
Ponsel Ara berdering berulang kali, membuat Ara terpaksa bangun. Wajah lesu khas bangun tidur milik Ara terlihat dari pantulan cermin di lemari tepat sebelahnya. Ia menyandarkan diri ke headboard ranjang, sembari jari jemari lentiknya meraih benda pipih berbentuk persegi yang terus menerus berbunyi.
"Derry?!" Gumamnya yang melihat nama Derry tertera di layar ponsel.
Tak membutuhkan waktu lama, Ara menggulir layar screenlock dan menggeser tombol berwarna hijau.
"Hm..."
"Ya ampun Ra, aku panggil berulang kali baru di angkat, di mana?" Tanya Derry dari sebrang sana dengan kesal.
"Aku di rumah, ada apa?" Santai Ara dengan nada suara serak.
"Baru bangun?" Tebak Derry.
Ara yang masih sepenuhnya belum tersadar dari tidurnya, matanya masih tertutup rapat.
"Hm..." hanya itu yang Ara sahut dari pertanyaan Derry sembari menggaruk tekuknya yang gatal.
"Demi langit dan bumi, ini jam berapa kak?" Teriak Derry.
Ara langsung teringat dan membuka mata lebar. Jam?
Ara melihat sekelilingnya yang memang secercah sinar telah memasuki sela-sela tirai jendela menyoroti sebagian ruangan kamarnya.
Otomatis Ara langsung duduk tegap, dan melihat layar ponselnya guna ingin mengetahui jam berapa sekarang.
" Ya ampun jam 8 pagi!" Histeris Ara.
Dirinya kalang kabut, berakhir bingung hendak memulai dari mana. Kelasnya akan di mulai segera, tapi lihatlah Ara sekarang yang masih berdiam diri di atas ranjang dengan pikiran di buat rumit.
"Kak, halo, kak!" Samar-samar suara Derry memanggil dari ponselnya.
"I, iya!" Panik Ara.
"Ini udah siang, kakak masih belum bergerak, aku udah kayak ikan asin di depan rumah nunggu Kakak."
Ara langsung beranjak dari tempat tidurnya, ia ingin ambil handuk di tempat biasa. Tapi ia baru ingat semua barang termasuk handuk ada di atas. Alhasil ia harus bergegas pergi keluar dari kamar.
"Sorry, tunggu 10 menit ya, aku langsung siap-siap," ujar Ara yang berlari menaiki anak tangga.
"Ok, aku tutup dulu ya," Ara langsung menutup panggilan dari Derry.
Sialnya! Saat akan menuju kamarnya yang di lantai atas, ia berpapasan dengan Rio yang baru juga keluar dari kamarnya. Rio keluar seperti biasa, memakai kemeja berlengan pendek berwarna hitam dengan celana hitam panjang bahan. Sepertinya Rio sudah bersiap akan berangkat ke kampus. Mengingat Rio dan Ara satu jurusan. Ara berhenti, menatap Rio dengan risau.
Rio yang tahu gelagat Ara yang tak biasa, memicingkan mata seolah Ara bersikap aneh.
"Habis darimana?" Tanya Rio the to point.
"Ehem...!" Ara seperti orang tertangkap basah melakukan kesalahan saja, menelan saliva terasa sulit.
"Ha, ha, habis dari..." Ara gugup, ia bingung harus memberikan alasan apa.
Rio yang memasang arloji di lengannya pun sesekali menangkap ekspresi gugup, dan ketidaktenangan Ara.
Wajar bertanya, pasalnya Ara berlarian menuju lantai atas dan berpenampilan berantakan. Piyama yang lecek, rambut terikat tapi tak tertata rapih, wajahnya terlihat orang habis bangun tidur di tambah di jam hampir siang. Sedangkan Rio sudah berpenampilan fresh pagi ini.
"Habis darimana?" Ulang Rio.
Nada datar dan terbilang pelan, tapi Ara terkejut. Kedua bola matanya berputar-putar seolah menghindari tatapan langsung dengan Rio.
"Habis dari bawah, haus, jadi turun ke bawah buat minum," jelas Ara cepat agar Rio tidak bertanya-tanya lagi.
Rio memperhatikan penampilan Ara dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Oh," hanya itu yang Rio ucapkan lalu ia pergi turun ke bawah dengan menenteng tas ransel miliknya.
Ara bernafas lega, mengusap dadanya dan berucap syukur.
"Kamu gak kuliah? Ada kelas kan?" Tiba-tiba suara Rio meruntuhkan jantungnya seketika.
Ara berbalik badan dengan ekspresi tegang, dia terkejut setengah mati. Ara fikir Rio sudah turun.
"Kuliah kok, ini mau siap-siap," jawab Ara dengan menyunggikan senyum terpaksa, lalu tanpa basa basi ia berlari masuk ke dalam kamarnya.
"Gadis aneh!" Geleng Rio.
***
Ara berusaha secepat kilat, memakai baju ternyamannya, rambut di ikat, memakai tas jinjingnya, tak lupa memakai sepatu kets berwarna putih.
"Gak jelek-jelek amat kan kalau gak pakai bedak?" Ara berbicara sendiri di depan cermin riasnya sambil memoles bibir merahnya dengan liptint yang warnanya sesuai warna bibir miliknya.
"Arghh! Jam berapa ini? Pasti Derry kelamaan nunggu aku," Ara dengan sisa tenaganya berlari cepat turun.
"Pakek acara bangun siang," kesal Ara sambil memakai arlojinya.
"Mau berangkat?" Ara berhenti melangkah, ia menoleh ke arah meja makan yang di sana ada Rio.
"Iya, aku duluan ya."
"Neng, gak sarapan dulu?" Tanya Bi Imah yang sudah menuangkan susu cokelat untuk Ara.
"Gak Bi, makasih, Ara sarapan di kampus aja," pekik Ara dari luar rumah.
"Owalah!" Geleng Bi Imah.
Rio memasang wajah sedikit sedih. Niatnya mau sekalian berangkat bersama dengan Ara. Ya, Rio tidak bisa memulainya sekarang. Terlalu cepat.
"Bi kenapa Ara masih tidur di kamar tamu?" Tanya Rio serius.
***
Ara lari menuju pagar rumah, ia lihat di sana motor milik Derry bersama pemiliknya. Ara merasa bersalah telah membuat Derry menunggu, besar kemungkinan Derry telat. Ara berjalan cepat menghampiri lelaki berseragam khas dari sekolahnya.
"Sorry, aku telat!" Ujar Ara merasa bersalah.
Derry sedikit terkejut mendapati Ara datang. Tadinya kesal karena Ara telat, sangat telat. Tapi melihat wajah di tekuk begitu membuat Derry merasa iba.
"Haish! Gak papa Ra," Derry langsung memakaikan helm khusus untuk Ara.
Kenapa khusus? Karena orang yang pertama kali yang ia bonceng menggunakan motor miliknya adalah Ara seorang 'wanita'.
Ara tersenyum, karena Derry tidak marah. Lega rasanya, di tambah perlakuan manis dari adik ipar sendiri. Jika boleh memilih kenapa bukan Derry yang menikahi dirinya jika sang adik ipar lebih perhatian dan lebih baik ketimbang suaminya sendiri.
Entah setan apa yang merasuki pikirannya sampai berfikir demikian jahatnya. Ara halau jauh-jauh fikiran kotornya. Sampai kapan pun Derry akan Ara anggap seperti adik kandung sendiri tidak lebih.
"Udah, ayo naik!" Titah Derry.
"Makasih Derr," ungkap Ara.
"Sama-sama."
🍑🍑🍑