
Ara pun langsung mengubah pandangan matanya mengarah sekitarnya. Ia semakin bingung, ia tatap Rio kembali. Rio hanya duduk bersandar di badan kursi mobil dengan tatapan kosong ke depan.
"Argh! Ini manusia apa, apa sih." Jengkel Ara yang ikut menyandarkan diri.
Terserah Rio mau apa, terserah. Ara pun memilih memainkan ponselnya.
Hampir 10 menit berlalu, tiba-tiba kaca mobil di bagian sisi Rio terketuk. Sontak membuat Ara dan Rio melihat ke sumber suara. Ara terkejut siapa di sana, wanita yang lalu ia lihat.
Otomatis rahangnya terjatuh seketika, melihat keakraban Rio dengan wanita itu. Lihatlah tatapannya sebeku balok es mencair sampai tidak ada yang bisa menjelaskan dengan logika kini berubah seperti sinar pagi yang hangat.
"Siapa? " Tanya wanita itu dengan tatapan ramahnya.
"Sepupu." Jawab santai Rio dengan tersenyum.
Wanita itu hanya membalas mengangguk, dan tersenyum ke arah Ara. Ara hanya memasang wajah tak bisa di jelaskan. Sakit, sesak, terkejut iya, marah apalagi. Rio benar-benar keterlaluan padanya. Ia pun terpaksa tersenyum pada wanita itu.
"Terus aku duduk dimana nih?" Tanya wanita itu dengan ceria.
"Duduk di sebelah lah." Mata Rio pun mengisyaratkan untuk Ara beralih duduk ke jok belakang.
Ara hanya diam, dia pun menurut. Menggendong tasnya dan keluar dari mobil. Saat keluar mata Ara bertemu mata wanita cantik bersamaan saat ia hendak akan duduk di depan. Ara hanya tersenyum tipis, dan langsung membuka pintu jok belakang.
Ya, wanita yang tengah duduk di depannya kini memang cantik. Penampilannya sangat benar-benar ikut trend. Wajahnya cantik dengan balutan make up. Dan cocok bersanding Rio yang tampan.
Ara, Ara apa. Dia gadis kecil, penampilan pun senyaman mungkin. Dan dirinya berwajah tanpa polesan make up. Hanya bibirnya di oleskan lipbalm. Pastinya Ara pun merasa minder. Pantas saja Rio memperkenalkan dirinya sebagai sepupu.
"Namaku Angle, aku kekasihnya Rio." Wanita itu bernama Angle, tangannya tengah mengulur di depan Ara dengan senyum manisnya.
"Hah! Siapa tadi? Angle? Kekasih?" Bhatin Ara, ia mendapatkan kejutan se-drama ini.
Kata Angle terngiang di telinganya, memenuhi gendang telinganya. Mengantarkan ingatannya waktu lalu, saat ia tak sengaja mendapatkan satu lembar foto wanita dan Rio berpose seperti pasangan kekasih. Dan di baliknya terdapat nama Angle.
Jadi waktu yang ia lihat di malam hari, waktu dirinya tengah menanti kepulangan Rio. Dan Rio pulang di antar dengan wanita yang Ara ingat wanita itu di depannya sekarang adalah Angle. Oh, dunia memang begitu kejam. Kenapa nasibnya yang di uji. Dan parahnya wanita ini adalah kekasih Rio.
"Ara." Balas Ara tak kalah tersenyum paling manis. Ara langsung menjabat tangan Angle.
"Salam kenal." Kata Angle, Ara hanya mengangguk dan senyumannya masih terukir manis.
Entah Rio sendiri merasa takut membuka statusnya di depan Ara. Yang jelas Ara masih istrinya. Ia seperti keledai bodoh, cemburu melihat Ara dekat dengan adiknya. Tapi sendirinya malah memasukan wanita lain bersama satu mobil dengan istrinya. Dan bodohnya Rio mengatakan bahwa Ara adalah sepupunya. Parahnya Rio membiarkan Angle memperkenalkan dirinya dengan kata akhir dirinya adalah kekasihnya.
Tapi Ara sendiri bersikap seperti biasa saja. Tak memperlihatkan tanda cemburu, atau marah. Cenderung Ara terlihat biasa saja. Apa Ara tak memilik perasaan lebih untuk Rio?
Ara hanya diam menatap luar kaca mobil, tangannya ia remas kuat-kuat. Di depannya kini terjadi drama sepasang kekasih bersenda gurau. Mengobrol ringan hingga tak malu mengungkapkan rasa sayang satu sama lain. Apakah ini Rio yang Ara kenal? Supel, hangat, dan banyak bicara.
Jika dirinya di posisi wanita yang sebagai kekasihnya itu. Ara dan Rio seperti hidup di dimensi lain. Bisa saja tadi ia tak satu mobil dengan Rio, jika itu adalah pilihan tepat. Tapi apa lupa Ara sendiri baru tinggal di Jakarta. Kata Bunda di Jakarta banyak orang-orang berniat jahat misal copet atau begal. Dan Ara yang terbiasa hidup di kampung, itu sudah tersugesti di fikiran Ara.
"Tahu gitu aku maksa buat berangkat sama Derry. Gak kayak gini, kenapa sih Rio jahat banget sama aku?" Bhatin Ara, jujur hatinya sedih sekali di perlakukan seperti itu.
Tak lama mobil terhenti di gerbang salah satu kampus. Dan pasti bukan kampus Rio dan Ara. Melainkan pacar Rio, sebelum Angle turun mereka sempat cipika-cipiki.
"Cih!" Sinis Ara yang melihat kemesraan mereka.
Gak nyangka hidup Ara sangat miris. Di seperti anjing rumahan saja. Di ajak pergi mau-mau saja. Ketika ada saingan di satu ruangan ia hanya memilih duduk manis dan melihat majikannya sedang senang dengan yang lain tanpa melihat kebelakang.
"Gak pindah?" Tanya Rio setelah Angle benar-benar pergi.
"Sudi!" Bhatin Ara, tapi Ara tetap pindah ke depan dengan memasang wajah biasa tanpa tekanan.
Lalu mobil melaju membela jalanan jantung kota dengan laju. Hingga mobil terhenti, jarak kampus dengan berhentinya mobil Rio cukup jauh jika berjalan kaki.
"Turun!" Perintah Rio pada Ara.
"Hah? Gimana?" Bingung Ara yang masih celingak-celinguk.
"Gak mungkin kita datang bersamaan." Ucap Rio.
Kepala Ara berasap seketika mendengar ucapan Rio dan memahaminya. Sorot mata Ara berubah tajam, nafasnya memburu. Ara di anggap apa selama ini. Setan!
Tanpa di perintah kedua kalinya, tanpa minta penjelasan. Ara pun turun dengan kata penghinaan dari Rio. Ia tutup pintu mobil dengan kuat, melepaskan rasa emosi yang sedari tadi di tahannya.
"BRENGSEK!" Maki Ara, ia tak perduli orang di dekatnya melihatnya.