Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 102


Setelah Ara bertemu seseorang di kafe. Ara pergi ke ATM untuk mengecek saldonya. ATM yang ia pegang, biasanya gaji di kafe Gilang langsung di transfer masuk ke ATM miliknya. Emang tidak seberapa, tapi cukup untuk menggantikan uang yang selama ini ia gunakan untuk hal kepepet atau mendesak saja.


Ya, seperti seminggu ini jarang sekali Ara keluar. Paling keluar hanya bekerja, selebihnya ia habiskan di indekos. Masalah makan ia tinggal order saja.


Ara berulang kali menghela nafas, begitu kerasnya hidup di sini setelah ia menikah. Ia benar-benar wanita yang malang sekarang. Rasanya ia ingin segera pulang ke rumahnya di Bandung. Ingin rasanya tinggal di sana agar berdekatan selalu dengan ibundanya dan adiknya.


Tapi untuk sekarang tidak memungkinkan. Ia harus selesaikan semuanya sebagaimana mestinya. Ia juga cukup lelah, ibundanya pun menyetujui jika memang rumah tangganya baru seusia biji jagung harus kandas.


Setelah mengecek saldo ATM nya. Ara berjalan menyusuri jalan trotoar untuk mencari butik di sekitaran sini. Dengan masih menenteng kantong plastik hitam berisi aneka minuman dan makanan ringan.


Sudah masuk beberapa butik, tapi tidak ada baju yang sesuai keinginannya. Ia ingin tampil elegan saja nanti. Baju yang ia bawa sudah sering ia pakai, jadi sesekali dari hasil uang kerjanya untuk membeli satu dress anggap saja imbalan setelah lelahnya menghadapi hidup yang penuh emosional.


Setelah berjalan lama mengitari sekitar jalanan kota untuk mencari toko butik akhirnya ketemu juga. Sengaja jalan kaki, sebab Ara takut ke sasar saja. Akan lebih mudah ketika jalan, di bandingkan harus naik angkutan umum. Sekalian membakar kalori juga yang sudah mengendap semingguan tanpa banyak berkegiatan seperti biasanya.


Akhirnya Ara masuk ke dalam butik tersebut yang terlihat lumayan ramai. Di sana disambut oleh pegawai wanita yang ramah.


"Mbak aku mau cari dress," ucap Ara kepada pegawai wanita itu.


"Oh ada Mbak, kebetulan tinggal beberapa potong saja. Mari ikut saya," kata pegawai tersebut seraya berjalan mendahului Ara untuk menuntun arah kemana baju tersebut ada.


Sesaat Ara menunggu, pegawai tersebut membawa lima potong dress di tangannya. Berbagai model dan warna.


"Ini,Mbak, silahkan di pilih," imbuh pegawai sembari menggantungkan dress itu di depan Ara.


Ara akhirnya memilih dan mengambil tiga potong dress yang ia rasa suka. "Saya, coba dulu ya Mbak."


"Oh, iya silahkan Mbak," angguk pegawai wanita itu ramah.


Ara pun masuk di ruang ganti. Ia coba satu persatu, ia lihat ke cermin bagaimana penampilannya kalau memakai salah satu dress dari mereka. Akhirnya Ara menjatuhkan pilihannya ke salah satu dress berwarna merah maroon yang bermodel V-neck dengan sentuhan payet dan renda yang tidak terlalu berdominan.


"Harganya berapa ya?" Ara sempatkan melihat price tag dan mata Ara langsung membulat berakhir menelan salivanya.


Ara keluar dengan wajah muram. Ia membawa ketiga baju tersebut keluar. Pegawai wanita itu yang masih setia menanti pun melempar senyum ramah ke Ara.


"Bagaimana Mbak? Mau ambil semuanya?" tanyanya.


Ara hanya meringis, "gak Mbak, saya perlunya satu aja. Ini yang warna merah tolong di bungkus," ujar Ara seraya menyodorkan dress-dress tersebut dan ATM miliknya.


"Tunggu sebentar ya Mbak, saya bungkus dulu," pinta pegawai wanita itu dan langsung berlalu pergi.


"Maunya gitu, semuanya tak beli. Tapi liat harga satunya aja bikin seret ATM mending satu aja, satu aja bikin gak rela ngeluarin uang," gumamnya dengan wajah kecewa.


Demi satu dress ia harus menghabiskan setengah uang gajinya di kafe.


Tak lama pegawai wanita itu datang kembali. Memberikan paper bag berisi dress yang Ara pilih, struk belanja, dan ATM miliknya. Ara pun mengucapkan terima kasih dan langsung pergi meninggalkan butik.


___


Ara melihat jam di ponsel yang hampir menunjukan pukul tujuh lewat. Perasaannya sekarang gugup dengan berulang kali ia memutarkan tubuhnya untuk melihat ke arah cermin seukuran badan. Takut penampilannya ada yang kurang.


Rambutnya yang mulai memanjang ia biarkan terurai hanya ia selipkan jepit rambut perak dengan ukiran bunga mawar yang senada dengan dress nya. Wajahnya pun di poles sedikit agar terlihat segar saja. Lalu ia semprotkan parfum ke leher dan area pergelangan tangan. Terakhir menggunakan sepatu hak tinggi warna hitam yang sempat ia beli setelah membeli dress.


Baru saja berdiri, Ara terhuyung sebab ini pertama kalinya menggunakan sepatu hak tinggi. Sangat sulit di awal, maka dari itu Ara sebelum di jemput ia belajar sedikit demi sedikit untuk membiasakan diri menggunakannya.


"Wanita-wanita yang biasa pake, keliatan gampang banget jalannya. Lah, aku yang pake berasa punya penyakit sakit pinggang," sungut Ara dengan berusaha belajar membiasakan diri. mengenakan heels.


Tok tok


Terdengar suara pintu di ketuk. Ara pun bergegas mengambil Sling bag berwarna hitam yang telah ia persiapkan. Ia pun langsung membukakan pintunya lebar.


Dua manusia saling menatap, yang satu tak menyangka siapa yang datang. Yang satu menatap kagum oleh penampilan Ara yang memukau.


Ara tertegun, "Derry?"


Derry melempar senyum manis ke arah Ara, "Udah siap?"


"Lho, kok kamu yang jemput?" tanya Ara.


"Di suruh Mama," jawab Derry, "yuk, udah siapkan?"


"Udah," jawab Ara.


Ara langsung menutup pintu dan menguncinya. Derry tengah menunggu. Setelah terlihat Ara selesai. Mereka pun berjalan beriringan tanpa berbicara.


"Neng Ara mau pergi?" tanya Kang Odi satpam kos yang Ara tinggali setelah mereka sampai di pelataran.


"Oh, iya Kang." Angguk Ara seraya tersenyum.


Derry meninggalkan Ara yang tengah berbincang dengan Kang Odi menuju mobil untuk membukakan pintu untuk Ara.


Kang Odi mendekat, "pacarnya ya, Neng?"


Ara terkejut mendapati Kang Odi bertanya yang akan membuat dirinya dan Derry pasti nantinya akan canggung. Ara tahu karena Derry dapat mendengar jelas pertanyaan Kang Odi, sangat terlihat tak nyaman. Arah matanya berusaha menatap ke arah lain.


"Bu-bukan Kang, dia adik saya," ungkap Ara.


Kang Odi mengangguk, "Owalah, kirain pacaran. Habisnya gak keliatan kayak adik kakak."


Ara hanya meringis tipis seraya mengusap tengkuknya. Yang Ara maksud adik ipar, bukan adik kandung. Tapi ya sudahlah, terserah Kang Odi menanggapinya seperti apa. Toh, semua orang di sini tidak ada yang tahu bahwa dirinya sudah menikah. Daripada memperjelas dan nantinya malah menambah pertanyaan yang banyak lagi.


"Kalau gitu, saya pamit dulu ya Kang. Assalamualaikum," pamit Ara kepada Kang Odi.


"Oh, iya Neng, mangga."


Ara pun segera masuk ke dalam mobil. Sebelum masuk, ia sempatkan mengucapkan kata terima kasih ke Derry karena telah merepotkan harus membuka pintu untuknya.


___