
Uut langsung diam.
"Temen aja gak di anggap!" Sindir Tasya.
Uut menatap tajam Tasya, ia merasa tersinggung ucapan Tasya barusan.
"Sadar diri, setahu gue, Rio itu single, wajar siapa pun deketin dia. Dan lu gak berhak ngatain Ara genit, godain Rio lah, kalau emang mereka jodoh, lu mau apa? Hah!"
"Jadi gak usah sok lu pemilik Rio, ngelirik aja Rio gak mau. Pake acara fitnah Ara lagi, ngaca!"
"Gak punya kaca, neh aku pinjemin" Tasya mengeluarkan sebuah cermin bulat dari sakunya dan mengarahkan ke wajah Uut.
"Gue gak butuh," Uut langsung menepis tangan Tasya dari hadapannya.
"Ih, yang mau minjemin juga siapa? Gue juga najis kali minjemin nih cermin," Tasya langsung mengusap cermin di bahunya.
"Cermin gue lebih berharga di bandingkan lo, upss!" Sindiran keras buat Uut.
Uut sudah bertanduk, menguapkan asap tebal. Sorotannya mengerikan sekali, berulang kali ia menarik nafas dalam. Mungkin sekarang isi kepalanya penuh kobaran api yang akan siap membakar apapun di sekitarnya.
Merasa Uut sudah mulai terlihat marah, Tasya semakin berkata pedas. Mungkin tidak separah Ara yang mengalami gunjingan yang di sebarkan oleh Uut. Tapi setidaknya Tasya memberi pelajaran 'ringan' untuk Uut. Iya ringan menurut Tasya, mungkin ada pelajaran-pelajaran yang akan menanti.
Bugh!
Gelap mata, dan Tasya tak bisa menghindari serangan dari Uut. Uut menojok bagian mata Tasya sampai Tasya tersungkur kebelakang.
Semua orang yang sedari tadi hanya diam menonton pertengkaran mereka akhirnya berteriak, dan ricuh karena Uut memuncaki peperangan yang sebenarnya.
"Aww, ish!" Rintih Tasya lirih, ia merasakan nyeri dan panas akibat pukulan bogem Uut.
Tasya berdiri, ia tak ingin menjadi seorang yang kalah. Ia tak terima, menurutnya Uut sudah di lewat batas. Dan ini termasuk kekerasan fisik yang tak bisa di diamkan.
"Masih mampu berdiri lo," kata Uut kepada Tasya.
Tasya lupa, bahwa Uut pintar dalam taekwondo. Lupa kapan saja Uut bisa memakai keahliannya jika merasa terancam. Hah, bukan adu mulut merasa dirinya terancam, tapi ke popularitasnya sebagai wanita lumayan populer di kampus akan merasa tercoreng dengan kata-kata Tasya barusan.
Apalagi banyak telinga yang terpasang di dalam kampus. Citra sebagai wanita populer akan lengser.
"Si*lan!" Tasya berlari meghampiri Uut dan akan menyerang si ulet keket dengan brutal.
Ya, kegaduhan yang mereka ciptakan sukses membuat satu perpustakan ricuh. Ada yang membela pihak Uut, ada yang membela Tasya. Mereka yang melihat seperti saling menontob sebuah pergulatan jambak menjambak. Karena Tasya yang menyerang di bagian rambut, sadar dirinya tak bisa bela diri. Ya keahlian seorang wanita bertengkar sesama jenis, rambut adalah sasaran empuk.
"Dasar wanita g*la!" Maki Tasya sembari memberi serangan.
"Lu yang g*la, lepas gak!" Uut tak mau memberi celah kepada Tasya, ia pun sebisa mungkin meraih rambut Tasya.
Sorak bersahutan menciptkan keseruan di antara mereka. Iren teman baik Uut, kebingungan melihat Uut dan Tasya semakin menjadi. Iren berusaha meminta teman yang lain untuk membantu melerai dua wanita yang saling menjambak rambut, namun tidak ada yang mau.
"Woy, udahlah, udah," coba Iren melerai mereka, tapi ia juga merasa takut, takut dia malahan yang kena.
"Ayo Uut, Uut, Uut!" Sorak beberapa di antara mereka.
"Tasya, Tasya, Tasya!" Pihak sebrang tak kalah.
"Kok rame banget?!" Bingung Gilang.
Setahu dia, perpustakan mana boleh ada suara berisik. Bicara mengeluarkan suara saja tidak boleh, kenapa sekarang seperti pasar ikan. Ada apa di dalam?
Gilang mempercepat jalannya, dari jauh saja sudah berisik. Semakin dekat, dan Gilang sekarang sudah di ambang pintu tercengang apa yang ia lihat sekarang.
Dua wanita saling beradu jambak menjambak, ke sana ke mari, dorong sana, dorong sini. Dengan beberapa penonton yang saling mendukung salah satu dari keduanya.
"Ya ampun, kok jadi begini?!" Gilang panik melihat mereka bertengkar.
***
"Siapa yang memulai semua ini!"
Brak!!
Pak Seno adalah penjaga dan pengatur di area perpustakaan di kampus ini.
Mengetahui ada yang bertengkar di dalam kampus, ia pun bergegas datang untuk melihat kebenaraanya. Ternyata Uut dan Tasya.
Mereka saling duduk bersebelahan dengan kepala menunduk lesu. Penampilan mereka acak-acakan, rambut sudah awut-awutan, make up tebal Uut pun habis tak berbentuk, baju mereka seperti gembel baru, sobek sana sobek sini.
Sudah satu jam lamanya mereka diam dan menunduk di ruangan Pak Seno. Sejam lamanya mereka mendengar amarah Pak Seno. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, pergi pun tak bisa, apalagi menutup telinga.
"Baru Bapak tinggal sebentar, kalian malah buat ulah! Apa sih masalah kalian, mau kelahi di sana di ring tinju, bukan perpustakaan!" Ucap Pak Seno.
"Kalian ini bikin malu aja, Bapak saja malu, apa kalian tidak malu dengan kelakuan kalian sendiri? Hah!" Sentak Pak Seno.
"Sekarang Bapak tanya lagi, yang buat ulah duluan siapa?" Tanya Pak Seno.
Tasya dan Uut milih bungkam, ia takut dengan kemarahan Pak Seno yang terkenal galak walau beliau hanya penjaga Perpustakaan.
"Jawab!" Sentak Pak Seno.
"Dia duluan Pak!" Ucap mereka kompak seraya saling menunjuk. Pak Seno melihat dengan kebingungan.
"Eh kok gue sih? Lu," tak terima Tasya yang di tunjuk ia menurunkan jari telunjuk Uut ke bawah.
"Emang elo, elo yang datang tiba-tiba ngajak ribut, dia duluan pak," tunjuk balik Uut ke arah Tasya.
"Elu duluan, elu yang buat masalah, akar permasalahannya dari dia duluan pak," kembali Tasya menurunkan jari telunjuk Uut yang mengarah ke dirinya.
"Kalo dia gak nonjok saya, saya gak mungkin gak membela diri pak," jelas Ara.
"Elo,"
"Elo,"
"Elo,"
"Elo."
Saling menyalahkan, tak ada yang mengalah. Bagaimana memberikan hukuman jika tidak ada yang mau mengakui.
"Stop!" Bentak Pak Seno.
"Diam! Karena ulah kalian terpaksa Bapak menghukum kalian dengan hukuman skors dari kampus," ucap Pak Seno.
Kata skors membuat keduanya tercengang menatap Pak Seno. Menelan salivanya saja hampir terasa sulit ketika mendengar hukuman yang di berikan untuk mereka.
"Pak, masa skors sih pak," protes Tasya.
"Iya pak, saya gak mau hukuman skors pak," tambah Uut.
Bola mata Pak Seno memutar ke kanan ke kiri menatap bergantian dua mahasiswi di depannya dengan tatapan tegas.
"Ini sudah hukuman yang tepat buat kalian, selain ribut di perpustakaan yang jelas sudah ada peraturan di larang berisik, kalian malah ribut. Dan kalian juga merusak fasilitas di dalamnya, pajangan globe terbuat keramik pilihan jatuh dan pecah, dan ada beberapa buku yang rusak akibat perkelahian kalian, juga kotor," jelas panjang lebar Pak Seno.
Mereka berdua hanya bisa tertunduk lungai menerima hukuman yang di berikan Pak Seno.
"Tasya kamu di skors dua minggu."
"Hah, du, dua minggu pak?!" Terkejut Tasya.
Pak Seno mengangguk singkat.
Uut tetawa kecil seolah mengejek hukuman skors Tasya dua minggu lamanya. Tasya mengetahui hal itu menatap Uut dendam.
"Dasar Mak Lampir mulut lemes," dalam hati Tasya kesal melihat wajah ejekan Uut padanya.
"Pak, gak bisa di ringanin gitu pak, masa selama itu pak, gimana nanti saya jelasin ke kakak saya Pak," mohon Tasya kepada Pak Seno.
"Mau!" Tawar Pak Seno.
****