Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 111


Dua puluh menit berlalu, Ara keluar dari kamar mandi. Saat dirinya keluar, ia terkejut melihat beberapa para penghuni sudah berada di depan kamar mandi dengan menatap aneh padanya sembari berbisik satu sama lain.


Ia pasang senyum ramah pada penghuni lainnya seperti biasanya. Bukannya dapat balasan yang baik, mereka malah cuek dan terkesan acuh.


Ara bingung, seperti tak biasanya. Walau di antara mereka memang ada yang terkenal judes, tapi sikap mereka ini sangat berbeda Saat dirinya menoleh ke kiri ia lebih terkejut lagi. Ternyata masih ada Rio.


"Rio kenapa masih di sini sih?" bisik Ara mendekati.


Ara tahu alasan para penghuni melempar tatapan tak suka padanya.


"Ara, lo tuh anak baru. Berani banget bawa cowok ke kos, lo itu udah melanggar aturan kos di sini. Kos di sini gak boleh bawa pulang cowok, ini lo belum juga ada sebulan tinggal di sini udah urakan," sindir Meli salah satu penghuni kos yang tinggal tepat di sebelah Ara.


Ara hanya terdiam. Karena memang mengakui dirinya melanggar aturan kos. Wajar mereka menegur.


"Kayaknya ni cowok beda sama yang tempo hari. Bener gak sih guys, apa aku yang salah liat?" Meli menatap selidik ke arah Rio yang ia rasa baru pertama bertemu.


Rio tertegun mendengar ucapan tetangga kosan Ara barusan. Padahal tadinya Rio ingin menyela ucapan kasar Meli karena bersikap tak baik pada Ara. Tapi kalimat barusan membuat Rio menahan diri dan bertanya sendiri.


"Emang lo gak salah liat Mel, gak nyangka ya luarnya cuma sok polos. Aslinya suka gonta-ganti," timpal Eren penghuni yang sama dan satu kampus dengan Meli.


"Kenapa sih gak kita laporin ke Ibu Kos kalau Ara melanggar aturan," sarkas Meli menghasut penghuni lainnya.


"Bener itu."


"Setuju sih," ucap mereka yang terhasut omongan Meli.


"Udah?!" ucap Ara setelah memilih diam ketika para penghuni menyudutinya. Seketika mereka terdiam.


Ara yang baru tinggal beberapa Minggu di sini langsung memahami watak Meli yang selalu kepo, membully dan merasa penguasa di kos. Membuat Ara memilih menghindar. Pasti hanya akan lelah bila meladeni sikap Meli. Cukup diam saja, nanti juga akan bosan sendiri pikir Ara.


"Kok nyolot sih!" kesal Meli yang mendapat balasan dari Ara.


Ara mendekat ke arah rombongan mereka dengan berani. Memasang wajah tegas.


"Mulut kalian emang sampah!" ucap Ara dengan mata melotot.


Sejurus kemudian Ara menggenggam tangan Rio lalu pergi meninggalkan sekelompok para penghuni dengan mulut ternganga tak percaya.


"Ngapain sih ngintilin aku sampe ke kamar mandi?!" oceh Ara tapi tetap menggandeng tangan Rio sampai depan pintu kamar kos milik Ara.


"Kamu gak tau aja, orang-orang di sini suka julid. Kan aku yang kena kayak gini, entar kalau aku di usir dari kos gimana? aku udah bayar lebih dari sebulan kos ini," tambahnya.


Rio membalikan keadaan, ia balik tarik lengan Ara hingga menghabiskan jarak di antara mereka. Mata mereka bersitatap.


Ara tertegun sekaligus dadanya bergemuruh tak karuan jika jarak mereka sedekat ini. Lagi, lagi Ara di berikan tatapan dingin dari Rio. Entah mengapa mood Rio mudah berubah begitu cepat.


"Apa yang mereka maksud sama gonta-ganti cowok? Berapa cowok yang udah datang ke sini?" tanyanya dengan nada khasnya yang menyeramkan.


"Gak usah dengerin mereka, mereka itu emang sukanya mencampuri urusan orang."


"Bohong!"


Rio tersadar, ia lepas segera genggamannya. Ara pun langsung mengambil jarak.


"Aku gak mau ribut sama kamu," ujar Ara ikut kesal. Ia berbalik membelakangi Rio untuk membuka pintu kamar kos. "Sana pulang!" usir Ara.


Saat tubuh Ara sudah masuk ke dalam dan hendak mengusir Rio sekali lagi karena Ara paham pasti Rio batu sekali kalau di minta pergi.


Ara bingung sendiri melihat di depan pintu kamarnya sudah tidak ada Rio.


"Loh? Cepet banget ngilangnya, biasanya susah kalau di usir kek lalat," celoteh Ara karena benar-benar seperti bukan Rio. Ya, kalaupun pergi pasti adalah sekata duakata. Ini benar-benar raib tak berjejak.


Kembali Ara menutup pintu kamarnya lalu di kunci.


"Ish, cowok yang gak berperasaan. Tadi minta penjelasan, giliran mau di jelasin malah minggat," cicit Ara.


Ara tak bisa membohongi dirinya lagi, kedatangan Rio benar-benar membuat dirinya terkejut sekaligus senang. Itu artinya Rio memang benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka. Apalagi Rio sempat bersikap cemburu padanya itu semakin meyakinkan Ara bahwa Rio memang tulus ingin kembali membenah pernikahan mereka.


"Gimana sih, tadi bilangnya aku kayak lalat. Sekarang di bilangnya aku gak berperasaan," ucap seseorang setengah berbisik dari arah belakang Ara.


Otomatis Ara terperanjat, spontan membalikan badannya ke arah sumber suara yang tak lain tak bukan itu suara Rio.


"Ka... kamu hantu ya?!" ucap Ara ketakutan dan bingung hingga tubuhnya menyandarkan di daun pintu.


Rio tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu di tambah ekspresi Ara yang jujur ketakutan. Rio semakin jahil mendekati istri kecilnya itu hingga Ara kelimpungan ingin kabur tapi posisinya sangat tidak memungkinkan.


Yang hanya Ara lakukan memejamkan matanya erat seraya merapalkan doa-doa suci berharap 'setan' yang ia maksud takut dan pergi.


Ara berpikir itu memang nyata. Siapa tahu itu genderuwo menyamar sosok suaminya.


Berharap hilang, Ara semakin ketakutan sebab ia bisa merasakan hembusan nafas di bagian lehernya hingga membuat bulu kuduknya meremang seketika.


"Argh...!" teriak Ara.


Untung segera Rio membekap mulut sang istri agar teriakan Ara tak berkepanjangan dan mengundang para tetangga kos. Seketika mata Ara membuka.


"Stt..." bisik Rio.


Ara bernafas lega ternyata Rio yang di depannya kini memang manusia bukan setan. Kadung kesal Ara di kerjai sang suami, ia injak salah satu kakinya Rio dengan mengeluarkan sisa tenaganya.


"Hm..." rintih Rio karena sigap menggigit bibir bawahnya agar tak menimbulkan teriakannya.


Secepatnya Rio menjauh dari Ara. Mengadu kesakitan.


Ara mengambil nafas lega berulang kali dengan menatap bengis ke arah Rio. Pagi Ara terusik dengan kehadiran Rio. Bagaimana tidak, itu bukan lelucon. Ara ketakutan parah tahu itu hanya akal-akalan Rio. Lebih baik dirinya yang pergi.


Namun masalah lain datang kembali. Pintu kamarnya tak bisa di buka. Berulang kali ia coba, ternyata baru dirinya ingat kalau tadi sempat ia kunci dari dalam. Hendak memutar kunci, ia kebingungan. Kunci hilang, ia rasa tadi benar-benar ada di sini kenapa tiba-tiba hilang. Sibuk Ara mencari di area bawah pintu siapa tahu jatuh.


"Cari ini ya?" ucap Rio pamer kunci milik Ara dengan masih menahan rasa nyeri di kaki.


___