Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 17


Ara perlahan mendekati pintu kamar Rio. Perlahan membuka pintu, dan masuk.


"Eh kemana Rio. Tadi dia tidur, apa sudah bangun?" Ara mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut . Dan ia berjalan ke tepi ranjang. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Hmm, rupanya mandi" gumam Ara. Ara pun berdiri membelakangi kamar mandi. Ia harus menunggu Rio keluar dari kamar mandi, untuk memberi tahu Rio di suruh ke bawah. Sudah 15 menit Ara menunggu Rio keluar. Terdengaran bunyi derap langkah dari kamar mandi terasa mendekati Ara. Ara pun langsung berbalik badan. Karena tubuh kekar Rio terlalu dekat dengan tubuh Ara. Ketika berbalik berhadapan Rio, kepalanya tersantuk dada bidang Rio. Ara pun langsung terjatuh ke ranjang, bersamaan dengan Rio. Karena waktu mau jatuh, Ara sempat merangkul lengan Rio. Tapi karena Rio sehabis mandi, tersisa air mandi. Tangan yang menggapai lengannya licin dan tubuh Rio ikut jatuh menimpa tubuh mungil Ara. Mereka saling menatap, nafas mereka beradu dengan cepat. Rio menelan saliva ketika bibir mungil Ara di hadapannya. Rio terhanyut dengan bau aroma tubuh Ara yang soft. Perlahan bibir Rio mendekati bibir mungil Ara yang merekah merah. Awalnya hanya kecupan ringan, tapi sekarang berubah ciuman panas. Degup jantung Ara tak beraturan, mata ia pejamkan. Ara mengikuti setiap lumatan Rio berikan. Ara tak tahu membalas ciuman Rio, Ara hanya mengikuti apa yang Rio lakukan. Mereka menikmati ciuman di siang hari. Kini Rio berubah mengarah ke leher putih dan jenjang Ara. Rio berikan kecupan yang ringan dan lembut. Membuat Ara seperti tersengat listrik. Ara tak tahan dengan setiap kecupan Rio. Ara mendesah perlahan, membuat Rio tak terkendali. Sempat memberi cap merah di leher putih Ara. Tiba-tiba....


Tok


Tok


Tok


"Ra, Rio kalian di dalam kan. Kenapa lama sekali ? Ayo keburu dingin nanti" Teriak Mamah Fani.


Membuat Rio dan Ara gelagapan terkejut. Mereka spontan berdiri, Rio pun langsung masuk ke kamar mandi. Sedangkan Ara mencoba merapihkan pakaiannya.


"Iya Mah, bentar lagi kami turun " balas Ara dengan nafas tersenggal.


Ara berjalan menuju kamar mandi. Jantungnya masih terasa berdetak tak karuan. Ia tak habis fikir jika yang terjadi adalah ciuman Ara yang pertama. Ara menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ara mencoba mengatur nafasnya agar normal.


***


Rio seperti orang akan tertangkap basah. Jantungnya berdebar antara dengan Ara dan teriakan Mamahnya. Rio tak habis fikir dengan kejadian tadi. Itu untuk pertama kalinya Rio mencium seorang wanita. Sungguh nikmat dan ingin merasakan kembali. Rio mengingat kejadian barusan, sungguh nyata dan jelas terasa.


"Rio get up. Kamu gak boleh jatuh cinta terlebih dengan wanita baru di kenal" Rio mencoba menampar pipinya sendiri.


Tok


Tok


"Rio ayo kita turun kebawah. Tadi aku hanya ingin mengajak turun. Mamah pasti sudah menunggu kita" Ara berusaha tenang jika nanti bertatapan dengan Rio.


"Iya aku pakai baju dulu. Ara duluan saja ke bawah" perintah Rio.


Ara tak menjawab ia masih menunggu di depan pintu kamar mandi.


"Hah" kaget Rio mendapati Ara masih berdiri di pintu kamar mandi.


"Ara aku udah bilang duluan aja" kesal Rio


Ara pun hanya diam dan menatap Rio. Rio hanya menghela nafas, dan keluar tanpa memperdulikan Ara. Ara berjalan di belakang tubuh tegap dan atlentis Rio, menuruni anak tangga.


"Siang Mah?" Cium Rio ke Mamah dan duduk.


"Siang Nak" Mamah Fani tersenyum dan duduk.


Ara terlihat canggung dan tak nyaman ketika Ara dekat dengan Rio. Ara masih ingat kejadian tadi. Ara tertunduk malu sesekali melihat Rio yang duduk di sebrangnya.


"Apa ada sesuatu ? Cerita sama Mamah."


Rio pun tersedak seketika.


"Uhuk.. Uhuk.."


"Kenapa Rio ? Makan tuh pelan-pelan. Ini minum dulu" Mamah Fani menyodorkan segelas air minum.


"Gak ada apa-apa Mah. Cuma kangen orang rumah di Bandung" elak Ara.


"Oh.. Nanti juga terbiasa Ara. Kan kamu masih ada Mamah, Papah, dan Rio. Jangan merasa sendiri ya." Jelas Mamah Fani lalu memeluk tubuh mungil Ara.


"Makasih ya Mah" Ara bersyukur mempunyai mertua yang sangat baik seperti Mamah Fani.


"Hmm.... Ya udah makan. Jangan bersedih lagi ya."


"Iya Mah" Ara pun langsung makan.


****


"Mah, Papah kemana ? Tadi gak makan siang bareng kita. Terus Rio cari di ruang kerja juga gak ada." Tanya Rio dan langsung duduk di sofa ruang tv.


"Ohh... Tadi sebelum makan siang Papahmu ke kantor. Katanya ada hal mendadak." Jawab Mamah Fani yang sedang menonton tv.


"Oh..."


"Ara kemana, Rio?"


"Kayaknya tadi di gazebo"


"Kamu tuh kan ada waktu kosong. Ajak Ara keluar gitu jalan-jalan. Dia kan belum tahu Jakarta"


"Nantian aja dulu deh Mah. Baru aja kita dari Bandung. Rio masih capek Mah." Tolak Rio.


"Ehm Rio ke atas dulu ya" cepat-cepat Rio pergi agar tidak di paksa oleh Mamah Fani.


Mamah Fani yang belum sempat bicara, Rio sudah kabur duluan.


****


Rio yang sedang istirahat di ranjangnya tiba-tiba teringat ekspresi wajah Ara yang memerah tadi siang. Begitu menggairahkan jika diingat. Ia sendiri ingin memejamkan matanya, tetapi bayangan Ara selalu hadir di fikirannya. Cepat-cepat ia membuyarkan lamunannya dan berusaha memejamkan matanya kembali.


"Akhhhhh...." kesal Rio yang mengacak-ngacak rambutnya dan beranjak bangun dari tidurnya. Ia berjalan ke arah balkon untuk menikmati senja agar fikiran Ara bisa di kesampingkan.


Tapi kalau sudah jodoh pasti ada saja jalannya. Rio melihat gazebo terdapat Ara yang sedang menyulam. Rio terkesima dengan Ara ketika berwajah serius sungguh membuat Rio ingin terus melihatnya tanpa kedip. Hatinya mulai mengakui kalau Rio sedang dalam fase jatuh cinta.