Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 43


Hai aku balik 😊, aku upnya udah malam. Entah jam berapa lolosnya. lolos pasti kalian udah tidur. Hehehe,


Happy Reading Ya😍


***


Hati Ara sedang di kuasai amarah yang menggebu-gebu. Matanya berkaca-kaca memandang mobil Rio pergi memasuki gerbang kampus.


"Bang, turun sini aja." Ucap Tasya pada Abang Ojol, motornya pun berhenti di pinggir dekat trotoar dekat berdirinya Ara.


Ara sadar Tasya datang menghampirinya, cepat matanya ia kondisikan agar matanya yang sudah penuh dengan air mata tak terlihat.


"Makasih ya Bang." Ucap Tasya seraya memberikan uang kepada Abang Ojol. Abang Ojol pun mengucap terima kasih dan berlalu pergi.


"Tumben jalan kaki?" Tanya Tasya.


"Iya, tadi pake angkot." Jawab Ara dingin.


Tasya sadar ada yang salah dengan sikap Ara pagi ini, "Mau gak?" Tawar Tasya menyodorkan snack kepada Ara.


"Gak deh, makasih." Tolak Ara dengan memasang wajah lesu, ia gendong tasnya yang sedari tadi ia pegang setelah turun dari mobil Rio.


Mereka berjalan menuju gerbang kampus. Selama di perjalanan menuju gerbang kampus hampir memasuki lorong kampus mereka sama-sama terdiam.


"Kamu kenapa sih Ra? " Selidik Tasya yang ikut lesu melihat wajah sahabatnya di tekuk.


"Kenapa apanya? " Tanya balik Ara dengan menaikan salah satu alisnya.


"Kamu diem dari tadi mesti ada sesuatunya."


"Cuma capek aja jalan kaki." Bohong Ara dengan memasang wajah senyum palsu.


Dirinya seperti memiliki takdir salah tempat. Ketika memasuki ruangan kelasnya ia melihat Rio sedang duduk sembari membaca buku. Amarah yang telah meredup, terbakar kembali melihat sosok di depannya.


"Kenapa Ra?" Tanya Tasya melihat Ara hanya berdiam diri di ambang pintu dengan menatap sakit ke arah Rio.


Karena di ruangan cuma hanya ada Rio. Reflek Rio melihat ke arah pintu masuk, melihat Ara dan Tasya akan masuk. Tapi cepat pandangannya ia alihkan ke bukunya.


"Gak apa-apa." Geleng Ara, kemudian Ia berjalan menuju bangku di depan Rio duduk.


Kelas pun di mulai. Ara tak konsen sama sekali. Ingatannya di masuki kejadian tadi pagi. Itu mengganggu pikiran Ara sekarang. Di tambah dadanya terasa sesak, matanya mulai berkaca-kaca. Ia genggam kuat pulpen dengan memejamkan matanya erat. Sampai buliran air mata terjatuh beberapa.


"Ya Allah sakit banget." Bhatin Ara.


Akhirnya Ara memutuskan minta izin ke toilet. Dadanya sudah bergemuruh dari tadi. Ada sesuatu hal yang harus ia hilangkan. Setidaknya membuat lega. Ketika sudah keluar dari ruang kelas. Kaki Ara berlarian sekencang mungkin, ia tak perduli menabrak orang di depannya.


Matanya terasa buta jika seperti ini. Air mata yang ia tahan sebisa mungkin. Tak bisa di ajak kerja sama, jatuh sesukanya membasahi pipi putih bersih milik Ara. Orang memandang Ara dengan heran.


"Ra kuat Ra, gini aja masa cengeng sih. Kuatin diri aja masa gak bisa. Sadar dia itu siapa aku siapa. Aku pemilik raganya tapi hatinya bukan milikmu Ra." Lirih Ara, ia benamkan dan tangan menangkup wajahnya. Ia redam suara tangisnya, takut ada yang dengar.


"Bunda, Ara kangen." Tambahnya semakin miris.


***


Jam kelas telah habis, Rio menatap tempat duduk di depannya. Tempat yang di tempati Ara. Jam kelas sudah habis, tapi Ara belum juga muncul. Itu juga membuat Tasya khawatir, pasalnya Ara dari awal sudah memasang wajah lesu. Takut Ara sakit. Berulang kali Tasya sibuk dengan ponselnya menelfon seseorang tapi yang di telefon tak kunjung mengangkat. Tambah panik saja Tasya di buatnya.


"Ra, angkat dong!" Panik Tasya.


Rio sedari tadi melihat gerak-gerik Tasya yang cemas. Pasti mengenai Ara yang tak kunjung datang. Rio tak mungkin mendekati Tasya, hubungan Rio dan Ara di mata publik hanyalah dua manusia tak saling kenal. Lucu sekali jika ia tiba-tiba ikut menanyai keberadaan Ara.


Jadi Rio sama halnya Tasya. Ia semakin ikut panik melihat teman dekat Ara tak bisa menghubungi Ara. Rio pun akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak hp Ara dengan tergesa-gesa. Jantungnya berdebar tak karuan memikirkan Ara sedang dalam keadaan apa.


Rio pun sama halnya dengan Tasya. Rio sudah menghubungi berulang kali tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Ara.


"Ra, please angkat!" Bhatin Rio yang terus menerus menghubungi Ara.


"Sya, gimana Ara?" Gilang masuk dengan ngos-ngosan, raut wajah cemas terlihat jelas pada Gilang.


Rio dan Tasya sama-sama terkejut melihat Gilang masuk tiba-tiba. Rio mengernyitkan dahinya memandangi sosok lelaki jakung tak jauh dari duduknya dengan wajah khawatir sama halnya Tasya dan dirinya. Dan wajahnya lebih panik darinya.


"Sejak kapan Ara punya temen laki-laki di sini?" Bhatin Rio dengan tatapan tak lepas dari sosok laki-laki tersebut.


"Gue udah telfon tapi gak di angkat."


"Lah tadi pamitnya kemana? " Gilang terlihat cemas sekali.


"Tadi bilangnya ke toilet, tapi sampai jam kelas habis dia belum nongol." Jelas Tasya.


"Tadi pagi dia tuh kelihatan lesu. Gue tanya kenapa? Dia bilang dia cuma capek doang. Gue takut dia sakit Lang." Cemas Tasya.


"Ya udah ayo kita lihat ke toilet. Siapa tahu dia masih ada di sana." Ajak Gilang.


"Oh, oke. Aku beresin barang-barang Ara dulu." Tasya langsung membereskan barang Ara ke dalam tas.


"Cepetan Sya."


"Sabar!" Tiba-tiba dering ponsel Tasya berdering, dan mata Tasya berbinar seketika.


____


See you next episode🔥