Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 55


"Sayang, kamu udah pulang? " Angel berlarian mendekati Rio sembari bergelayut manja di lengan Rio.


Rio memutar bola mata jengah, berulang kali ia mengembuskan nafas berat.


"Temenin aku ke mall." Ujarnya dengan nada manja.


"Aku capek! Aku mau istirahat." Rio melepaskan rengkuhan tangan Angel dari lengannya dan berlalu pergi meninggalkan Angel.


"Eh? Tap," Angel kesal di abaikan oleh Rio seharian ini. Maksud hati ingin membicarakan hubungan Rio dan sepupunya itu. Malah kini Angel harus menggerutu ulah dua mahluk penghuni rumah ini. Kesal rasanya.


Brak!


Rio menghempaskan daun pintu kamarnya dengan kuat. Dirinya sedang kesal karena Ara. Karena Ara bertemu seorang lelaki di kos an, mungkin itu penghuninya. Mana Ara malahan ikut masuk ke dalam. Rio sebelumnya tidak pernah melihat lelaki itu apalagi mengenal. Namun tampang dan penampilannya boleh juga. Tampan, rapih dan maskulin.


"Masih baik aku kemana-mana." Gerutu Rio ketika mengingat penampilan lelaki itu sambil Rio berkaca di cermin. Bukan waktunya untuk membandingkan siapa yang lebih baik. Tapi Ara milik siapa.


"Ara, kamu punya hutang penjelasan sama aku." Geram Rio.


***


Satu jam sebelumnya.


"Temen mu yang mana?" Tanya Rio kepada Ara, Rio mengitari bola matanya ke sekeliling area.


Ara melepas seat belt, "Ada lah. Ya udah aku turun."


"Eh!"


"Cewek apa cowok? " Rio menarik tas ransel milik Ara ke belakang.


"Ih apaan sih, bukan urusan mu."


"Aku yang nganter, wajib kasih tahu." Paksa Rio dengan tangan masih menarik tas Ara. Baru aja Ara menurunkan satu kaki.


"Eh, perkumpulan supir, perkumpulan tukang ojek se-indonesia mana ada yang nanyain penumpangnya sama customer mau ke rumah siapa, gender apa, pendidikannya tamatan apa, satu rumah tinggal berapa kartu KK. Gak ada !, lagian aku tadi gak minat di anterin kamu. Kamunya yang maksa." Ujar Ara kesal.


"Kalau aku wajib. Bodo amat sama perkumpulan apaan tadi yang kamu sebut. Gak ada kaitannya sama aku."


"Kamu juga gak ada kaitannya sama aku. Lepas!"


"Ada."


"Kalau pun ada...." Ara lolos, ia melepaskan tas yang ia pakai di punggung lalu keluar dari mobil dengan tangkas menarik tasnya kembali yang di pegang oleh Rio.


"... Aku gak mengakui itu." Ujar Ara, menutup pintu mobil kencang. Berlalu seraya memakai tas punggungnya kembali.


Rio hanya ternga-nga di tempat, tadi itu jurusan apa? Gerakan Ara sangat cepat tadi. Dan kini mata Rio menatap ke arah jalannya Ara. Tepat depan mobil, Ara sempat-sempatnya menjulurkan lidahnya. Dengan aksen mengejek Rio.


"Dasar aneh!" Gumam Rio di akhiri senyumnya mengembang.


___


"Assalamualaikum." Ara mengetuk pintu beberapa kali.


"Waalaikumsalam." Jawaban dari dalam sana.


Ara tersenyum tipis, ia mengambil beberapa langkah mundur.


Krek! (Suara pintu terbuka.)


Ara memasang wajah ramah tak lupa senyum manisnya ia torehkan. Dan tangan kanannya siap memberikan lambaian pada sang pemilik kos.


"Ha-" Terhenti, ternyata yang keluar bukan Tasya. Melainkan seorang lelaki dewasa kisaran berusia 20 ke atas. Lelaki itu tersenyum ramah pada Ara. Dengan senyumannya canggung Ara membalasnya.


Lelaki ini, Ara tak menampik dia memang tampan. Bahkan saat dia keluar, dengan pede nya memakai celemek berwarna hitam. Itu tak membuat luntur sisi maskulinnya.


"Nih orang siapanya Ara? Pacar? Atau saudara?" Monolog Ara bingung.


"Em, maaf Tasya nya ada?" Tanya Ara sopan.


Lelaki itu tak pernah pudar senyumnya pada Ara. Ara menjadi canggung di situasi seperti ini.


"Ada, orangnya di dalam. Masuk dulu! " Ujarnya dengan mempersilahkan Ara masuk.


"Makasih." Ara pun masuk ke dalam.


"Duduklah, Tasya bentar lagi keluar. Dia habis mandi."


"Ha! Mandi?" Bhatin Ara sudah membayang ke arah ya itulah.


Ara mengangguk kecil dan tersenyum tipis ke arah lelaki itu. Ara lalu duduk di sofa di sana. Lumayan besar untuk ukuran kos an milik Tasya. Ada dua bedroom, set kitchen minimalis, bathroom, dan ruang tamu plus ada televisi. Kesan mewah juga, dan kelihatan rapih.


Bahkan Ara bisa melihat lelaki itu sedang di dapur dengan lihai tangannya memasak, seperti sudah hari-harinya dia di dapur.


Huss!


Seketika sosok di sana berubah menjadi sosok Rio.


Geleng cepat, "Apaan sih! Malah dia yang di fikiran aku. Huh!" Lirih Ara kesal.


"Maaf ya aku habis mandi, kamu udah lama nunggu nya?" Tasya keluar dengan potongan baju santai, sembari sibuk mengerikan rambutnya pakai handuk.


Ara mendongak ke arah Tasya, tubuh Ara menggoyang sedikit akibat Tasya duduk di sisinya.


"Baru aja."


"Tumben mau ke sini?"


"Gak boleh? Ya udah aku pulang." Ara sudah hampir berdiri, namun di cegah oleh Tasya.


"Eh!" Tasya tertawa.


Ara menatap sahabatnya dengan mengerucutkan bibir.


"Ah elah, gak asik lu. Gitu aja marah, becanda sayang."


"Aku loh serius tanya, ada apa ke sini. Kamunya malah sewot duluan." Tambah Tasya.


"Mau mainlah, bosen tahu di rumah."


"Oh, kebeneran aku tadi Calling Gilang sama Rosa buat ke sini."


"Lah kenapa ngajak mereka? Rosa juga siapa?" Kaget Ara.


"Mana seru cuma kita berdua. Rosa itu temen SMA aku. Kamu mana tahu, dia beda fakultas sama kita." Jelasnya.


"Oh."


"Ah, oh, ah, oh."


"Sya, ajak temen mu makan bareng sama kita." Kata lelaki itu di sana.


"Iya kak." Sahut Tasya.


"Oalah kakak toh." Bhatin Ara baru tahu.


Bel berbunyi.


"Mereka datang tuh." Tasya yang baru ingin melangkah ke dapur, ia berbalik arah menuju pintu masuk.


***