Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 71


Ara ambil tasnya di bawah lantai, ia mendekati pintu keluar. Berharap Rio tidak mengulangi pertanyaannya lagi yang Ara sendiri sulit memberikan jawaban.


"Lho, kok di gak bisa," berulang kali handle pintu ia putar-putar.


Ia tarik paksa siapa tahu memang pintunya macet, " Ini mah di kunci."


"Rio mana kunci pintu ini, kenapa harus di kunci sih? Kecoa aja gak mau berani masuk ke kamar, pake di kunci segala!"


Rio menutup bukunya, menatap santai ke arah Ara yang sudah mulai panik. Ia letakan buku tebalnya di atas nakas.


"Emang mau kemana?"


"Ya mau keluarlah, mau lihat Mama udah tidur apa belum."


"Kalau Mama udah tidur mau ngapain?"


"Ish, pake tanya, ya aku mau tidur di lantai bawah. Kamar tamu!"


"Kamar bawah aku renovasi, gak bisa di tempati."


Sejak kapan? Tadi pagi dirinya masih tidur di bawah.


"Terus aku tidur dimana? " rengek Ara.


"Tuh kan ada sofa panjang," tunjuknya sembari ia lempar bantal ke arah Ara, dengan cepat Ara tangkap.


Ara kesal sendiri dengan nasibnya yang begitu sulit. Ingin rasanya ia menangis, tapi ia tahan.


Ara melangkah melewati Rio yang sudah mapan tidur. Dengan dongkol, Ara menendang pelan kerangka kasur Rio.


"Dasar lelaki otak setengah," umpat Ara seraya menjulurkan lidah mengejek suaminya sendiri.


---


Sepertinya Rio sudah terlelap, sedangkan Ara sulit memejamkan matanya sedari tadi. Ada yang tak mengenakan di tubuhnya, jadi ia sulit memejamkan matanya dengan tenang.


Grasah-grusuh itu lah yang terdengar oleh Rio. Rio pun jadi sulit tidur nyenyak karena ulah Ara yang tidak bisa diam.


Akhirnya Rio tak bisa menahan untuk diam-diam saja. Matanya terbuka lebar, kedua bola matanya terlihat merah. Ia menoleh ke arah Ara yang tengah berbaring dengan tidak anteng.


"Ra, bisa gak sih tidur jangan kayak cacing kepanasan."


Ara membuka mata, ia pun melihat Rio yang tengah menatap dirinya dengan kesal.


"Gak bisa tidur aku tuh," jawab Ara kembali mencoba memejamkan matanya.


"Ya kalau gak bisa tidur, jangan ajak-ajak orang juga buat gak bisa tidur."


"Yang ngajak juga siapa, aneh!"


"Kamu itu tidur udah kayak cacing kepanasan. Grasah grusuh, aku jadi gak bisa tidur."


"Itu mah, DL."


Terbelalak kedua mata Rio tersulut emosinya, ia geram sekali dengan jawaban-jawaban yang nyleneh Ara. Kenapa Ara tidak seperti dulu, yang diam dan sungkan. Sekarang Rio menyerah jika adu mulut menghadapi Ara.


"Sssshhh..." Frustasi Rio mengacak-acak rambutnya lalu menyelimuti diri hingga atas puncak kepala.


Hening kembali, akhirnya Rio dengan sendirinya tertidur. Ara. Ara memilih berjalan-jalan melihat-lihat koleksi action figure milik Rio. Yang tertata rapih di dalam lemari kaca yang cukup besar. Ara berdecak kagum sembari menggeleng kepala. Rio menghabiskan beberapa uang untuk membeli barang seperti ini.


Ara penasaran apa yang membuat orang rela merogoh kocek banyak hanya barang miniatur seperti ini. Jika ingin melihat , lihat saja di televisi. Kenapa harus membuang uang percuma.


Rasa keingintahuan Ara semakin liar, ia lihat tidak santai. Di putar-putarnya tak menentu.


"Plastik begini kenapa harganya mahal sekali." heran Ara.


"Kenyang gak? Mana kecil lagi."


"Orang kaya memang aneh hobinya, gak aneh sih koleksi beginia. Aneh susah-susah cari duit malah di buat beli beginia."


Ara menggeleng kepala terheran-heran. Kalau sudah hobby dan kecintaan pada suatu hal. Selagi tidak merugikan siapa pun, terserah orang. Hak orang pula, tidak ada yang melarang.


Karena kurang berhati-hati Ara menjatuhkan action figure yang ia pegang tadi ke lantai. Dan, terberai semuanya tak berbentuk.


Ara terkejut setengah mati, gugup iya. Cepat ia menutup pintu lemari kaca. Dan mundur beberapa kali, sport jantung ini namanya.


Ia tak tahu kalau action figure karakter Iron Man ternyata ada yang terbuat dari keramik. Bergetar tangan Ara untuk meraih kepingan koleksi Rio yang mungkin harganya mahal. Entah lah, ia bingung harus bagaimana. Action figure tak berbentuk lagi.


Untung bunyi jatuh benda mini tidak nyaring seperti pecahan keramik yang lebih bear ukurannya. Ara masih bisa menyisakan nafas kelegaan. Karena jika sampai Rio terbangun di saat bersamaan. Kacau!


Terdengar suara lenguhan panjang Rio, Ara gugup. Tanpa berfikir panjang ia langsung meraup kepingan action figure tersebut dengan cepat. Ia simpan di dalam tasnya, tahu tidak hati Ara ingin meronta sekarang juga.


Bagaimana jika Rio sadar salah satu action figure miliknya hilang? Ara harus cari cara untuk menyelesaikan masalah ini secepatnya.


---


15 menit berlalu, Ara sudah tenang. Ia lihat jam di layar ponselnya.


"Jam dua, kenapa pagi lama banget?" keluh Ara, ia lempar sembarang ponselnya di bawah kakinya.


"Liat manusia balok es tidurnya nyenyak banget," lirihnya.


Ara berganti posisi miring, agar bisa menatap wajah lelap Rio. Helaan nafas panjang dari Ara.


Kenapa nasib ku begini, menikah lulus SMA sama orang blas gak ku kenal. Demi almarhum Ayah, demi Bunda, dan demi Qia. Aku ikhlas. Tapi bagaimana harus menghadapi rumah tangga ku yang aneh ini kedepannya? Aku udah mengorbankan masa muda ku, masa iya harus mengorbankan kebahagianku juga. Terasa gak adil, tapi kalau aku egois. Aku harus mengorbankan kebahagian banyak orang untuk melihat aku dan Rio bersatu. Bunda, Qia, Papa, dan Mama. Kenapa Rio gak bisa berfikir kayak aku.


Kenapa harus aku terus menerus yang rugi. Sifat dia lah, kekasihnya lah, status kami, sekarang apa aku harus selalu tunduk segala tindak dia. Gak boleh ini, gak boleh itu. Harus begini, harus begitu. Semuanya di atur sama dia.


Bener-bener dia, tapi....


Tentang Angel?


Kenapa dia harus usir Angel. Memang aku gak suka sih adanya Angel di tengah-tengah


kehidupan kami ini. Tapi kalau aku mau dulu, aku bisa manfaatin Angel buat Rio menceraikan aku. Tapi dulu sempet aku coba buat milih aku atau dia. Tapi kenyataannya Rio gak bisa milih di antara kami. Itu artinya....


Huh! Emang otak gesrek, serakah. Bilang aja rugi ngelepasin salah satu dari kami. Dasar Rio terlahir dari tanah kompos, makanya bentukannya gitu.


Tapi perginya Angel, apa memang dia menyimpan perasaan buat a, aku?


Masa?


Ya buat jaga perasaan aku gitu, secara aku kelihatan banget gak suka Angel di rumah ini. Makanya demi perasaan aku dia tendang si kekasihnya itu. Apa iya?


Tapi kalau dia suka sama aku, harusnya dia bener-bener putus hubungan bukan?


Arghhh, entahlah. Hanya Tuhan yang tahu isi hatinya si manusia balok es itu.


Ish, kenapa juga mikirin dia, buang-buang waktu.


****