
Ara terdiam sejenak, menarik tangannya dari genggaman Rio. Rio menanti jawaban Ara dengan sabar seraya menyelami tatapan Ara.
"Aku..."
Tok tok tok.
Terhenti ucapan Ara ketika pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Hati Rio kesal karena saat-saat ini yang di nanti malah datang pengganggu.
Ara beranjak dari duduknya, namun segera Rio tahan.
"Ada tamu," ucap Ara.
"Kasih aku jawabannya dulu, baru kamu boleh buka," pintanya.
Tok tok tok.
"Tuh!" kesal Ara karena Rio mencegah dirinya beranjak.
Ini adalah kesempatan Ara untuk mengamb kunci dari Rio dengan mudah.
Terpaksa Rio pun melepaskan Ara. Ara pun mendekati daun pintu. Hendak di buka namun Ara pura-pura lupa kalau pintunya tengah di kunci.
"Mana kuncinya?" todong Ara pada Rio.
Tanpa menunggu lama, Ara pun mendapatkan kuncinya dari Rio.
"Ya udah kenapa kamu masih di situ."
"Loh, aku harus kemana?" bingung Rio tak paham maksud Ara.
" Ya ngumpetlah di kamar mandi, kalau ibu kos yang datang sama penghuni lainnya bisa habis kita di keroyok," alasan Ara.
Rio pun akhirnya menuruti permintaan Ara. Segera dirinya pergi ke kamar mandi. Sedangkan Ara menunggu Rio masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya ia membukakan pintu kamarnya dan apa yang terjadi membuat seluruh tubuh Ara seketika membeku.
"Mama.... Derry.... " ucap Ara tak percaya.
Rio yang berada di dalam kamar mandi yang sengaja tak menutup rapat pintunya agar bisa mengetahui siapa tamu Ara pun ikut terkejut ternyata ada mamanya dan adiknya yang datang.
"Mama sama Derry ngapain ke sini?" lirih Rio.
"Ara menantu kesayangannya mama," Mama Fani berhambur mendekap tubuh Ara.
Ara pun menyambut pelukan sang mama mertua dengan pikirannya yang masih ngawang. Tak lama pelukan dan cipika-cipiki pun berakhir.
"Mama kok gak ngabarin Ara sih kalau mau ke sini," ujar Ara.
"Udah sayang, cuma kamu gak baca pesan dari Mama. Mama gak sabar mau ketemu kamu jadi Mama langsung pergi aja sama Derry," jelas Mama Fani sembari menggeret Ara masuk ke dalam kos di ikuti Derry.
Ara lupa seharian ini mana ada dirinya sempat memegang ponselnya gara-gara seharian full Rio di dalam kos nya.
"Maaf Ma, Ara yang memang gak sempat pegang hape."
"Apa kamu sibuk? Enggak kan?"
Ara cepat menggeleng.
"Bagus kalau gitu, kebenaran Mama ada bawa beberapa masakan kesukaan kamu. Kita makan sama-sama ya," ajak Mama Fani.
Rio yang masih menguping obrolan mereka. Telinganya mendadak panas dengan di ikuti hatinya. Ia teringat bagaimana dirinya bisa tahu keberadaan Ara karena mengikuti Derry. Itu artinya Mamanya selama ini tahu keberadaan Ara. Namun saat Rio bertanya Mamanya seolah-olah tidak tahu dimana Ara.
Rio mengintip dari celah pintu, Ara, mamanya dan Derry sedang asyik mengobrol. Apa Ara lupa akan dirinya di sini. Tak bisa di biarkan. Makin lama nantinya pasti Ara melupakan kehadirannya.
Apalagi ada adiknya di sana. Seketika Rio mengingat kejadian tempo hari dimana sang adik berbicara sarkastik tentang ambisinya menggantikannya di posisi sebagai suami Ara. Mengingat itu emosi Rio tak bisa ia bendung. Melihat mereka bercengkrama dengan riang tanpa dirinya membuat Rio cemburu.
"Ya ampun Ma, gak usah repot-repot masakin Ara," ucapnya sembari membantu mama mertuanya menyiapkan makanan yang beliau bawa.
"Mama kasihan sama kamu, hampir sebulan ini kamu gak bisa makan rumahan kan. Liat tempat tinggal kamu, sempit mana ada dapurnya," Mama Fani prihatin melihat tempat tinggal Ara.
Seharusnya menantu kesayangannya tinggal di tempat yang nyaman tanpa takut kekurangan apapun. Melihat kenyataan ini membuat Mama Fani merintih kesakitan karena tak tega dan sekaligus merasa bersalah menikahi sang anaknya dengan Ara.
"Ara gak papa, Ma," ucap Ara berusaha meyakinkan Mama mertuanya.
"Lagian kamu sih Ra, kenapa juga harus keluar dari rumah. Yang ada kesenangan Angel bisa menang dari kamu. Kayak gini kamu yang jadi istri sahnya malah kesusahan begini," ucap Derry kesal karena kakak iparnya begitu mengalah dengan mantan kekasih abangnya itu.
"Apaan sih Derry malah kompor begitu," batin Rio yang masih mendengar pembicaraan mereka.
"Mama setuju Ra. Kamu jadi kesusahan begini gara-gara anak Mama. Maafin Rio ya, Nak," memelas Mama Fani yang merasa bersalah pada Ara.
"Mama, gak gitu. Ara maafin Ma." Ara meraih tangan mama mertuanya yang sedang sedih.
Rio tersenyum lebar mendengar sepertinya hendak merubah citranya agar lebih baik di mata Ara.
"Mending kamu ceraikan saja Rio!" lantang Mama Fani mantap.
Membuat satu ruangan terkejut bukan main. Termasuk Rio yang di dalam kamar mandi hampir kena serangan jantung ringan.
"Mama malu sama keluarga kamu, sama kamu Ra. Malu punya anak laki-laki gak gentleman, sukanya nyakitin hati kamu. Mending kamu layangkan gugatan cerai. Biar Rio puas, Mama gak akan halangi kamu Nak. Carilah lelaki pilihan yang menurutmu baik, yang bisa mencintaimu sepenuh hati. Bukan seperti anak Mama," papar Mama Fani.
Tambah sesak nafas Rio di dalam sana. Tak menyangka perkiraannya berbanding terbalik. Mama sangat tega memprovokasi Ara agar menceraikannya.
"Mama ngomong apa sih."
"Mama malu Ra, malu banget. Sama Bunda kamu, juga almarhum Ayah kamu. Mau di taro mana harga diri Mama kalau menantu Mama di terlantarkan begini sama suaminya yang sekarang gak ada usaha buat bujuk kamu pulang," ucap Mama Fani dengan mulai tersendu-sendu.
"Mama yakin banyak lelaki yang ngantri mau sama kami Ra, Mama dukung dengan siapa kamu nantinya," tambahnya.
Ibarat bom, inilah waktunya meledak. Rio tak tahan sang Mama terus menerus mendorong Ara pergi meninggalkannya. Apa tak cukup sikapnya selama ini di tinggal Ara di mata sang Mama. Dirinya hampir gila karena tak bisa menemukan Ara. Sekarang setelah dirinya tahu dimana Ara. Malah Mamanya berusaha memisahkan antara dirinya dan Ara.
"Mama!" sentak Rio.
Mereka semua terkejut dan sekaligus terdiam melihat Rio keluar dari kamar mandi. Benar saja Ara hampir melupakan Rio yang berada di dalam kamar mandi.
"Mama kok tega sih, Rio itu lagi berusaha buat ajak Ara pulang. Tapi memang gak semudah itu Ma. Tolong Ma, kasih dukungan buat aku untuk buktikan ke Ara kalau Rio tulus mau membina semuanya dari awal," mohon Rio memelas.
"Mama lihat, Rio bisa sampai ke sini karena Rio lagi berusaha bujuk Ara untuk pulang. Meminta kesempatan buat Rio. Rio menyesali semuanya, sekarang Mama tolong jangan dorong Ada buat pergi dari kehidupan Rio. Rio mohon!"
Ara tertegun, begitupun yang lainnya.
"Ternyata Rio memang tulus mencintaiku, kenapa mendengar dia memohon segitunya hatiku tersentuh. Karena memang dia benar-benar tulus kan," batinnya.
"Please, Ra, kasih tau ke mereka. Aku memang berusaha membuat semuanya akan baik-baik aja. Berusaha agar kamu mau pulang, dan berusaha memulai kehidupan yang baru lagi sama kamu. Jelasin ke mereka Ra!" Rio terlihat emosional bahkan sesekali mengguncang tubuh Ara.
"Jangan dengerin Mama kalau mama mau menyuruh kamu ceraikan aku. Seribu layangan gugatan cerai aku gak akan menyetujuinya. Walaupun pihak pengadilan menyetujuinya, sampai kapapun aku akan menganggap kamu itu istriku. Jujur dari hatiku yang dalam aku mencintaimu Ra," akunya membuat Ara tersipu malu mendengar ungkapan Rio.
Mama Fani dan Derry saling pandang mendengar penuturan dari Rio.
___