Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 120


Akhirnya perdebatan yang terjadi di menangkan oleh Ara. Ara dan Rio menjelaskan status mereka untuk membungkam mulut Meli untuk stop menyebarkan fitnah yang tak berdasar pada Ara.


Ibu Kos yang tak percaya dan yang lainnya juga. Rio membuktikan lewat kartu KTP dan buku nikah. Ara sampai heran kenapa Rio sampai membawa buku nikah mereka. Seniat itukah Rio ingin memperbaiki rumah tangga mereka.


Walaupun menurut Rio dan Ara menunjukkan bukti yang akurat. Mereka tetap tidak percaya, di tambah Meli berbicara untuk menambahkan ketidakpercayaan ke Ibu Kos agar tak mempercayai bukti yang ada.


Rio tak habis akal untuk membuktikannya. Rio menelepon Mama Fani dan adiknya Derry untuk datang segera ke kosan Ara sekarang.


Karena memang jarak dari kosan Ara ke rumah orang tua Rio tak jauh. Mama Fani dan Derry cepat sampai.


Bersyukurnya Mama Fani bersedia datang dan memberikan kesaksian akan bukti yang ada. Terlebih dirinya memang orang tua dari Rio.


Dengan bukti-bukti yang ada, akhirnya Ibu Kos mengakui bahwa apa yang di sampaikan oleh Meli dan penghuni lainnya tidak benar.


Sesuai janji di awal, Ibu Kos pun menepati tantangan yang di berikan oleh Ara. Karena Ara yang menang. Ibu Kos memutuskan untuk mengusir Meli karena dirinya lah yang pertama kali datang untuk mengadukan yang tidak-tidak terhadap Ara.


Setelah tahu kebenarannya, semua penghuni kos lainnya langsung cuci tangan sebelum ikut ke seret di usir. Karena memang rata-rata penghuni kos memilih tempat kos ini karena paling dekat jaraknya ke kampus mereka. Apalagi dengan harga yang terjangkau.


Semua penghuni selain Meli mengatakan sejujurnya kalau di antara mereka tak pernah lihat secara langsung Ara membawa keluar masuk lelaki. Karena mereka pun memang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Memang ada beberapa yang melihat secara langsung melihat Ara bersama lelaki. Namun tak sampai melihat lelaki itu masuk ke kamarnya. Hanya geng Meli saja kebetulan melihat Rio yang memang baru pulang di sore hari setelah pertemuan mereka di paginya.


Itupun yang mereka lihat bukan Rio saja yang keluar, memang teman Meli mengiyakan bahwa yang keluar adalah wanita dan lelaki selain Rio yaitu Mama Fani dan Derry yang saat ini berada di depan mereka.


Sebenarnya mereka tak langsung percaya apa yang di ucapkan oleh Meli dan pasukan gengnya. Namun Meli selalu melebih-lebihkan cerita yang hanya karangan semata.


Kalaupun hanya Rio yang keluar dari kamar kos Ara. Setidaknya mereka adalah pasangan yang sah. Memang dari kesalahan Ibu Kos tidak meminta kartu identitas Ara. Karena memang semenjak Ara tinggal, Ibu Kos sedang sibuk mempersiapkan pernikahan anak semata wayangnya.


Semuanya adalah kesalahpahaman dan fitnah yang di sebarkan oleh Meli. Akhirnya Ibu Kos mengusir Meli dari Kos.


Tanpa ada kata Maaf dan malu karena kesalahannya. Meli terang-terangan masih membela diri bahwa dirinya tak bersalah walaupun semuanya menyalahkan dirinya.


Meli akhirnya menerima keputusan Ibu Kos dengan hati yang dongkol.


___


Sekarang Ara bingung malam ini akan tinggal dimana. Ibu Kos tadi meminta maaf atas sikapnya dan meminta Ara balik untuk menempati kamar Ara kembali.


Namun Ara menolak. Ara sudah kesal dengan kejadian barusan. Ara rasa kalau dirinya akan tinggal di sini, ibu pemilik kos ini sangat buruk untuk mengambil sikap dan tindakan. Ara takut ada drama lain lagi.


Jadi selain Ara menolak tinggal, Ara pun menolak uang sewanya untuk di kembalikan. Biar Ara ikhlaskan saja.


Setelah semuanya bubar, kini tinggal Ara, Rio, Derry, dan Mama Fani.


"Ara jadi gimana? Mau pulang ke rumah?" tanya Mama Fani.


Diam-diam jantung Rio berdetak kencang seolah-olah hendak keluar dari peraduannya mendengar kalimat dari mamanya.


Ara yang sedang kalut harus memikirkannya dengan benar. Ara mau saja kembali, namun yang Ara takutkan Rio akan kembali seperti dulu. Ara lelah mengahadapi sikap Rio jika itu terulang kembali.


Ara tak ingin buru-buru menerima Rio begitu saja. Sesuai kesepakatan awal, bahwa dirinya masih memikirkan untuk kembali atau tidaknya membina rumah tangga dengan Rio. Ara ingin melihat bagaimana Rio berjuang untuknya. Serius untuk memperbaiki kesalahannya.


Memang untuk saat ini dirinya bingung hendak pergi kemana. Mau cari kos pun sudah larut malam. Kalaupun cari kos, untuk menginap di hotel saja. Ara masih berpikir takut uangnya tak mencukupi untuk tiga hari kedepan.


Karena memang Ara benar-benar tak pegang uang setelah uang simpanan yang dirinya sengaja simpan untuk membayar kembali uang Rio yang sengaja di pakai untuk keperluannya sendiri. Jadi sama sekali Ara tak ada pegang uang lebih.


"Gimana?" ucap Mama Fani membuyarkan lamunan Ara.


Rio dan Derry tengah sabar menunggu jawaban dari Ara. Terlebih Rio yang sangat berharap Ara menyetujui keinginan mamanya


Mama Fani sangat memahami arti tatapan Ara sekarang. Mama Fani lebih mendekatkan diri ke Ara. Tangannya memeluk dari arah samping dengan erat. Seolah tahu ketakutan Ara akan terulang.


"Oke, Mama paham. Kalau Ada gak mau, ya udah tinggal di rumah Mama aja. Kebetulan Papamu belum pulang dari dinasnya. Jadi bisa nemenin Mama setiap hari di rumah," saran Mama Fani.


"Gimana?" Kali ini Mama Fani berharap Ara tak menolak.


"Iya Ma," jawab Ara langsung tanpa pikir panjang.


Mendengar hal itu semuanya bersorak. Ara tentu malu di sorak seperti itu, dirinya merasa seperti anak kecil yang tak mau pulang dan harus di bujuk.


Yang paling bahagia adalah Rio. Wajahnya berseri-seri mendengar keputusan Ara. Tak apa jika Ara maunya tinggal di rumah sang mama. Itu tandanya langkah yang baik untuk hubungan mereka.


"Gak usah seneng dulu, Rio!" tegur sang Mama dengan mata mendelik ke arah Rio yang sedang memasang wajah bahagia.


Mendengar teguran sang Mama, raut wajah Rio datar karena bingung dengan maksud mamanya.


"Ara memang tinggal di rumah Mama, tapi kamu harus balik ke rumah kamu sendiri. Selama Ara belum siap tinggal di rumah kamu, kamu gak boleh tinggal di rumah Mama!" tegas Mama Fani.


Sontak wajah datar Rio berubah menjadi kaget. Apalagi mendengar sorakan Derry yang paling bahagia di bandingkan dirinya tadi. Otomatis mata Rio julid ke arah Derry.


"Kok Mama gitu sama Rio!" protes Rio.


"Emang gak peka lo tuh Bang. Kalau Ara gak mau tinggal di rumah lo itu alasannya karena lo sendiri. Dan sekarang Ara mau tinggal di rumah sama Mama, karena Ara mau ganti suami," ucap Derry


Tentu mendengar hal itu membuat hati Rio panas.


"Yang gantiin gue!" lanjut Derry seraya menjulurkan lidahnya ke arah abangnya.


Sebelum tangan Rio melayang ke arah Derry. Derry sudah terlebih dahulu berlari dan masuk ke dalam mobil sang Mama.


Rio kejar lalu menggedor-gedor kaca pintu mobil dengan rasa marah campur cemburu. Untung Derry sudah mengunci pintu mobil dengan segera.


"Buka, Derr. Lo Bang sat!" maki Rio.


Derry tak peduli, bahkan dirinya memasang wajah jelek ke arah Rio agar abangnya semakin panas.


"Mah, liat Derry!" rengek Rio kepada Mamanya dengan ekspresi bak anak kecil yang tak rela permen miliknya di rebut sang adik.


"Itu kan kesalahan kamu sendiri," ucap Mama Fani seraya mengajak pergi Ara untuk masuk ke dalam mobil.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Mama Fani berucap, "Rio jangan lupa di bawa koper Ara, antar ke rumah Mama."


Rio bernasib nelangsa. Rio hanya bisa menatap ikhlas kepergian mobil mamanya.


Sakit sekali ketika dirinya berusaha mengambil kembali rasa kepercayaan dari Ara. Namun orang sekelilingnya tak mendukung malah kesan semakin menjauhkannya.


Dengan berusaha melapangkan hati. Rio mengangkat dan memasukan koper Ara ke dalam bagasi mobilnya.


Rio tak akan patah semangat. Dirinya harus lebih ekstra berjuang untuk membawa Ara pulang kembali.


___