
Mamah Fani mondar-mandir sesekali memijat pangkal hidungnya di depan Rio yang sekarang seperti mayat hidup.
Ada wajah amarah, khawatir dan kecewa dengan apa yang telah Rio lakukan selama ini terhadap Ara.
Seminggu sudah Rio ke sana kemari mencari Ara namun tak kunjung ketemu. Resah di hati semakin menjadi-jadi. Ia sudah tidak tahu lagi mencari Ara kemana. Bisa di bilang satu kota Jakarta sudah ia jelajahi. Bahkan Rio meminta bantuan Alex dan teman-teman lainnya untuk mencarinya.
Kalau di pikir Ara pergi tak jauh. Sebab Ara masih banyak jalan dan tempat yang belum pernah ia kunjungi. Karena Rio tidak bersedia menemani Ara berkeliling kota Jakarta. Rio sendiri tidak tahu sudah kemana saja Ara selama tinggal di sini. Ini membuat Rio semakin merasa bersalah.
Jam tidur, penampilan, waktu makan, sudah tak Rio pikirkan lagi. Yang di otaknya sekarang adalah Ara dan Ara. Semakin frustasi semakin gila rasanya mencari Ara yang tak pernah ketemu. Rasanya ingin nyerah, tapi Rio tak ingin menyerah begitu saja. Bahkan ia rela jujur dengan Mamah Fani apa yang sudah ia lakukan dan terjadi selama menikah dengan Ara.
Alasan Rio memberitahukan semuanya, semua apa yang terjadi di dalam rumah ini dengan sangat detail, karena Ara. Rio berharap Mama Fani mau membantu berbicara dengan Ara. Rio berpikir ini adalah jalan terakhir setelah seminggu ini ia kacau untuk mencari keberadaan Ara dan sudah tidak tahu lagi harus kemana.
Mamah Fani jelas kecewa berat dengan tingkah laku Rio yang tak di sangka-sangka. Hatinya saja sakit mendengar keseluruhan cerita Rio. Apalagi Ara yang mengalami semuanya sendiri.
Sudah puas Mamah Fani memaki dan memukul-mukul anak sulungnya itu dengan perasaan hancur setelah mendengar cerita sang anak. Rio hanya pasrah, dan memang ini harus ia terima.
"Astaga Rio, kamu keterlaluan! Gimana bisa kamu lakuin semua itu ke Ara?! Nasib Ara gimana di luar sana, dia di sini gak punya saudara atau kerabat dekat selain kita. Tega kamu ya, perasaan kamu itu loh gak di pake apa? Mamah sama Papah gak pernah kasih contoh atau ngajarin kamu sama sekali buat gak menghargai perempuan ya terlebih dia itu istri kamu," terang Mamah Fani.
Entah terakhir kali kapan Rio menangis. Matanya mulai berkaca-kaca, dan pelupuk matanya sudah tak bisa membendung semua air matanya yang sekarang menetes tanpa ia minta. Perkataan Mamah Fani ada benarnya, dirinya sungguh keterlaluan melakukan hal yang menyakitkan ke Ara gadis yang memang awal bertemu terlihat gadis yang baik dan sopan.
"Maafin Rio Mah," lirihnya penuh penyesalan.
"Maaf, seharusnya kata maaf itu buat Ara, Rio. Kami gak ngehargain Bunda Nisya, mertua kamu. Kamu gak ingat pesan beliau untuk menjaga Ara setelah kamu nikahi!"
Mamah Fani yang sudah tak tahan berhadapan dengan putra sulungnya itu langsung mengambil tas pergi begitu saja meninggalkan Rio.
Rio tak ingin menghilangkan kesempatan ini untuk sekali lagi membujuk Mamahnya agar mau membantu dirinya. Rio langsung berlari menyusul Mamah Fani yang hendak membuka pintu mobil.
"Mah, Mamah, tunggu Rio!" teriak Rio.
Anaknya memanggil, Mamah Fani mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Ia menatap Rio yang berusaha menghampirinya.
"Ada apa?"
Rio terduduk, Mamah Fani terkejut dan reflek mengambil langkah mundur. Ia tak percaya anaknya begitu gigih memohon padanya. Terlihat matanya yang sudah sembab, wajah yang lesu. Rio menatap memohon.
"Mah, tolong Rio kali ini aja. Rio janji bakalan memperbaiki semuanya dari awal. Rio janji bakal mencintai Ara sepenuhnya melebihi diri Rio sendiri. Rio janji gak akan bikin Ara menderita, menangis, dan sedih lagi. Rio janji akan tetap jaga pernikahan ini, Rio sekarang benar-benar menyesal Mah. Rio benar-benar ingin Ara kembali, tolong bantu Rio Mah. Pasti Ara mau dengerin Mamah," mohonnya dengan air mata berurai.
"Tanpa kamu minta, Mamah pasti cari Ara sampai ketemu. Tapi yang lainnya Mamah gak bisa bantu, kamu sendirilah yang harus menyelesaikan semuanya karena kamu sendiri yang membuatnya semakin rumit, Rio."
Mamah Fani akhirnya masuk ke dalam mobil. Meninggalkan anaknya yang masih terduduk dengan wajah putus asa di sana. Hatinya pun ikut hancur, siapa yang tega melihat anaknya sedang kesusahan tapi dirinya sebagai orang tua harus bijak dalam megambil keputusan dan menyelesaikan masalah yang ada.
Rio kembali menangisi dirinya yang payah. Apa yang di katakan mamahnya ada benarnya. Apa yang sedang terjadi, harus dirinya yang menyelesaikannya dengan harapan Ara tetap bersamanya.
___
"Mbak, kenapa baru di ambil?" tanya wanita pemilik counter sembari memasuki hape miliknya dalam paper bag.
Ara mengulum senyum tipis seraya menyodorkan kartu ATM miliknya. "Baru sempet mbak."
"Oalah, aku pikir Mbaknya lupa loh," terkekeh wanita pemilik counter seraya menyodorkan paper bag dan ATM milik Ara.
"Enggaklah Mbak, soalnya ini benda penting yang saya punya. Makasih ya Mbak," ujar Ara yang langsung pergi berlalu.
"Iya, sama-sama."
Ara mampir ke tempat warung sederhana, untuk membeli beberapa minuman dan makanan ringan. Saat ia menunggu giliran untuk membayar ia sempatkan mengambil hape yang sudah enam hari ini ia bawa ke counter karena hapenya tak sengaja jatuh dan mengakibatkan kerusakan fatal hingga hape Ara tidak bisa di hidupkan kembali.
Terpaksa ia bawa ke counter untuk di servis, karena betapa pentingnya isi hape tersebut. Bukannya ia tak mampu membeli yang baru, tapi jika masih bisa di gunakan kenapa gak.
Dan sengaja juga ia baru ambil. Karena memang Ara butuh healing, butuh kesendirian, butuh menenangkan diri.
Setelah hapenya aktif, langsung panggilan dan chat masuk banyak sekali. Yang bikin terkejut panggilan Rio yang lebih banyak, dan chatnya. Ia tahu sekarang Rio mencari dirinya tepatnya dimana sekarang dirinya tinggal karena setelah Ara pergi dari rumah Rio. Ara sama sekali tidak banyak melakukan aktivitas di luar. Bahkan kerja, Ara meminta shift malam dulu. Menggantikan Intan.
Pertama kali panggilan masuk di hapenya setelah sekian lama ia tak aktif. Ara tertegun, jantungnya berdebar. Ia masih saja memandangi nama yang tertera di layar ponselnya. Agak ragu untuk menggulir tombol hijau.
"Mbak, buruan, giliran," tegur wanita di antrian setelah Ara.
"Oh, iya, maaf Mbak," Ara mengangguk dan langsung menaruh belanjaannya untuk di total.
___