Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 87


Setelah kejadian itu Ara memilih untuk pergi segera ke kamar mandi. Ia putar kran air wastafel, setelahnya ia kunci pintu kamar mandi.


"Sial!" gumamnya.


Wajah yang pucat ia basuh segera dengan air dingin. Berharap ini dapat membantu menormalkan detak jantungnya sekarang.


***


"Kamu nggak papa?!" sentuhan tangan Rio di pundak Ara membuat Ara terkejut.


Rio tadi melihat Ara tengah melamun. Makanya ia bertanya.


Ara mendongak sekejap ke arah Rio lalu menggelengkan kepala. Ia pun melanjutkan sarapannya dengan berusaha menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba memucat ketika Rio hadir.


Kejadian tadi pagi sangat sulit untuk Ara lupakan begitu saja. Ara terlalu polos mungkin. Selama ia hidup belumlah pernah melihat hal seperti itu. Itu cukup berbekas di ingatan. Atau mungkin Ara belum terbiasa. Intinya Ara sulit bersikap dengan keadaan seperti ini.


"Hari ini kamu nggak ke kampus?" tanya Rio.


Lagi, lagi Ara hanya menggeleng dan sekarang tanpa ada kontak mata dengan Rio. Dahi Rio pun melipat keheranan. Dirinya memang tidak merasa berdosa.


Baru saja dua suap masuk ke dalam mulut Rio. Ara sudah buru-buru beranjak pergi dari meja makan. Terlihat Ara seperti terganggu makan paginya ketika Rio datang.


"Mau kemana?" tanya Rio.


Langkah Ara terhenti, ia hanya mampu memejamkan matanya erat dan berkata, " Mau ke atas." ucapnya lalu pergi begitu saja.


***


Rumor di kampus lenyap dengan cepat. Walaupun sebenarnya itu memanglah benar, tapi tetap saja rumor untuknya di lingkungan kampus bukan rumah Rio. Dan Ara sudah dua hari semalam di kampungnya. Bunda mempertanyakan Rio, kenapa tidak ikut atau setidaknya mengantar dirinya pulang ke sini. Ara beralasan dia sibuk tugas kampus dan sekaligus pekerjaannya. Bunda pasti memahaminya.


Setelah makan malam, seperti biasanya. Hal kebiasaan yang tak pernah hilang sekalipun Ara tidak tinggal di rumahnya. Setelah makan, seluruh penghuni rumah akan menonton tv, atau bercengkrama menceritakan masing-masing tentang hari ini. Ara sangat menikmati momen saat ini yang pastinya tak akan pernah ia rasakan di rumah Rio.


"Teh!" panggil Qia yang ikut duduk lesehan di karpet sambil makan cemilan.


"Hem..." sahut Ara yang hanya fokus menonton acara komedi di televisi nasional.


"Teteh udah berapa lama nikah sama Aa Rio?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Ara yang masih saja serius menonton dengan sesekali meraih cemilan yang di pegang oleh Qia.


"Kayaknya," Ara menatap ke arah langit-langit rumah sejenak ia mengingat. "Lima, atau enam bulanan gitu. Ada apa emangnya?"


"Emang belum ngisi?" tanyanya lagi.


Hah, ngisi, maksudnya. Ara tidak paham, yang tadinya fokus menatap layar televisi. Sekarang menatap bingung ke arah Qia.


"Ngisi?! Maksudnya?!" tanya Ara yang benar-benar tak tahu arti kata 'ngisi'.


"Itu loh," Qia mempraktikkan gerakan setengah melingkar di depan perutnya sendiri, Ara hanya menaikan alisnya melihat tingkah sang adik. "Ya ampun, itu loh hamil!"


"Uhuk... uhuk..." Ara terkejut sampai batuk akibat tersedak sebuah keripik yang akan ia telan.


Cepat Ara menyambar jus alpukat yang Bundanya buatkan tadi. Ia hampir menghabiskan setengahnya. Ia letakan kembali, lalu mengusap kasar bibirnya takut jus yang ia minum ada meninggalkan jejak. Ara berdehem, seolah tak ada yang terjadi apa-apa. Padahal pertanyaan Qia sukses hampir membuatnya spot jantung.


Sadar semua mata memandanginya, Ara tertawa untuk mengalihkan sorotan mata mereka ketika acara komedi sedang membuat sketsa lelucon . Ara kembali melirik, mereka tak ubah. Mereka masih menanti, akhirnya membuat Ara menekuk wajah pasrah. Ia tak tahu harus memberikan jawaban apa.


"Apaan sih Qia tanya kayak gitu, kamu kan masih kecil, " ucap Ara. "mungkin memang belum di kasih aja sama yang di Atas." jawab Ara.


"Oh... ya maaf." angguk Qia paham. Dan semua orang pun mengangguk. Jawaban Ara memanglah tepat di saat seperti ini. Mereka semua kembali menonton.


Ara bisa bernafas lega, coba saja ia langsung jawab begitu tadi. Kan langsung beres.


***


Ara kembali ke kamar, ia hendak bersiap tidur. Sebelum tidur ia mencuci muka dan menggosok gigi.


"Boro-boro hamil, di sentuh aja belum. Jangankan di sentuh, liat benda pusakanya aja aku malah takut." batinnya dengan mengingat kejadian lusa lalu yang sampai sekarang membuatnya masih bergidik ngeri.


"Hah!" kaget Ara ketika baru saja keluar dari kamar mandi mendapati sang Bunda yang tengah duduk di sisi ranjangnya.


"Bunda, Ara kaget tau!" protesnya karena sang Bunda tidak mengetuk pintu kamarnya terlebih dahulu.


"Maaf, tadi Bunda udah ngetuk pintu. Tapi kamu nya gak nyaut, jadi Bunda masuk aja." ujarnya.


Ara duduk di depan meja riasnya, biasa ritual perempuan sebelum tidur. Duduknya Bunda bergeser agar lebih dekat dengan putrinya.


"Ada apa Bun?" tanya Ara.


"Em, Bunda pengen me time sama kamu. Udah lama kita nggak ngobrol bareng. Besok kan kamu udah pulang lagi ke Jakarta." ucapnya dengan perasaan sedih karena Ara besok kembali ke Jakarta.


"Bunda, kayak nggak ada hari besok aja. Ara janji kalau ada kesempatan, Ara bakal pulang." Ara mencoba membuat Bunda tidak bersedih ketika dirinya tidak bisa rutin menjenguknya.


"Janji," Bunda mengarahkan jari kelingkingnya ke Ara.


Ara tentu yang melihat hal itu melempar tawa. Ia pun memberikan jari kelingkingnya untuk di tautkan ke jari kelingking sang Bunda "Ara janji."


"Maafin Bunda ya Ra," wajah Bunda berubah seketika menjadi sedih setelah melontarkan sebuah kata maaf.


"Untuk apa Bunda minta maaf?" heran Ara merasa Bunda tidak memiliki masalah apapun dengannya.


"Bunda tau perasaan kamu selama kamu menikah dengan Rio, pasti sulit kan?!" pernyataan Bunda membuat Ara terhenti dari aktivitasnya, ia melihat dirinya dari pantulan cermin yang berada di depannya kemudian melihat sang Bunda tertunduk mungkin merasa bersalah.


Ara menelan air liur kasar, ia ingin berbicara namun terasa tersekat di tenggorokan. Ia berbalik badan agar bisa berhadapan langsung dengan Bunda. Mungkin Bunda merasa bersalah akibat perjodohan ini. Mungkin saja, rasa bersalah telah menggerogoti pikirannya. Bunda terlihat sedikit kurus sekarang. Pasti Bunda banyak memikirkan banyak hal, banyak halnya salah satunya ya putrinya yang telah pergi karena sudah di nikahi oleh suaminya.


Itu membuat Ara merasa sedih. Ia raih jemari Bundanya yang mulai keriput akibat termakan bertambahnya usia.


"Bunda tahu, nggak mudah buat kalian untuk saling jatuh hati. Bunda tahu, kamu sangat tersiksa akan hal itu. Maafkan Bunda, Bunda tidak bisa berbuat banyak." ucapnya sedikit dengan suara parau karena menangis.


Tak sadar air bening yang Ara tahan sedari tadi akhirnya jatuh juga. Ia mendongak, menatap plafon kamarnya dengan perasaan terguncang. Bagaimana bisa Bunda tahu betul apa yang Ara rasakan selama ini?


Apakah ini namanya ikatan bathin seorang anak dan ibu yang kuat?


***