Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 84


Betapa Rio bingung dengan kelakuan Ara. Kedua tangannya menggenggam hanger-hanger baju, dan ada pula satu hanger berada di mulutnya. Yang memang Ara sengaja gigit agar banyak ia bawa.


"Kamu ngapain?!" Tanyanya sekali lagi karena Rio bingung dengan tingkah Ara.


Cepat Ara meletakan semua itu di sofa dekatnya yang memang ia letakan baju-baju miliknya yang memang ia satukan di sana. Rio pun melihat setumpuk baju di sana.


"Be, beresin baju," jawab terbata Ara.


"Baju?!" Alis Rio naik satu, ia bingung dengan jawaban Ara.


"Buat apa?" Tanyanya.


"Ya, buat di beresin lah." Ara nyengir ala kuda.


Jawaban Ara tak cukup buat Rio. Ia tahu yang sebenarnya, ia membuka kembali pintu lemarinya. Ara ingin cegah, namun terlambat. Ketika pintu lemari terbuka lebar, Ara hanya mematung di sana. Pasrah, ia terima amukan atau marahnya Rio karena baju miliknya di satu ruang bersama.


Ara memejam matanya. Ia tak ingin ketika Rio berbalik badan dan pertama yang ia lihat wajah murka Rio. Ara tak ingin hal itu terjadi.


"Aduh! Mamah kenapa juga naro baju ku di lemari Rio. Apa dia nggak tau sifat anaknya kayak apa. Taro di lantai aja aku ridho banget kok. Ini mah ibarat kata nyawa di ujung tanduk. Habislah!!" Bathinnya, matanya masih betah ia tutup dengan rapat.


"Pasti kerjaan Mamah ini," dalam hati Rio. Siapa lagi yang berani berbuat seperti ini kalau bukan mamahnya.


Rio hanya menghela nafas panjang lalu berbalik badan dan melihat Ara yang sudah menutup matanya. Ara pasti ketakutan, takut bakal di semprot olehnya. Rio menahan tawanya, betapa menggemaskan Ara di saat seperti ini. Ia seperti memahami hal-hal yang tak di sukai darinya. Dan sekarang ketangkap basah, ia hanya bisa pasrah.


Rio mendekat, niatnya ingin menjahili Ara dengan meneriakinya tepat di dekat telinga Ara. Tapi niatnya ia urungkan ketika wajahnya hanya berjarak beberapa senti dengan wajah Ara. Rio benar-benar memperhatikan detail wajah Ara yang cantik.


Yang ia paling suka bagian dari wajah Ara yang ayu adalah bulu matanya yang lentik dan hitam pekat. Jika matanya terbuka, bulu matanya akan terlihat cantik dengan netranya yang hitam.


Ara merasa hembusan nafas hangat membelai pipi kirinya. Ara pun membuka matanya. Ara yang terkejut dengan Rio yang begitu dekat dengannya pun reflek melangkah mundur. Rio sendiri pun begitu, ia mengambil jarak sedikit dan berusaha menampilkan wajah normalnya.


"Bu, bukan aku yang naro baju-baju ini." Ara pun mengambil beberapa baju yang tersisa di dalamnya dengan tergesa-gesa takut Rio akan marah padanya. "Segera aku pindahin ini semua!" Katanya dengan takut. Ara pun tahu diri ini bukan wilayahnya.


Rio termenung melihat kesibukan Ara mondar-mandir mengambil semua baju yang sudah di dalam lemari. Ara terlihat ketakutan, apa dirinya sekejam itu padanya.


Rio cekal tangan Ara yang hendak menaruh bajunya di atas sofa. Sontak Ara berhenti dan menatap bingung ke arah Rio. Ia berfikir Rio benar-benar akan memarahinya bukan atas kesalahannya sendiri.


Bukannya bicara, tangan Rio meraih semua baju yang berada di tangan Ara. Ara hanya melongo dan membiarkan Rio mengambil alih baju-bajunya begitu saja. Yang bikin terkejut adalah Rio menaruh kembali bajunya itu ke dalam lemarinya sendiri.


"Mulai sekarang semua baju-baju kamu taro di lemari ini!" Ucapnya sembari mengambil tumpukan baju lainnya yang berada di sofa dan ia letakan di dalam lemari.


Ara seperti tubuhnya mati rasa. Ia bertanya dalam dirinya sendiri. Apakah ini fatamorgana? Kedua bola matanya hanya melihat gerak gerik Rio yang menaruh semua bajunya di dalam lemari.


"Aku, aku rasa gak perlu," ucap Ara yang tersadar dan mengambil kembali pakaiannya dan mengembalikannya ke tempat semula.


"Kok kamu keluarin lagi?!" Bingung dan kesal Rio.


"Aku bilang gak perlu kita berbagi tempat, biar aku taro baju ku di koper atau di tempat lainnya." Jelasnya dengan kembali sibuk mengeluarkan bajunya.


Rio gemas dengan sikap kekehnya Ara. Ia mengambil kembali pakaian Ara yang di sofa ia taruh kembali ke dalam lemari.


"Hey, kenapa kamu balikin lagi sih?!" Kesalnya dengan lesu ia berjalan ingin mengambil kembali pakaiannya.


Brak!!


Rio terlebih dahulu menutup pintu lemari sebelum Ara sampai. Tubuhnya mengahalangi lemari tersebut agar Ara tak mendekat.


"Mulai sekarang, semua baju, semua barang kamu taro di kamar ini, titik! No protes!" Tegasnya.


Ara menatap sinis, ia melipatkan kedua tangannya. "Kenapa aku gak boleh protes, bukannya kamu gak suka kalau barang orang lain deket-deket sama barang-barangmu. Kenapa sekarang malah maksa?! Di sentuh aja gak boleh, ini pake..."


Gemasnya Rio sudah benar-benar gemas dengan Ara. Tak tahan melihat bibirnya terus mengoceh tak jelas. Rio mengambil langkah besar. Tangan besarnya meraih pinggang Ara, dengan cepat Rio mendekapkan tubuh Ara berada di dekapannya. Lalu...


Tapi percuma, semakin Ara memberontak. Semakin Rio tidak memberikan ruang untuk Ara terlepas. Entahlah sejak kapan mereka kini telah berbaring di sofa. Tubuh Rio mengungkung tubuh Ara.


"Rio, Rio..." lirihnya harap menyudahkan aksinya yang terbilang brutal.


Rio semakin liar, tak puas bermain di bibir tipis Ara. Kini berpindah ke area leher putih nan jenjang. Birahinya naik ketika Ara mengerang lirih dan terus memanggil namanya yang terdengar seksi.


Nafsunya membuncah hebat, bahkan Rio ingin merasakan lebih dari ini. Degupan jantungnya berdetak hebat.


Entah mengapa Ara yang tadi memberontak semakin lama semakin melemah. Bahkan ia menikmati setiap sentuhan yang di berikan Rio. Terasa tubuhnya seperti tersengat oleh aliran listrik kecil. Kedua tangannya meremas apapun di sekitarnya. Memejam matanya rapat, melenguh lirih.


Toktoktok!!


Rio dan Ara terkejut. Degupan jantung mereka berpacu dua kali lipat sekarang. Ara reflek mendorong tubuh Rio. Namun Rio tetap menahan dengan posisinya masih mengungkung tubuh Ara.


"Ada orang!" Bisik Ara.


"Sttt!" Perintahnya untuk tidak menggubris orang yang mengetuk pintu.


"Siapa tau Mamah?!" Tebak Ara.


"Aish!!" Rio memejam mata frustasi ketika Ara menyebut Mamahnya. "Mamah, kenapa Mamah mengacau semuanya?!" Bathinnya kesal sekali.


"Sayang, udah selesai mandinya?" Suara Mamah Fani di luar dengan masih mengetuk pintu kamar.


Dahi Ara mengerut, dengan bola mata melebar. "Tuh, kan!" Kata Ara membenarkan apa yang ia ucap tadi.


Rio terlihat kesal bukan main. Kesempatan emas hilang begitu saja karena Mamahnya sendiri yang mengacau. Tahu, ada sesuatu yang tak nyaman di bawah sana, terasa sesak dan menyakitkan.


"Udah, awas sana!!" Ara sudah kalang kabut ingin segera beranjak.


Dengan berat hati, Rio berdiri. Ia lihat Ara begitu bingung membenarkan pakaian dan rambutnya yang sudah acak-acak.


"Aku yang keluar buat bilang kalau kamu belum selesai." Kata Rio seraya melangkah pergi menuju pintu kamar.


Ara bisa lega sedikit karena Rio mau memberikan alasan untuknya. Karena memang cukup lama dirinya beralasan ingin bersih-bersih. Ara pun tak mau membuang waktu lebih banyak. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


"Say..."


Cklek!!


Rio keluar sebelum Mamahnya memanggil untuk kedua kalinya. Rio keluar dengan wajah kusut, ia pun cepat menutup pintu kamar karena Mamah Fani mengecek dalam kamar seperti menanti menantu kesayangnnya keluar.


"Mana Ara?!" Tanya Mamah Fani.


"Em, bentar lagi keluar Mah. Masih mandi." Jawab Rio.


"Masa belum selesai?!" Heran Mamah Fani


"Namanya juga cewek Mah. Mandi sendiri udah kayak orang lagi tidur di kamar mandi."


"Iya sih, ini kamu mau ke mana?"


"Mau ke bawah, ada barang yang ketinggalan di mobil. Kalau gitu Rio turun ke bawah." pamitnya lalu meninggalkan Mamahnya.


***


Lebih awal dari yang di janjikan...


Happy Reading Guys♥