
Ara berbalik badan. Dahinya mengerut memandangi Rio yang tengah menatapnya juga. Mata Ara tertuju ke arah secarik kertas yang Rio bawa. Ara pikir ini adalah kesempatan yang langka. Dengan adanya ini, akhir dari semua permainan ini akan ia akhiri dengan caranya.
Ara mendekat, ia pun duduk di kursi saling berhadapan dengan Rio. Ara tersenyum tipis seraya menarik kertas tersebut.
"Surat perjanjian suami istri." Ara membaca judul dan isinya.
Isinya di jelaskan. Untuk enam bulan ke depan, Ara dan Rio yang memang sedari awal menikah di jodohkan. Rio berinisiatif
untuk memperbaiki hubungan ini. Berharap enam bulan ke depan hubungan mereka semakin membaik. Jika lewat enam bulan tidak ada perubahan, maka akan di pastikan untuk berpisah secara baik-baik.
"Gimana?" tanya Rio.
Ara terdiam sesaat, kemudian meletakan secarik kertas perjanjian di buat oleh Rio sendiri. Ara menatap dalam kedua mata Rio. Jujur rasanya sakit di perlakukan tak jelas, dan sekarang meminta untuk melakukan enam bulan percobaan.
"Aku nggak setuju!" tegas Ara.
"Kenapa? Ini sebuah jalan keluar dengan hubungan kita yang gak jelas ini. " ucap Rio.
"Ini bukan jalan keluar Rio. Aku tau kita menikah karena kedua orang tua kita. Tapi perjanjian konyol ini, aku gak setuju. Kalau pun kamu mau kita berakhir, mending kita akhiri sekarang. Pernikahan yang aku tau, bukan suatu hal yang bisa di permainan kan. Sekalipun kita menikah karena orang tua, setidaknya kita mengambil tindakan yang seharusnya. Bukan perjanjian konyol seperti ini." jelas Ara.
Ara beranjak dari duduknya. Di dalam dadanya berkobar api yang membara. Ara marah.
"Seharusnya yang memberikan kejelasan itu kamu. Gak usah bertele-tele, kita selesaikan ini segera," tegas Ara. "Aku mau cerai!" dengan satu tarik nafas panjang, Ara memutuskan untuk mengakhirinya.
"Apa maksudmu? Ini udah kedua kalinya kamu bicara tentang cerai. Aku nggak mau!" tolak Rio.
"Lalu apa mau mu? Kamu sendiri yang gak kasih kejelasan, kadang kamu baik, gak lama berubah cuek. Kamu cemburu kalau aku deket sama Gilang, jangankan Gilang adikmu aja kamu cemburuin. Sekarang kamu buat perjanjian konyol ini, maksudnya apa? Sekarang aku minta cerai, kamu nolak."
Rio terdiam, mencerna semua kata-kata Ara barusan. Ia sadar sekarang, memang ia seperti mahluk terbodoh yang hidup di dunia ini. Dia tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Kadang dirinya baik, lalu berubah cuek. Tidak suka melihat Ara yang selalu bertemu dengan Gilang maupun adiknya sendiri.
"Aku tau, aku memang gak pantes buat kamu. Aku tau keresahan kamu selama ini. Ingin mengakhiri pernikahan ini, tapi kamu memikirkan gimana orang tua mu dan orang tua ku. Aku nggak egois, aku tarik kata cerai ku. Biarlah pernikahan ini tetap apa adanya, nggak perlu ada perjanjian apapun di antara kita. Ayo, kita sepakat untuk berpisah setelah kelulusan. Aku tau ini beban buat kamu, aku tau kamu pasti menginginkan sebuah pernikahan yang kamu inginkan. Aku paham." setidaknya Ara tahu diri.
"Maksudmu Ra?"
"Gak usah kita sia-sia in enam bulan ke depan untuk perjanjian ini kalau akhirnya di paksakan. Lebih baik kita cerai di saat yang tepat. Aku yakin, orang tua kita akan paham nantinya. Aku udah pernah bilang untuk membuat dunia kita beda walau satu atap. Kita kesampingkan pernikahan yang ada. Toh, bukan kita yang menginginkan pernikahan ini. Jadi kamu gak susah payah untuk berusaha keluar dari ini semua." ungkap Ara.
Rio terdiam, memaku tak tahu harus berbicara apa. Dirinya memang idiot, kalau suka tinggal bilang suka. Ara sudah memberikan jalan lebar untuknya yang bisa saja mengungkapan perasaanya yang sejujurnya. Suka katakan suka, tidak katakan tidak.
Ara tak lagi tidur di atas ranjang. Ia kembali ke habitatnya yaitu sofa. Memang sedih jika sudah begini. Hubungan tidak ada kejelasan, yang jelas-jelas Rio menyukai dirinya.
"Dasar cowok gak peka. Emang aku ini saham apa barang main ada perjanjian-perjanjian segala. Bebel kali otaknya, apa mata hatinya ketutup sama rasa gak peka nya. Ada kesempatan pasti dia main nyosor, sekarang di mintai kejelasan kaya orang amnesia mendadak. Sebenernya dia suka aku apa nggak sih? Apa aku cuma buat pelampiasan doang?" pikir Ara yang semakin kemana-mana.
Di waktu yang sama. Rio kembali duduk di kursi, menatap secarik kertas yang di atas meja. Rio kembali mengingat-ingat apa yang di katakan Ara. Ada rasa sesal yang mendera di dada Rio. Rio menilai dirinya sebagai lelaki tidak kompeten dalam menjalin hubungan asmara. Lelaki yang tidak peka, lelaki yang egois.
Kalau di pikir lagi, siapa yang salah sekarang. Rio mengakui dirinya salah, sebab dia lelaki tak paham akan keadaan. Bisa-bisanya ia mendekati Ara, cemburu ketika Ara berdekatan dengan seorang pria selain dirinya, merasa nyaman dengan Ara. Tapi ada masanya ia berbuat jahat, yang membuat Ara kebingungan.
Masalahnya jika tidak suka kenapa harus ada kedekatan intim. Namun sekali di tanya Rio tak bisa memberikan jawaban atas apa yang dia lakukan selama ini.
Yang jelas, Rio belum dewasa untuk membina rumah tangga. Jangankan membina rumah tangga, untuk mengatasi hal asmara seperti ini ia kebingungan dan lepas tangan.
Usia yang belum di katakan cukup sebagai seorang pria, mental yang belum siap, dan cara berpikir secara matang. Masalah finansial, Rio bisa. Nyatanya ia sudah mengembangkan bisnisnya di waktu masa SMA bersama teman-temannya. Dan menghasilkan.
Jika ingin jahat, ya yang salah orang tua mereka yang menginginkan sebuah pernikahan di kala usia anak-anaknya belum siap. Demi memenuhi keinginan orang tua, anak menjadi korban.
Rio gusar, isi kepalanya ingin pecah. Wajahnya muram. Dia seperti putus asa.
___
Sudah tiga hari setelah kejadian pertengkaran mereka di malam hari. Rio dan Ara hampir tidak saling menyapa. Tinggal satu rumah, tapi seperti hidup di dimensi lain.
Ara diam, Rio pun cuek. Tidak ada yang memulai obrolan untuk mencari jalan keluarnya. Mereka sama-sama diam dengan isi kepala yang berbeda.
"Bi, Ara udah pulang?" tanya Rio kepada Bi Imah.
Bi Imah yang tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka. Hanya bisa diam, dan berdoa agar semua masalah terselesaikan dengan baik. Rio masih saja perhatian dengan Ara. Setiap dia bangun pagi melihat Ara sudah tidak ada di rumah. Ia tanya dengan Bi Imah. Begitu pun ketika dirinya pulang, ia akan tanya. Apakah Ara sudah pulang.
"Belum, Tuan." jawab Bi Imah.
Lagi-lagi Rio hanya bisa menghela napas panjang. Kakinya terasa berat melangkah jika mendengar Ara belum pulang.
____
Mohon maaf ada kesalahan 🙏. Seharusnya episode 93 ini. Author kurang teliti, mohon maaf atas kesalahannya dan ketidak nyamanan. Jadi ini aku up yang seharusnya. Makasih atas pengertiannya, karena kesalahan yang membuat bingung pembaca yang sudah membaca episode 93. Langsung tiga episode... Happy reading 😊