
Tak lama Rio turun, melihat Rio turun. Mata Ara dan Angel langsung menatap Rio. Yang satu menatap penuh cinta, yang satu menatap penuh kengerian.
Angel langsung berlari kecil dan tanpa basa-basi memeluk Rio. Rio terdiam layaknya patung. Matanya hanya memandang satu arah yaitu Ara yang menatap dirinya dengan tatapan sayu.
"Angel, lepasin!" Rio melepaskan diri dari pelukan Angel.
"Ah, gak usah malu. Aku tahu kok, kamu masih sayang sama aku." ujar Angel dengan nada manja.
Rio tersentak dengan apa yang Angel bicarakan.
"Apa-apaan sih, kapan juga aku bilang."
"Loh, tadi malem. Tadi malem kan kamu nyelamatin aku, terus kamu bilang ke mereka yang jahat kalau aku pacar kamu. Itu kan artinya kamu masih sayang kan sama aku." jelas Angel dan langsung memeluk Rio lagi.
Angel jelas salah paham. Rio berusaha menjelaskan arti dari ucapan dia tadi malam ke Angel. Karena suasana di antara Rio dan Ara tidak sedang dalam baik-baik saja.
Baru beberapa jam mereka berbaikan. Rio tentu saja tidak mau membuat Ara sedih karena kesalahpahaman yang terjadi.
Ara tak sanggup lagi mendengar celoteh manja Angel dan melihat kepura-puraan Rio ketika tidak di depan Angel. Ara tahu, Rio merasa tak nyaman di peluk Angel jika dirinya melihat. Makanya dia sok-sokan menolak tindakan Angel.
"Ini sarapan kalian!" ucap Ara yang selesai menyiapkan sarapan.
Seharusnya sarapan ini untuk mereka bertiga, Rio, Angel dan dirinya. Tapi keadaan gak seharusnya dirinya menganggu suasana. Mending Ara melipir meninggalkan mereka berdua.
"Makasih, Ra." sahut Angel yang masih sibuk mengeratkan pelukannya ke tubuh Rio. Kalau ada lem pastinya Ara akan memberikan mereka sepabrik biar mereka tidak terpisahkan oleh waktu.
Ara berlarian kecil menaiki anak tangga. Ia merasa kecewa telah termakan rayuan manis Rio semalam. Enggak seharusnya ia luluh begitu saja.
Rio pun sudah kalang kabut melihat situasi yang berantakan lagi karena Angel. Rio jengkel dengan Angel, ia lepas kasar pelukan Angel dari dirinya.
"Aw! Sakit!" ringis Angel.
"Gue minta, lo keluar dari rumah ini secepat mungkin. Gue bilang lo pacar gue semalam. Gak lebih untuk cuma nyelamatin dari kesialan lo. Perasaan gue gak akan balik kayak dulu. Paham!" sentak Rio lalu pergi meninggalkan Angel yang beraksi syok karena ia baru pertama kali di perlakukan kasar oleh Rio.
Rio lari menuju kamarnya. Ia akan menjelaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Angel. Segera Rio membuka pintu kamar.
"Ra, aku bisa jelasin semuanya!"
Dan Rio bingung dengan Ara yang sedang sibuk membereskan barang dan bajunya ke dalam koper.
"Ra, kamu mau kemana?" tanya Rio yang langsung mencekal pergelangan tangan Ara.
Ara hanya diam, tangan yang di genggam Rio ia hempaskan. Ara melanjutkan memasukan barang-barang miliknya. Kedua matanya basah, terlihat wajah sedih dan kekecewaan yang telah di buat oleh Rio.
Rio lemas, ia seperti tak tahu harus berbuat apa. Ia pun ikut terdiam melihat Ara sibuk memasukan segala barang dan bajunya.
"Kamu, pulang ke rumah Bunda kan?" tanya pelan Rio berharap pertanyaannya benar.
Ara selesai meletakan semua barang miliknya. Ia raih tas jinjingannya. Sekarang ia berhadapan dengan Rio yang tengah menanti jawaban darinya.
"Aku nggak pulang ke rumah Bunda." jawab Ara.
Rio kaget, tapi ia harus berpikir positif. Mungkin mau ke rumah orang tuanya.
"Ke rumah Mamah?" tanyanya.
Perasaan Rio mengatakan ini hal yang buruk. Suasananya menjadi kembali lebih tegang. Dalam hati Rio sudah tidak nyaman. Karena Ara tidak berkata iya atau tidak Deri pertanyaan terakhirnya.
"Aku kemarin cari sewa kamar untuk aku tinggali."
Rio benar-benar kaget bukan main. Tidak pernah terpikirkan sedikit pun jika Ara sampai melangkah jauh. Berpisah ranjang mungkin saat ini membuat dirinya sedih. Apalagi sampai pisah rumah. Rio tidak bisa membiarkan Ara keluar dengan mudah.
Rio mendekat, mencoba meraih tangan Ara. Namun Ara menolak. Ara seperti tahu, Rio tidak merelakan dirinya pergi begitu saja.
"Ini keputusan aku. Semalam seharusnya kita bicara, tapi kamu pulang dengan keadaan yang kacau. Dan semalam sempat aku berpikir untuk menunda kepindahan aku karena aku berpikir pendek kalau kamu mau mengulang lagi dari awal. Semalam seperti awalan yang bagus untuk kita." ucap Ara tersendat, ia menarik napas panjang.
"Kejadian tadi cukup menyadarkan aku. Apa yang terjadi semalam hanya ilusi ku yang berlebihan. Kamu masih memiliki perasaan untuk Angel. Aku nggak bisa hidup seperti ini terus menerus, mau sampai kapan." tambah Ara semakin pilu terdengar.
Ara sudah bersiap pergi, ia genggam gagang koper.
"Ara, dengerin aku dulu. Apa yang Angel bilang nggak bener. Ra," Rio mencoba mencegah Ara untuk tidak pergi.
Ara tak menghiraukan Rio lagi, Ara benar-benar kecewa sangat dengan Rio. Ara pergi tanpa mau menoleh Rio yang masih memanggil namanya.
Ara sudah terlanjur kecewa dengan sikap Rio yang tak jelas. Yang di pikirannya sekarang adalah secepatnya berpisah dengan Rio. Ia tak ingin terus menerus di permainkan seenaknya Rio.
Ketika sudah di lantai bawah, Angel kebingungan dengan situasi sekarang. Apalagi melihat Ara membawa koper besar keluar. Membuat Angel bertanya-tanya ada apa.
"Ara, kamu mau kemana?" tanya Angel menghampiri Ara.
Ara hanya menatap sedih ke arah Angel tanpa mau berhenti. Ara terus melangkah dengan menarik koper besar keluar dari rumah.
Angel hanya menatap bingung melihat Ara pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan darinya. Di tambah Rio turun dari lantai dua dengan tergesa-gesa serta memanggil nama Ara.
"Ara, tunggu!! Dengerin penjelasan aku dulu, Ra." teriak Rio.
Angel yang ingin mencegah Rio pun ia urungkan. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi. Belum lama ia mengobrol hangat dengan Ara. Sekarang seperti pertengkaran sebuah hubungan yang rumit.
Rio kembali masuk, wajahnya begitu cemas. Angel mencoba mendekati Rio yang sedang berjalan cepat.
"Rio, Ara kenapa?" tanya Angel membuntuti Rio yang berjalan cepat menuju ke lantai atas.
Rio hanya diam, ia tetap berjalan. Angel semakin bingung sekaligus penasaran.
"Rio, aku tanya Ara kenapa? Kalian berantem? Masalah apa? Bukannya tadi pagi Ara baik-baik aja. Sekarang kok tiba-tiba dia keluar pergi bawa koper segala. Kalian ada masalah apa sih?" rentetan pertanyaan Angel terlontar.
Rio sesekali memejamkan mata. Perasaanya campur aduk sekarang. Pusing dengan masalah yang tak kunjung selesai. Di tambah ia memperkeruh suasana dengan membawa Angel pulang ke rumah.
Tangan menyambar kunci mobil di meja. Tanpa memperdulikan adanya Angel yang sedari tadi mengikutinya. Berulang kali Angel bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Bergegas Rio turun, Angel pun mengikuti. Hingga di lantai bawah, Angel masih saja cerewet bertanya sampai-sampai membuat gendang telinga Rio terganggu.
"Rio, jawab! Ara kenapa?" tanya Angel.
"DIAM!!!" bentak Rio hingga menggema ke seluruh ruangan.
___