Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 25


Ara menatap wajahnya ke cermin, ia menangis di dalam diamnya. Tak bersuara namun air matanya menetes deras. Masih teringat jelas foto yang ia temukan di buku milik Rio. Harusnya Ara menolak, tapi tubuhnya tak bisa mengelak. Perasaannya kini seperti tecabik-cabik, mengingatnya begitu jelas. Ara tak mampu untuk menanggungnya lebih dari ini. Ara tak mampu untuk kedepannya harus berhadapan dengan Rio setiap hari.


"Kamu harus kuat Ra. Kamu gak boleh terperangkap di situasi seperti ini. Kamu harus sadar akan batasanmu dengan Rio. Menikah hanya keinginan orang tua, bukan dari kami berdua. Ara harus tegar, harus" Lirih Ara yang menatap dirinya di cermin.


"Semuanya akan baik-baik saja. Gak boleh cengeng Ra" Ara menyeka air matanya dan berganti baju.


***


"Eh?" Ara terkejut saat membuka pintu kamar mandi ada Rio yang tengah berdiri.


"Ada apa ?" Tanya Ara dengan tersenyum.


"Kenapa belum di makan ?" Ara melihat meja yang ada nampan berisi makanan dan secangkir teh.


Rio masih mematung dengan menatap Ara. Ara pun langsung menarik lembut lengan Rio dan menuntunnya ke arah sofa.


"Ayo duduk" Pinta Ara


Rio pun menuruti kata Ara. Ara pun langsung mengambil piring yang berisi makanan dan menyodorkannya ke Rio. Namun Rio hanya terdiam tanpa ekspresi. Ara tersenyum manis kepada Rio.


"Oh Ara tahu Rio gak mau makan sendiri ya. Oke malam ini Ara jadi sosok Ibu semalam dan Rio jadi Anak semalam. Gimana ?" Goda Ara


Rio hanya diam kembali.


"Karena Anak Ibu tidak mau makan. Jadi Ibu akan menyuapi Anak lelaki Ibu." Ucap Ara dengan mengarahkan sendok ke Rio.


"Aa.. Buka mulutnya" Bujuk Ara dengan ala-ala seperti Ibu kepada Anaknya.


Trik Ara berhasil membuat Rio tersenyum dan menuruti perintah Ara.


"Uhhh... Pintarnya Anak Ibu, sekali lagi ya"


Rio akhirnya makan dengan di suapin Ara. Selesai makan Rio pun akan menyandarkan kepala Rio ke pundak mungil Ara.


"Ehh... Ayo mandi dulu" Pinta Ara


Rio hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Ara menarik lengan besar Rio untuk membawanya ke kamar mandi. Rio pun akhirnya mengikuti langkah Ara. Dan sampai ke kamar mandi, Ara membalikkan tubuhnya dan saling berhadapan.


"Udah mandi gih, udah malam banget loh." Ucap Ara lalu hendak keluar, namun Rio kembali mendorong tubuh Ara hingga menyentuh wastafel. Ara menatap terkejut, dan cepat-cepat Ara ingin keluar dari sisi samping. Tapi kedua tangan Rio kembali menguncinya dan menopangnya ke arah wastafel. Ara pun langsung menatap kembali mata Rio.


"Ihh.. Mau apa sih sebenernya ?" Dalam hati Ara


Rio perlahan mendekati wajahnya ke wajah Ara dan hampir bibir mereka bersentuhan namun Ara cepat membuang muka ke arah kanan agar mereka tidak berciuman kembali. Rio yang mendapatkan penolakan Ara, tersenyum lebar.


"Katanya malam ini jadi Ibu, tuntaskan tugasnya sebagai Ibu kepada Anaknya" Bisik Rio di telinga Ara.


Ara terbelalak mendengarnya, seperti terkena sambaran petir. Membuat bulu romanya berdiri seketika.


"Akhhh.. Sakit Ra" pekik Rio yang tiba-tiba Ara menginjak kaki Rio dengan keras.


Tapi kembali Rio pegang pergelangan tangan Ara dan langsung menariknya ke pelukan Rio. Ara sontak terkejut karena ini pertama kalinya Rio memeluk Ara. Rio merapikan rambut Ara yang ada di wajah Ara dengan lembut. Dan perlahan mengecup kening Ara, dengan waktu yang lama. Membuat Ara memejamkan matanya, lalu perlahan Rio melepaskan kecupannya. Perlahan mata Ara terbuka kembali, dan tak menatap wajah Rio.


"Maafkan aku Ra." Lirih Rio


Membuat hati Ara terenyuh mendengarnya.


"Apapun itu" Sambungnya kembali.


Membuat mata Ara berkaca-kaca, Ara tak menngatakan apa pun. Ia melepaskan pelukannya dari Rio sebelum air matanya keluar dan pergi meninggalkan Rio.


***


Derry tak bisa memejamkan matanya padahal sudah jam sepuluhan. Derry memikirkan Ara dengan kejadian tadi siang dan sore hari. Ara marah tapi tidak ada yang tahu alasan Ara marah. Derry bangun dan duduk di tepi ranjangnya.


"Masalah apa ya ?" Gumam Derry.


Derry frusatasi sendiri dengan sikap Ara dan mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Derry melewati kamar Abangnya, dan berhenti sejenak untuk menguping apakah semuanya baik-baik saja.


"Gak ada suara, apa sudah tidur mereka ?" Gumam Derry dan langsung turun ke bawah menuju dapur. Terlihat ada Bi Imah di dapur yang sedang mencuci piring.


"Bi " Panggil Derry


"Iya Tuan ?"


"Bikinin aku secangkir teh susu ya, terus anterin ke gazebo" Pinta Derry


"Oh ya Tuan"


Derry pun berjalan menuju halaman belakang. Di saat di sudah sampai di gazebo, ia hendak duduk namun melihat sebuah buku.


"Buku siapa ini ?" Lirih Derry dan sembari membolak-balik halaman secara acak. Bi Imah pun datang dengan nampan berisi secangkir teh susu.


"Ini Tuan" Ucap Bi Imah.


"Makasih Bi. Oh ya ini buku siapa Bi?" Tanya Derry


"Gak tahu Tuan. Terakhir yang duduk di sini Nona Ara tadi siang" jelasnya


"Oh gitu "


"Kalau gitu Bibi kedalam dapur dulu ya" Pamitnya.


"Iya Bi"


Saat Derry mencoba membuka lembaran demi lembaran ada sesuatu yang terjatuh di selipan antara lembaran buku.