yang terpaku ketika menatapnya. Rio telisik arah mata Ara ke mana. Oh, ternyata Ara tidak lah sepolos yang ia kira. Ara tahu barang bagus rupa nya.


Apa lagi yang Ara tatap jika bukan otot-otot perutnya. Lihat, sampai segitunya.


"Ih, air liur nya banjir tuh," ucap Rio sembari ia pergi ke lemari milik nya.


Ara dengan bodohnya mengusap kasar bibir nya. Ia benar-benar mengikuti apa kata Rio.


Rio terkekeh melihat Ara yang mau saja di tipu, " Dasar cewek aneh!"


"Mana air liur?!" ia kembali mengecek semua area mulutnya. Dan memang benar tidak ada air liur sama sekali. Sadar ia memang di tipu oleh Rio.


"Bercanda," ujarnya seraya mengarahkan tubuh Ara untuk berhadapan dengan cermin, lalu Rio menekan tubuh Ara untuk duduk di kursi.


Ara merasa kebingungan, ia akan di apakan. Ara melihat dari pantulan cermin di depannya, dia menatapnya, iya, Rio tersenyum padanya. Dalam dada Ara bergemuruh melihat senyuman Rio yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Bersemu pipi Ara, buru-buru ia mengalihkan pandangannya.


Ada rasa aneh menjalar di seluruh tubuhnya hingga ke hatinya yang terasa mendadak menghangat.


Ara terkejut kembali, suara bising hairdryer mengenai tepat di telinganya. Lamunan nya buyar seketika, Ara menghindar sedikit dari suara yang hampir memekak-an telinganya.


Ia mendongak untuk melihat Rio, Rio merespon dengan menaikan salah satunya. Ara terlihat wajahnya sudah kesal karena ulahnya.


"Bisa gak kalau mau ngidupin nih barang, jauh-jauh dari kuping orang. Kalau aku budeg nih kuping gak ada garansinya," ketusnya.


Rio menahan tawanya, Ara lama-lama pandai juga membuat dirinya ingin tertawa. Kenapa ia baru menyadari nya?


"Sorry," lemahnya, ia selipakan jemarinya di setiap helai rambut Ara.


"Eh, mau ngapain?" tanyanya seraya menghindari kepalanya dari Rio.


"Mau ngeringin rambut lah," imbuhnya sambil menunjukan hairdryer di tangannya.


"Oh, tapi ngeringin punya siapa?"


"Sttt..."


Ara langsung terdiam, ia membiarkan Rio melakukan apapun. Bahkan ketika hairdryer sudah mulai dengan lihainya Rio arahkan ke setiap bagian rambut Ara. Terkadang membelai lembut rambut Ara.


Tanpa sengaja Ara melihat Rio melakukan hal tersebut dengan suka rela. Senyumnya melengkung bagaikan bulan sabit, ia terlihat baik jika tersenyum.


Seperti kata yang ia sering lontarkan "Si Tuan Es Balok". Seperti benar-benar menghilang dengan di gantikan Rio yang hangat.


Tersadar dirinya di perhatikan 'wanita aneh' ini. Ia menatap balik Ara dengan terang-terangan dari pantulan cermin. Ara sedikit terkejut, namun ia tetap menatap tajam menuntut balasan dari Rio.


Mata mereka bersitatap dalam satu garis lurus. Jantung Ara bertalu-talu, tatapan Rio seperti menjadi-jadi.


Tiba-tiba.....


Kursi berputar 180%, beralih menghadap Rio. Yang entah kapan jarak wajah mereka berdekatan. Ketika Ara membuka matanya sudah terdapat Rio di dekatnya, sangat dekat. Bahkan Ara bisa merasakan hembusan nafas Rio membelai pipi nya.


Rio tersenyum, lagi-lagi ia tersenyum untuk kesekian kali nya. Dan ini terlalu jelas untuk Ara.


Ara melihat tangan besar Rio menangkup wajah dirinya lalu menariknya agar lebih dekat ke wajahnya. Pandangan mereka saling bertemu. Apa yang terjadi?


Yang terjadi adalah, next see you episode yak😅😅