Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 26


"Asalamualaikum" Salam Rio


"Waalaikumsalam" jawab Mamah Fani yang tengah duduk ruang tamu.


"Habis dari mana Rio ?" Tanya Mamah Fani. Rio langsung mencium tangan Mamah Fani.


"Habis main dari rumah temen." Jawab Rio


"Main atau berantem ?"


"Main Mah " Jawab Rio tertunduk.


"Kalau main gak mungkin sampai luka-luka begini" Mamah Fani menyentuh ujung bibir Rio yang terdapat luka.


"Au sakit Mah" Ringis Rio


"Kamu tuh udah berumah tangga Rio. Pergi sendiri, kamu harusnya pergi sama Ara. Bukan Derry yang ngajak Ara pergi jalan-jalan. Ini pulang-pulang malah berantem. " Marah Mamah Fani.


"Maafkan Rio Mah." Hanya kalimat itu yang Rio ucapkan.


"Udah kamu bersihkan diri dulu. Baru itu kamu makan." Perintah Mamah Fani.


Rio pun pergi ke atas.


***


Rio masuk ke kamarnya, dan melihat keseluruhan isi kamarnya. Namun yang ia cari tidak ada ? Rio duduk di sofa


"Kenapa denganku ini ? Kami menikah bukanlah saling cinta. Tapi melihat Ara yang begitu emosi membuat aku frustasi. Seakan-akan aku yang membuat kekesalannya. Hati ini terus ingin mengatakan kata maaf untuknya. Ya Tuhan, ada denganku ini ?" Gumam Rio dan menghela nafas panjang di sandarkan kepalanya ke sofa dengan memejamkan matanya.


Tak lama kemudian Ara keluar dari kamar mandi dengan mengunakan handuk piyama atas lutut dan sembari mengeringkan rambutnya yang kini tengah basah. Ia terkejut melihat Rio yang sudah berada dalam kamar. Dan melihat luka lebam di ujung bibirnya. Hati Ara ingin sekali untuk bertanya apa yang sudah terjadi sampai pulang terluka. Tapi ketika teringat kejadian siang tadi membuat kesal Ara kembali. Ara berusaha untuk tidak melihat apa-apa, Ara melangkah ingin keluar.


"Ara.." panggil Rio lembut


Ara langsung berhenti tanpa melihat arah Rio.


"Kamu sudah kembali ?" Tanya Rio


"Hm.." hanya itu jawaban Ara.


Rio mendekati Ara dan membalikan tubuh Ara agar saling berhadapan. Ara menuruti Rio, namun Ara tak menatap Rio. Rio mencoba mengangkat dagu Ara agar mereka saling tatap. Ara tak menolak, namun hatinya terkoyak. Ara berusaha mengendalikan perasaanya dan berusaha tak mengeluarkan air mata. Padahal hatinya sungguh sakit sekali, hanya sehelai kertas foto. Membuat Ara patah hati, wajar saja ini pertama kalinya ia merasa di hianati. Rio menatap lembut mata Ara. Seolah berkata aku bersalah. Namun bibirnya tak cukup untuk mengeluarkan kata-kata apapun. Rio sendiri tidak tahu apa masalah Ara terhadapnya. Tetapi sikap Ara menunjukan dengan jelas bahwa Ara marah dengan Rio.


"Masih marah ?" Tanya Rio


"Tadi siang?"


"Ara bosan di rumah. Jadi Ara hanya mengisi waktu yang ada." Ara langsung mengalihkan tatapannya agar tak berterusan menatap mata Rio. Karena semakin ia menatap semakin sakit hatinya.


"Lalu kenapa kamu pergi dengan Derry bukan Aku ?" Tanya Rio.


"Ara bukan siapa-siapa Rio." Jawab Ara


Jemari Rio menggapai lengan Ara dan memposisikan kepala Ara kembali untuk saling menatap.


"Lalu apa arti pernikahan kita ?" Tanya Rio


"Pernikahan kita adalah perjodohan. Bukan kedua insan saling mencintai" Tegas Ara, lalu Ara keluar dari kamar meninggalkan Rio berdiri mematung mendengarkan ucapan Ara yang memang benar adanya.


***


Ara melamun dan mengingat perkataan Ara kembali.


"Apa Ara keterlaluan ?" Lirihnya dengan menuangkan air panas ke dalam cangkir.


"Rio yang keterlaluan, bukan Ara" lirihnya dan pergi ke atas kembali membawa nampan berisi secangkir teh dan sepiring makanan. Sebelum masuk kamar, Ara mengela nafas panjang. Ara kembali ke kamar Rio, namun saat Ara masuk. Rio sudah tidak di kamar, dan tak lama Rio keluar dari kamar mandi. Dan Rio menatap ke arah Ara berdiri. Cepat-cepat Ara menaruh nampan di meja dekat sofa. Dan meraih lengan Rio dan menuntunnya ke sofa untuk duduk, Rio menurut.


"Makanlah" ucap Ara dan Ara langsung mengambil p3k di laci meja rias. Ara duduk di sisi Rio. Ara pun langsung membersihkan luka Rio perlahan.


"Au " ringis Rio


"Sakit ya. Tahan bentar ya, bentar lagi selesai" Pinta Ara.


Rio menatap Ara dengan lembut, tatapan Rio begitu lekat. Membuat jantung Ara bergetar, entah apa arti tatapan Rio untuk Ara.


"Selesai" ucap Ara


"Makanlah keburu dingin nant..." belum selesai Ara berucap.


Rio telah mencium bibir tipis merah merekah Ara tiba-tiba. Awalnya hanya saling bersentuhan, tapi hasrat Rio begitu cepat menjalar. Rio tak tahan dengan suara deru nafas Ara yang tersenggal dan tanpa perlawanan. Tangan besar Rio meraih kepala Ara agar semakin dekat dengannya. Rio ***** perlahan bibir Ara yang tipis, Mata Ara terpejam. Deru nafasnya mulai tak beraturan, membuat nafsu Rio meningkat. Masih dengan ******* ringan, perlahan Rio menuntun tubuh Ara agar berbaring di sofa. Perlahan Ara mengikuti irama ciuman Rio. Kini Ara mulai mengimbangi ciuman Rio. Jantung mereka berdegup kencang, ini pertama kalinya mereka merasakan sensasi yang luar biasa. Jemari Rio menggenggam jemari Ara kuat. Rio semakin hilang kendali melihat leher jenjang putih Ara.


"Kenapa ?" Kejut Rio


Ara langsung membenahkan bajunya dan langsung pergi ke kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Rio.