Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 62


"Bodo amat, awas aku mau pergi," pinta Ara, masalahnya Rio me-blocking kursinya untuk Ara tidak bisa pergi dengan mudah.


"Rio..." Dongak Ara ke atas untuk bisa memperlihatkan wajah kesalnya ke Rio.


"Ara..." bukannya takut ketika Ara menunjukan wajah galaknya, Rio semakin berani mengikis jarak antara wajah mereka sampai Ara harus menghindarinya.


"Awas jangan deket-deket!" Lengan Ara gunakan untuk menahan tubuh Rio agar tidak terlalu dekat.


"Mau apa sih?!" Tanya Ara.


Rio menatap lamat-lamat mata Ara yang bermanik cokelat pekat cukup lama. Ara yang sadar di perhatikan demikian, membuat pipi Ara merona. Bagaimana tidak, Rio menatap dirinya begitu intens. Pastinya jantung Ara tak bisa di ajak kerja sama untuk tidak berdetak begitu cepat.


"Kenapa kamu pergi sama Derry?" Tanya Rio.


Ara berjengit heran, alisnya naik sebelah karena bingung dengan pertanyaan Rio.


"Kenapa? Ya dia anter aku ke kampuslah," jawab Ara.


"Iya kenapa?"


"Apa sih, gak penting tahu gak!"


Memang tidak boleh ia pergi dengan siapa saja, bahkan dengan adik iparnya sekalipun. Ara bahkan tak pernah melarang dirinya untuk pergi dengan siapa pun, bahkan membawa kekasihnya ke rumah saja Ara tak pernah meributkan hal itu.


Rio masih saja menatap Ara dengan tatapan mengintimidasi.


"Aku yang yang minta di anterin, aku yang janji sabtu kemarin buat anter aku ke kampus. Puas!" Bola mata Ara memutar dengan malas.


"Mulai sekarang jangan pernah deket-deket sama Derry!"


Hah? Gila dia?


"Hak aku mau deket sama siapa aja sekalipun Derry , emang kenapa, toh, kamu bukan siapa-siapa aku!" Ara tak mau mengalah begitu saja dengan peraturan Rio yang tak masuk akal.


Rio semakin mengungkung tubuh Ara, eratan tangannya di badan kursi semakin mengerat dengan bersamaan urat-urat lehernya menonjol begitu jelas.


Ara sebenarnya takut melihat Rio marah seperti ini. Tapi ia harus mempertahankan harga dirinya yang sebelumnya dengan mudah Rio injak-injak.


"Udah jelas kan, tolong minggir!"


"Aku suami kamu Ra, kamu gak bisa gak ngaku hubungan kita begitu aja, gak ada yang bisa merubah status istri yang udah melekat di identitasmu, kamu harus ingat itu!"


"Cih!" Sesaat Ara membuang muka ke arah mana saja.


"Emang ada wanita yang mau mengakui hubungan ini hanya sepihak aja. Di saat wanita mengakui hubungan ini, tapi di mana lelaki tersebut?


Sekarang ketika wanita sudah lelah, sekarang lelaki yang entah hilang kemana. Tiba-tiba seenaknya datang dan menuntut wanita untuk harus mengakui, waras!"


Air muka Rio berubah seketika, selalu benar apa yang di katakan Ara. Ia banyak menuntut, sedangkan Ara tidak sama sekali.


Perkataan Ara memiliki arti yang mendalam sama halnya tentang perasaannya. Jika memang Rio tidak bisa perlahan membuka hati untuk Ara.


Tapi setidaknya menghargai Ara sedikit saja, tidak meminta di akui sebagai istri, tapi sebagai wanita yang tak pernah di cap sebagai wanita murahan yang hanya ingin hartanya saja.


Tidak semua wanita menikah dengan lelaki berharta hanya ingin menikmati harta semata. Toh, dirinya tidak memaksa adanya pernikahan ini terjadi. Justru keluarga pihak dari lelaki yang memaksa. Kenapa kenyataan menutupinya seolah-olah Ara lah yang gila harta.


"Jangan pernah perduli tentang aku, aku gak butuh itu semua! " Ucap Ara tegas.


"Permisi!" Dengan mudah Ara menepis kungkungan Rio, padahal tadi Ara berusaha melepas tapi tidaklah semudah ini.


Rio sedari tadi diam, memejamkan mata sesaat setelah Ara keluar dari kungkungannya.


Ada perasaan ngilu di hati Rio setelah Ara mengatakan itu. Sedangkan Ara merasakan sedikit kelegaan.


Sedalam itu kah kebencian Ara padanya, kata-kata Ara cukup menyakiti perasaan Rio.


"Eum, dan satu lagi..." Ara berbalik badan menghadap Rio.


"...Ara mohon jangan ikut campur dalam urusan Ara, apapun itu!"


Ara kembali berbalik, namun di cegah cepat oleh Rio, menarik lengan Ara dan berakhir masuk ke dalam pelukan Rio.


Tangan besar Rio menangkup wajah Ara, sesaat mata mereka bertemu satu garis lurus. Berbicara lewat mata mungkin hal yang konyol, namun jika tatapan mata mengatakan hal kebenaran tentang perasaan mereka masing-masing yang tak bisa di artikan begitu saja mungkin itu bisa tapi belum menyadari saja.


"Mau apa dia?!" Ara di buat gugup, tatapan Rio terlalu menguasainya.


Ara memberontak, kedua tangannya mencengkram lengan Rio untuk melepaskan tangan Rio dari wajahnya, tapi ia selalu gagal.


"Mau apa?!" Mata Ara melotot.


"Sampai kapan pun kau selalu milik ku, selamanya!" Ucap Rio penuh penekanan membuat Ara semakin membulat matanya terkejut.


Apakah dirinya sedang berhalusinasi hebat?


Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa babibu ia meraup lembut bibir Ara dengan lembut tanpa nafsu. Awalnya Ara terkejut dengan aksi Rio tiba-tiba, bahkan Ara sempat memberontak. Namun semakin lama kaki Ara menyamai tingginya Rio, sedangkan tangannya yang mencengkram kuat lengan Rio berubah melemah. Matanya perlahan terpejam, mun*fik jika dirinya tidak menikmati setiap sentuhan lembut dari Rio.


Jatungnya berpacu lebih kencang, tubuhnya berdesir merasakan setiap sentuhan bibir dari Rio. Mendengar nafas yang berat dari Rio, Ara semakin menggila.


Ara lupa segalanya, ia bahkan menikmati kecupan Rio yang membawa Ara lupa. Pejaman mata Ara menjawab, bahwa dirinya menikmati. Rio tersenyum menyeringai mengetahui Ara memejamkan mata.


"Tunggu dulu, aku ambil buku aku di kelas," wanita itu masuk ke dalam kelas tak sengaja melihat adegan yang mencengangkan membuatnya terpaku terdiam.


***


Maaf dikit dulu ya.