Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 27


Tapi sifat tetaplah sifat. Walau hatinya sedikit merasa bersalah, tapi tetap tebal muka. Rio merasa tidak ada masalah dengan hal kejadian tadi, sekalipun Ara memergokinya. Ia dengan santai tanpa ada merasa bersalah, melenggang pergi melewati Ara. Walau hatinya ada berkata untuk berkata maaf kepada Ara. Tapi ada hati yang lebih besar untuk mengatakan sebaliknya.


Saat Rio melewati Ara begitu saja tanpa menyapa, Ara hanya menghela nafas dalam, dan menjatuhkan beberapa bulir air mata. Namun ia seka dengan cepat, mengatur nafas dan mengontrol emosinya.


Ara kembali masuk ke rumah, dan melihat beberapa hidangan di meja makan yang belum Rio sentuh. Ara berinsiatif mengantarnya ke kamar Rio.


Tok


Tok


Tok!!


Cklek


Rio melihat Ara yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan nampan berisi makanan dan secangkir teh hangat.


"Ada apa?" Tanya Rio dengan nada dinginnya.


"Buatmu" Ucap Ara dengan tersenyum sembari Ara menyodorkan nampannya ke Rio.


"Aku udah makan di luar" Ucap Rio dengan langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


"Sabar Ara, ini baru awal. Belum nantinya, harus kuat Ra" Ara mencoba menyemangati dirinya sendiri. Ia masoh berdiri di depan pintu kamar Rio, dengan masih memandang sejenak nampannya dengan wajah murungnya.


"Hufttt, sudahlah emang sudah begini adanya" Hati Ara sebenarnya sedih namun ia berusaha mengontrol kesedihannya.


***


Pagi-pagi sekali Ara sudah sibuk dengan aktivitasnya. Seperti istri pada umumnya, bangun pagi, shalat subuh, masak, dan menyiapkan keperluan suami seperti baju yang akan di kenakan saat kerja.


"Hm" Gumam Ara dengan melihat isi lemari baju Rio. Ara memilah beberapa kemeja, jas, celana bahan, dan dasi.


"Ok beres!" Seru Ara yang sudah menyiapkan satu stel baju kerja Rio di ranjang Rio.


Kebetulan Rio tengah mandi, jadi Rio tidak tahu akan kedatangan Ara. Ara pun keluar dengan perlahan menuju ke lantai bawah.


***


"Akhirnya selesai juga !" Lega Ara yang melihat tugasnya hampir selesai.


Tak


Tak


Tak


Suara sepatu Rio yang menuruni anak tangga. Ara cepat-cepat mengambil secangkir teh hangat untuk Rio, dan menghiasi senyuman paling manis. Namun bukannya Rio menghampiri Ara atau sekedar menyapannya. Ia melengos jalan tanpa melihat kanan kirinya.


"Eh tunggu !" Panggil Ara yang berlarian kecil untuk menghadang Rio.


Rio hanya diam dengan mata tajamnya melihat Ara berdiri tepat di hadapannya. Ara tersenyum dan menyodorkan teh hangat untuk Rio.


"Ini !" Ucap Ara


"Aku mau ke kantor" Tolaknya yang tidak secara langsung.


"Hm, atau sarapan dulu. Aku udah masak loh" Ucap Ara yang berusaha menampilkan wajahnya yang ceria.


"Aku mau ke kantor, denger gak sih" Ungkap Rio yang mulai emosi dan berhasil melewati Ara.


"Wait... Wait.." Ara kembali meghadang Rio yang kini sudah di teras.


Rio menghela nafas dan membuangnya sembarangan. Ara tahu Rio sedang kesal dengannya. Namun ada yang mengganjal di mata Ara. Seperti ada yang kurang, mata Ara menelusuri setiap tubuh bagian Rio. Rio terheran dengan menaikan alisnya sebelah kiri.


"Ada yang salah ?" Ketus Rio


"Ada " Ucap Ara


Rio langsung melihat dan memeriksa juga tubuhnya. Apa ada yang salah yang ia kenakan hari ini. Sampai bola mata Ara menatap detail tubuh Rio.