Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 80


"Mama akan tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan," ucapnya tiba-tiba membuat Ara tersedak.


"Uhuk... uhuk..."


"Ini minumnya..." Mama menyodorkan air minum, segera Ara menerima lalu meneguk air tersebut hingha habis.


"....pelan-pelan sayang," tambahnya.


Rio tersenyum tipis, ia tahu Ara terkejut dengan keputusan Mama Fani yang tiba-tiba untuk tinggal sementara di rumah mereka. Jelas, Ara malam ini akan kembali tidur di kamarnya.


Ara berdehem setelah minum menghabiskan setengah gelas. Kenapa ia bersikap berlebihan sekali di depan Mama mertuanya dan juga Rio.


"Udah selesaikan!" Rio beranjak dari duduknya.


Ara sedikit mendongak, apakah Rio berbicara dengannya?


"Aku?" tunjuknya sendiri.


"Iya, kita ke kampus?" ajaknya.


"Hah?!" **** Ara.


"Ke kampus? Maksudnya kamu ngajak aku?" polos Ara.


Bukannya menjawab, Rio malah terdiam dengan mata melotot ke arah Ara. Ara menggeleng tipis seolah ia tak paham.


Mama Fani terlihat bingung dengan bicara Ara barusan. Kenapa tanggapan Ara seolah-olah baru pertama kali di ajak oleh Rio. Ini membuat Mama Fani meletakan kecurigaan pada mereka berdua.


"Ara..." panggil Mama lembut.


Ara pun menoleh ke Mama dan menjawab panggilan Mama "Iya ma?"


"Emang Ara kalau berangkat ke kampus gimana?" tanyanya mengintrogasi, membuat Ara berfikir mencerna apa yang di katakan Mama Fani barusan.


"Gimana apanya Mah?" tanyanya sekali lagi.


Rio mulai resah jika Ara akan menjawab jujur kalau selama ini Ara berangkat sendiri tanpa Rio. Padahal satu kampus, dan mereka suami istri. Kalau Mama sampai tahu, bisa ambyar.


"Maksud mama, kamu biasa berangkat sendiri atau bareng sama Rio?" perjelas mama.


"Ara, gue mohon jangan bilang berangkat sendiri," bathinnya berdoa agar Ara berkata yang tidak memantik api di antara putra dan ibunya di pagi hari karena kepolosan Ara.


"Oh, Ara biasanya..." Ara terkejut ketika Rio meraih lengan Ara dan memaksa Ara untuk segera beranjak dari kursi.


Mama Fani pun reflek ikut beranjak dari duduknya.


"Ma, kita ada kelas, dan kita hampir telat. Tanya-tanyanya nantian aja ya, Ma," ucap Rio lalu segera membawa Ara pergi dari wahana roll coaster yang membuat jantung Rio seperti di permainkan.


"Eh, belum pamit," ujar Ara seraya menyambar tas ranselnya.


"Kita berangkat ma, assalammualaikum!" seru Rio seraya terus melangkah dengan masih menarik lengan Ara agar segera keluar secepat mungkin.


"Waalaikumsalam," lirih Mama Fani.


Ia hanya menggeleng kepala terheran, walau Rio sudah mulai dekat dengan Ara. Tapi perlakuannya tidak lembut. Ini menjadi PR baru untuk mama Fani agar mengubah sifat Rio.


---j


"Pelan-pelan Rio, sakit," paparnya terus berulang kali mengeluh.


"Maaf," ucap Rio langsung melepas cengkramannya dari lengan Ara.


"Aw!" Ringis Ara mengeluh sakit di bagian lengannya akibat Rio terlalu kuat memegangnya.


"Bisa pelan gak sih, aku kan perempuan," protes Ara sambil mengusap lengan kirinya.


"Sorry, gak sengaja," ucap Rio tulus, ia menyesal telah berlaku kasar dengan Ara.


"Kenapa harus segala pake acara nyeret, ngomong baik-baik kan bisa," ketus Ara dengan mlengos pergi melewati Rio.


"Eh, mau kemana?" tahan Rio menghalangi jalan Ara.


Ara menyingkirkan hama seperti Rio ke samping. Ia masih dongkol dengan sikap Rio barusan memaksanya dengan kasar. Sekarang pake tanya mau kemana. Jelas mata Ara melebar dengan tajam.


"Mau ngamen, ya mau kuliah lah," ketusnya.


"Pake tanya lagi," gumamnya tanpa memandang Rio yang balik lagi berhadapan dengan Ara.


"Ya kalau gitu, masuk ke mobil," perintahnya seraya mempersilahkan Ara untuk duduk di kursi samping pengemudi yang telah Rio buka pintu mobilnya.


Menghela nafas kasar, "Gak mau!" tegas Ara dan langsung melangkahkan kaki..


"Eh..." Rio menarik lengan Ara agar kembali ke tempat semula.


"Apa sih?!" Ara melepas kasar dari genggaman Rio.


"Gak ada kata nolak!" bisiknya namun tegas.


Ara memberontak berusaha melepas genggaman Rio dari pergelangan tangannya.


"Mama, tolong!" bisiknya melemah.


Ah, iya, kenapa iya bisa lupa sih?


Mau tidak mau Ara pun nurut untuk masuk ke mobil Rio. Yang artinya ia akan berangkat ke kampus bersamanya.


Pandangannya tak lepas mengintimidasi Rio. Ara berlalu memasuki mobil seraya melepas kasar tangannya dari Rio.


---


"Sudi banget satu mobil bekas duduknya si perempuan itu," desisnya lirih dengan memasang raut wajah jengkel.


"Apa?" tanya Rio


Ara hanya terdiam, dengan pandangan keluar jendela. Ia malas memulai perdebatan dengan Rio . Sudah tidak bertenaga lain. Syukurnya Rio tidak mendengar celoteh Ara barusan.


"Turunin aku di sini," pintanya.


"Hah, gimana?"


"Aku mau turun di sini, stop!"


"Ini kan masih jauh Ra..."


Iya tahu, tapi ia ingin absen saja. Kejadian kemarin pastilah membuat Ara malu untuk kembali ke kampus dengan hanya modal muka tebal. Wajah tebal tapi hati tidak.


Ia berniat ke pergi ke cafe Gilang. Kemana lagi tempat yang bisa ia kunjungi selain cafe Gilang.


"Ya, kan, aku bisa naik angkutan umum," imbuhnya yang siap-siap ingin turun.


Mobil Rio pun minggir di bahu jalan. Ketika berhenti, Ara pun hendak bergegas turun. Ia buka pintu mobil, namun tidak bisa. Ia fikir ke kunci, nyatanya berulang kali Ara menggeser tidaklah mau di buka. Ini pasti Rio!


"Rio, buka!" pintanya seraya melepas seatbelt.


Rio bersandar dengan santai, matanya hanya memandang jalanan yang hampir mulai melenggang. Ara sibuk berusaha membuka pintu dan segera keluar dari mobil Rio.


"Gak mau!"


"Aku tahu kamu mau bolos kuliah kan?" tebak Rio.


"Iya, itu semua gara-gara kamu biangnya!" pekik Ara, ia menyerah, ia bersandar di kursi badan mobil. Tangan terlipat, dengan sengalan nafas karena menahan emosi.


Rio memposisikan tubuhnya menyamping agar bisa leluasa menatap istrinya yang kini tengah marah karenanya.