
Derry yang pulang dari sekolah melihat para pembantunya seperti mengintip ke arah halaman belakang. Derry pun penasaran dan ingin bertanya.
"Kenapa kalian di sini? Apa yang kalian lihat" Tanya Derry
"Eh Tuan, Anu itu Non Ara..." Bi Imah menunjukan arah keberadaan Ara dan Rio di lahan kosong. Derry yang melihat pun langsung membelalakan matanya.
"Kenapa Ara ? Tengah hari bolong nebas rumput?" Gumam Derry dan langsung mendekati mereka.
"Bang kenapa istri Lo ?" Tanya Derry yang heran dengan sikap Ara.
"Gak tahu deh, tiba-tiba aja. Udah 2 jam Ara nebas rumput." Jelas Rio
"Kak.. Ngapain ? Ada masalah bilang aja Kak" Derry berusaha mendekati Ara.
Ara pun langsung memberhentikan aksinya, dengan nafas tersenggal ia menoleh dan menatap dua pria di belakangnya. Parang yang Ara genggam ia lepas dan menarik tangan Derry pergi menjauh dari Rio. Rio hanya melihat kepergian mereka tanpa mencegahnya.
"Eh mau kemana Ra ?" Tanya Derry.
Ara tetap menarik tangan Rio dan keluar ke jalan besar. Ara melambaikan tangan ke arah mobil taksi untuk berhenti.
"Ayo masuk" Ajak Ara
"Tapi kemana ?" Tanya Derry
"Ajak aku kemana aja. Aku mau nenangin diri." Jelasnya.
Derry paham dengan maksud Ara. Derry pun akhirnya masuk bersama Ara.
***
"Mamah dan Papah gak boleh tahu kejadian tadi. Kalau sampai ada yang kasih tahu, akibatnya kalian tanggung sendiri" Ancam Rio dan berlalu pergi.
Para pembantunya pun hanya mengangguk dan mengerti.
***
Di atas rooftof Derry dan Ara duduk dan saling diam. Menikmati sore hari dan lalu lalang kendaraan. Mereka duduk hanya berjarak satu meter dan menatap matahari sore. Wajah sedih Ara menggambarkan kekecewaan yang terdalam. Derry tidak tahu akan permasalahan Ara, tapi Derry tahu Ara tengah sedih. Derry mendekati Ara dan mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Ra ada masalah ?" Tanya Derry lembut. Ara hanya diam dan tak menatap Derry
"Bang Rio ya ?" Ara semakin sakit mendengarnya dan tetap diam tak mau menjawab pertanyaan Derry.
Derry mengerti, mungkin Ara belum siap bercerita.
**
Rio berdiri di balkon kamarnya, ia mengingat kejadian Ara. Rio berfikir keras apa permasalahannya.
"Apa kejadian tadi pagi ? Ah.. masa iya sih. Ara gak segitunya deh, malah Ara cenderung marah sama Derry. Tapi kalau masih marah sama Derry gak mungkin juga Ara pergi dengan Derry?" Ucap Rio. Rio mengacak-ngacak rambutnya sendiri pusing dengan sikap Ara.
"Terserah lah." Pekik Rio dan mengambil kunci mobil. Rio berlalu pergi....
***
"Derr pulang yuk. Ini udah sore pasti Mamah dan lainnya khawatir." Ajak Ara
"Em oke"
"Okey"
Mereka pergi pun akhirnya pergi.
***
Jam dinding menunjukan pukul 08:05 malam. Di ruang tamu terdapat Mamah Fani dan Papah Rendy yang khawatir menunggu kepulangan anak-anaknya.
"Bi.. Bi Imah..!" Panggil Mamah Fani
Bi Imah keluar dengan berlari kecil menuju ruang tamu.
"Ada apa Nyonya?" Tanya Bi Imah
"Bi.. Emang mereka gak pada bilang apa mereka perginya kemana?" Tanya Mamah Fani panik.
"Gak tahu Nyonya, tidak ada yang berpamitan" jelas Bi Imah.
"Ya di telfon dong Mah?" Ucap Papah Rendy
"Handphone mereka gak ada yang bisa di hubungin Pah !" Ucap Mamah Fani dan meraih ponselnya di meja.
Tok
Tok
Tok
" Buka Bi. Lihat siapa yang datang !" Perintah Mamah Fani yang sedang berusaha menghubungi salah satu anaknya.
"Assalamualaikum" Salam dua remaja dari balik pintu dan terlihat Ara dan Derry berdiri.
"Waalaikumsalam" Jawab lega Mamah Fani dan Papah Rendy. Mamah Fani langsung mendekati mereka dan memeluk mereka dengan kelegaannya.
"Ya Allah kalian kemana aja sih ?" Tanya Mamah Fani.
"Maaf Mah Ara salah tidak berpamitan dan membuat khawatir" sesal Ara karena pergi dengan suasana emosi.
"Hemm. Mamah lega sekarang. Kalian gak salah, melihat kalian pulang Mamah bahagia Nak. Oh ya mana Rio ?" Tanya Mamah Fani dan melihat sekitar.
Derry dan Ara yang mendengar pertanyaan Mamah Fani hanya saling menatap.
"Tidak sama kami Mah. Derry dan Ara pergi hanya berdua. Tidak sama dengan Abang Rio" jelas Derry
"Oh mungkin Rio sedang bertemu dengan teman-temannya. Ya udah yuk masuk. Kalian belum makan kan. Kita makan dulu ya." Ajak Mamah Fani.
***
Setelah makan malam. Ara pamit ke atas untuk membersihkan diri. Ara masuk ke kamar Rio dan mandi. Di dalam kamar mandi Ara mengingat kejadian tadi siang. Ara menangis di balik air shower yang membasahi tubuhnya.
"Ara ini siapa ? Apa haknya Ara merasa sakit ketika melihat foto itu ? Kami menikah bukan didasari cinta. Tapi kita menikah dari perjodohan." Lirihnya
"Ara tidak boleh jatuh hati dengan Rio. Biar pernikahan ini mengalir adanya. Ara harus melupakan perasaan Ara untuk Rio. Ara seharusnya bisa mengendalikan diri. Ara harus jaga jarak mulai saat ini" gumamnya.