Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 49


"Nanti Angel denger. Emang mau ketahuan?"


"Cih!" Ara membuang muka, "Rasa aku yang selingkuh!" Sindir Ara.


Skakmat yang tak ada obatnya. Ucapan Ara menusuk sampai ulu hati Rio. Tadi Ara menjelaskan isi hatinya. Hati Rio merasa ikut sakit. Ini hanya berapa kata, menusuknya tanpa aba-aba sampai tembus ke jantung. Membuat Rio menatap tak suka ke arah Ara.


Ara tahu Rio mulai terpancing emosi. Terlihat dari ujung ekor mata Ara melihat wajah Rio merah padam.


"Maksud kamu apa?" Nada intimidasi khas Rio.


Ara menoleh ke arah Rio, memasang wajah biasa tanpa dosa. Gerak-gerik mata Ara mengatakan ejekan ke arah Rio. Membuat Rio geram, hingga eratan pada pergelangan tangan ke Ara semakin kuat.


"Maksud aku, aku ini istri kamu. Tapi serasa aku ini kekasih gel-" Keburu Rio mengecup bibir Ara. Ara menegang langsung. Bukan kecupan sekilas, tapi berubah ******* lembut.


***


Rio menjelaskan bahwa apartemen Angel sedang di renovasi. Paling lama satu minggu. Tapi bagaimana akhirnya Angel datang ke rumah Rio. Angel mengatakan ini semua insiatif Angel dan di setujui oleh Rio. Jatuhnya mereka memang sama-sama menginginkan.


Tidak, Rio hanya mengatakan apartemen Angel sedang di renovasi kemungkinan Angel akan tinggal satu minggu. Dan selebihnya itu fikiran Ara. Ara tak mendapatkan kejelasan dari seluruh ceritanya. Jadi Ara hanya menyimpulkannya demikian.


"Kok lama di kamar Ara?" Suara Angel menganggetkan Rio yang baru saja keluar dari kamar Ara. Rio melempar senyum canggung.


"Eh? Iya, tadinya mau kasih tahu kenapa kamu bisa tinggal sementara disini. Tapi malah Ara minta di ajarin tugas kuliah yang dia belum paham." Bohong sedikit tidak apakan, ini demi kebaikan bersama.


"Oh, kamu gak istirahat."


"Ini mau ke atas. Kamu juga harus istirahat." Rio pun pergi naik keatas.


***


Rio masuk ke dalam kamarnya. Lalu melepas kaosnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia hidupkan shower, dan membiarkan air dingin mengucur membasahi seluruh tubuhnya. Teringat jelas ciuman panas antaranya dan Ara. Rio tak bisa menahan diri, dia lelaki normal yang bereaksi ketika mendapatkan hasrat sensitifnya. Apalagi wanita tersebut adalah istrinya sah di mata agama dan negara. Halal apapun yang dia lakukan kepada istrinya termasuk haknya sebagai suami.


Tapi ia langsung tersadar kata-kata Ara. Hubungan mereka hanya di atas kertas, dan hanya di akui kedua keluarga. Tak ada yang lebih, misal kasih sayang atau cinta.


Angel, Rio tak tahu tentang perasaanya selama ini. Dulu cinta pertamanya adalah Angel. Wanita yang ia cintai dan sayangi. Kedekatannya dengan Angel bermula satu sekolah menengah pertama. Dan cinta pertamanya berlabuh untuk Angel. Rio hanya bisa memendam perasaan tersebut. Rio tak percaya diri akan dirinya. Sampai dimana di akhir kelulusan Rio berani mengungkapkan perasaanya untuk Angel.


Angel menerima perasaan Rio. Lelaki yang baru menginjakkan kaki di dunia asmara pastinya berbahagia. Tapi kebahagian mereka terhalang oleh jarak. Angel harus ikut pindah Papanya dinas ke pulau kalimantan. Jarak yang teramat jauh. Tapi tidak dengan hubungan mereka. Mereka saling kasih kabar. Hingga Angel tak bisa Rio hubungi setelah satu tahun lamanya mereka menjalin kasih jarak jauh. Rio tak pernah patah semangat untuk terus menghubungi dan mencari keadaan Angel. Takdir berkata lain, orang tuanya malah menjodohkannya dengan gadis lain. Di saat Rio terpuruk dengan kisah asmaranya tak tahu berujung dimana.


Hanya tiga bulan lebih pernikahan mereka berjalan. Tak ada pendekatan yang intens. Entah kenapa Rio mulai merasakan kenyamanan, dan ketenangan ketika berada di sisi Ara. Rio merasa ingin terus berdekatan dengan Ara. Tapi egoisme nya terlalu tinggi, mengalahkan rasa kejujuran atas perasaanya sendiri.


Menjadikan kisah cinta pertamanya sebagai benalu di dalam rumah tangganya. Rio belum memantapkan hati akan melabuhkan perasaanya untuk siapa. Yang jelas perasaan ke Angel mulai memudar karena kurangnya komunikasi di antaranya. Ada saatnya Tuhan memberikan kepastian dalam hatinya.


***


Ara baru di tinggalkan Rio setelah berhasil menciumnya tanpa henti. Ara basuh wajahnya menggunakan air di wastafel. Usapan kasar terus ia lakukan ke bibirnya.


"Dasar Raja Iblis!" Umpat Ara.


Ia ingat kata terakhir Rio setelah menjelaskan masalah Angel.


"Ingat, kita ini partner dalam satu rumah. Jadi jangan sungkan jika saling membutuhkan." Ucap Rio sebelum ia pergi.


***


Hari ini weekend, di cafe pun turut dirinya libur. Ara bingung mau melakukan apa. Ia lebih memilih kembali tidur. Memang jika ada waktu kosong, lebih baik di gunakan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Tak ada cahaya dari lampu atau sinar matahari sekalipun. Benar-benar gelap. Hanya lampu tidur dengan pencahayaan minim. Hari ini kebetulan hujan juga, semalam hujan deras. Dan paginya menyisakan rintikan hujan. Membawa hawa dingin, mengantarkan orang yang terlelap tidur semakin ingin memiliki waktu tidur yang panjang dengan hawa dingin sehabis hujan. Seperti Ara, semakin dingin ia tenggelamkan diri di dalam selimut dan merengkuh bantal guling.


"Bi, Ara belum bangun?" Tanya Rio sembari melihat arloji menujukan pukul delapan pagi.


Di meja makan sudah ada penghuni lain menduduki meja makan yang biasanya hanya dua orang kini bertambah satu orang. Angel melempar senyum manisnya ketika melihat Rio telah menuruni anak tangga.


"Belum, Tuan." Geleng Bi Imah yang baru menyiapkan sarapan untuk Rio.


"Ck! " Rio menatap pintu kamar tamu yang sekarang di tempati Ara.


"Apa, biar Bibi aja yang panggil?" Insiatif Bi Imah.


"Gak usah Bi, biar Rio aja yang bangunin." Rio berjalan menuju kamar Ara.


"Ara, Ra! " Panggil Ara serta mengetuk pintu kamar Ara.


Tak ada sahutan, berkali-kali Rio memanggil. Akhirnya Rio masuk, untung kamar pintu Ara tidak di kunci.


"Pasti masih tidur." Tebak Rio, benar saja.


Kamar Ara gelap sekali, tirai jendela pun belum di buka. Rio mendekati ranjang, ia melihat Ara masih terlelap tidur. Yang terlihat hanya puncak kepalanya saja.


"Ra, bangun udah siang! " Panggil lembut Rio


"Umm! " Gumam Ara yang masih betah memejamkan mata.


"Nih anak tidur jam berapa? " Heran Rio sembari melirik arlojinya.


Rio melihat tirai jendela, tersenyum tipis lalu berjalan mendekati jendela.


"Udah siang, masih tidur." Rio menyibak tirai jendela selebar mungkin agar cahaya minim dari luar masuk ke dalam kamar Ara. Cahaya tak terlalu terang karena masih hujan rintik di sana.


"Bi, Ara masih ngantuk." Protes Ara menutup wajahnya dengan selimut. Ia kira adalah Bi Imah. Ara langsung membalikan diri membelakangi Rio.


Rio menggeleng kepala, ternyata Ara susah bangun juga. Ia mendekati Ara dan mencoba menggoyangkan tubuh mungil Ara agar bangun.


"Um, Bi Ara gak kuliah, hari ini weekend aku mau tiduran aja. Lagian di luar hujan, gak ada yang ku kerjain juga." Ucap Ara dari balik selimut.


"Ya ampun nih anak." Rio menghela nafas panjang.


Rio menatap luar jendela yang masih hujan rintik di tambah cuaca semakin dingin. Lalu menatap tidurnya Ara yang hangat berselimut tebal. Di tambah memang hari libur juga. Terlintas di fikiran Rio untuk melakukan hal sesuatu. Rio menyunggi bibirnya.


Tutup kembali tirai yang ia sibak tadi. Serta tak lupa ia mengunci rapat pintu dari dalam.


***