Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 40


"Bi Ara udah pulang? " tanya Rio setelah makan.


"Udah Tuan, dan sekarang Neng, eh!, maksudnya Non Ara nya lagi tidur? " Bi Imah gugup sekali takut Rio bertanya banyak hal mengenai Ara.


"Oh, balik jam berapa Ara? " Tuh kan Bi Imah langsung bingung harus jawab jam berapa Ara pulang. Tadi Ara tak bilang apapun ketika Rio nanti bertanya jam tibanya Ara. Dan sekarang Bi Imah terdiam dan bingung harus memberi jawaban apa.


"Bi? " Panggil Rio melihat wajah gugupnya Bi Imah.


"Eh iya Tuan!" Kejut Bi Imah.


"Ja-" Dering ponsel Rio berdering, pastinya membuat Rio beranjak dari duduknya.


Bi Imah bisa bernafas lega, ia menyandar di tralis tangga dengan mengusap dadanya yang sedang berdebar.


"Ya Allah Neng hampir Bibi mati berdiri." Lega Bi Imah.


***


Malam semakin larut, sudah pukul dua pagi. Tapi Rio masih betah membuka matanya. Berbaring kesana kemari mencari tempat ternyaman. Mencoba memejamkan matanya tapi sulit. Rio menatap layar ponselnya dan men-slide foto di aplikasi instagram milik akun Ara. Ara sangat aktif menggunakan media sosial terutama instagram.


Banyak foto-foto Ara dan temannya yang ia share di platform tersebut. Rio usap lembut wajah Ara dalam foto. Apakah sadar dirinya tengah merindu?


Jantungnya berdegup kencang menatap foto tersebut mengingatnya kejadian lalu. Ya lalu dimana ada adegan dirinya mencium sang gadis miliknya dengan penuh nafsu. Semakin di ingat semakin ia rindu pada sosok tersebut.


Sudah lama Rio tak melihat Ara. Ia baru menyadarinya. Ia tinggal satu atap, satu kampus. Tapi kenapa ia sulit bertemu dengan Ara? Awal masuk kampus Rio belum bisa berangkat karena pekerjaan. Dan baru hari ini ia berangkat. Satu jurusan, satu kelas pula dengan Ara. Kalau ia tidak berangkat dan tidak bertemu Ara di kampus. Ia benar-benar akan melupakan wanitanya. Tapi Ara bersikap acuh dengan Rio seperti orang baru pertama kalinya bertemu. Ara sama sekali tak mau menatapnya. Berharap di sapa, di tatap saja tidak.


Rio tak tahan sendiri jika harus melihat sikap Arsa seperti itu. Padahal dirinya yang mau Ara bersikap demikian. Tapi Rio tak bisa menahan diri untuk tidak bertemu dengan Ara.


Rio bangun dan duduk masih melihat gambar diri Ara dengan senyuman manisnya. Sejenak ia menengadah ke langit atap kamarnya. Helaan nafas kasar terdengar , kemudian Ia lempar ponselnya dan beranjak dari tempat tidurnya menuju pintu keluar.


Cklek!


"Gak di kunci." Lirih Rio bernafas lega, ia buka perlahan pintu kamar Ara. Sebelum ia benar-benar membuka pintu lebar dab ia masuk. Rio memastikan bahwa Ara sudah tidur.


"Syukurlah dia udah tidur." Rio langsung memasuki kamar Ara. Aroma wangi soft menyeruak di rongga hidung Rio seketika masuk ke dalam area kamar Ara.


Entah dia sangat rindu dengan aroma ini. Ia berjalan perlahan mendekati tidurnya sang istri. Rio tersenyum melihat manisnya Ara ketika tengah terlelap. Rindunya terobati sedikit melihat Ara sekarang. Rio memberanikan diri untuk menyelipkan anak rambut Ara ke telinga. Sontak Rio beringsut duduk ketika Ara mulai bergerak posisi tidurnya membelakangi Rio.


"Untung gak bangun." Lega Rio kemudian ia ikut naik keranjang Ara dan membaringkan diri satu selimut dengan Ara.


Saat ini ia inginkan posisi tidur memeluk Ara seperti ini. Membenamkan wajahnya di setiap helai rambut Ara yang aroma soft-nya ia rindukan. Ia hirup kuat-kuat dan meraskaan tenang jika menghirup aroma tubuh Ara.


"Ara aku kangen." Lirih Rio kemudian ia ikut terlelap dalam pelukannya ke Ara.


***


Alarm Ara berdering, sudah berdering sangat lama. Tapi pemiliknya baru membuka matanya. Semalam hujan deras, dingin pastinya. Tapi merasakan hangatnya tempat tidur yang ia gunakan. Seperti tak ingin bangun saja.


Tunggu! Ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Ara mencoba melogika-kan mungkin bantal guling. Bola matanya bergerak ujung ke ujung sembari mengingat apa ia tadi malam terbangun?


Ia kebingungan sendiri dengan pertanyaan yang terlintas di fikirannya tersebut. Aneh saja jika yang melingkar di pinggangnya adalah bantal guling. Ia sadar ada hembusan nafas menerpa bagian belakangnya. Ara tertegun, siapa orang yang tidur di sisinya dan yang melingkar pastinya bukan bantal guling pasti ini tangan. Benar saja saat Ara menyingkap selimutnya ada tangan seseorang tengah memeluknya.


Reflek Ara menoleh ke arah siapa yang sudah berani naik ketempat tidurnya. Matanya membulat seketika dan berteriak sekuatnya memanggil nama pemilik tubuh yang sedang tidur pulas.


"RIOOOO!" Teriak Ara.


****