
"Tuhan tolong buka jalan pikiran untuk lelaki di depanku ini!" Seru dalam hati Ara.
"Rio, sakit! Lepas, Gilang udah nunggu aku." Kata Ara yang terus berusaha melepaskan gengamananya.
Rio tak menggubris Ara, ia berlarian ke atas menarik tangan Ara agar ikut ke atas.
Sesampainya di atas, Rio membuka pintu kamar Ara. Rio hempasan tubuh Ara di ranjang dengan kasar.
"Argh!" Pekik Ara, sembari memegang tangannya yang memerah akibat cengkeraman Rio.
Rio membuka lemari baju Ara. Ia sibak-sibak baju koleksi Ara yang di gantung rapih di dalam almari. Dengan kasar Rio mengambil satu stel baju potongan dengan random. Lalu ia lemparkan di sisi duduknya Ara.
"Aku mau kamu ganti baju ini. Cepet!" Paksa Rio.
Ara memandang sengit ke arah Rio, isi otak Rio sedang konslet mungkin. Bukannya Ara sudah bilang untuk tidak mencampuri kehidupan masing-masing. Ara membuang muka tak sudi. Rio merasa emosinya makin memuncak melihat sikap Ara yang mengacuhkan dirinya.
"Ra aku bilang ganti, sekarang! " Nada yang penuh penekanan.
"Gak, enggak, ya enggak." Kekeh Ara tak mau kalah.
Rio mengehembuskan nafas panjangnya, "Ra, kesabaranku udah habis."
Ara membelalak ketika Rio tiba-tiba menyerang bibirnya dengan rakus. Rio seperti orang kesetanan mencium dan menjelajahi bibir tipisnya. Ara berusaha melepaskan diri, tangannya terus memukul dada Rio. Untuk stop ******* bibirnya. Tapi tubuh Ara tak sebanding. Dirinya terlalu mungil. Kakinya ia hentakan di lantai, memohon untuk dilepaskan.
Rio tak perduli, ia semakin panas dengan aksi ciumannya. Ia kunci salah satu tangan Ara, ia remas dengan kuat. Tubuh keduanya meraskaan ada aliran listrik kecil menyengat di tubuh mereka. Nafas mereka memburu, sesekali Rio menjeda guna meraup udara yang hampir habis.
Selain memberontak, Ara hanya bisa menangis mendapatkan perlakuan yang terbilang kasar dari Rio. Rio tak perduli akan hal itu. Nafsunya lebih besar ketimbang belas kasihannya. Tak sampai di situ, Rio bahkan menjelajahi leher putih Ara.
"Lepasin Rio!" Lemah Ara menahan antara sengatan sentuhan Rio dan rasa sedih kecewa.
Rio benar-benar tak perduli. Ia hanya perduli akan nafsunya, mengecup, dan menggigit kecil hingga meninggalkan kissmark di sana.
Setelah bermain-main di sana, Rio berbisik di telinga Ara, "Kalau mau aku lepasin, nurut apa kata ku."
Ara cepat mengangguk, Rio tersenyum menyeringai lalu ia berdiri.
"Sialan!" Bhatin Ara kemudian dengan kasar meraih bajunya dan pergi ke kamar mandi.
"Dia manis sekali kalau marah." Lirih Rio dengan tersenyum tipis.
"Dasar es balok, otak kurang setengah, ih, kalau dia semut udah aku injak-injak sampai kekubur dalam tanah." Gereget Ara.
Ara memandang kesal bayangan dirinya di cermin. Ara pamerkan kissmark di lehernya di depan cermin. Lihat, membekas jelas di lehernya.
"Sialan!" Pekik Ara dengan pelan takut Rio mendengar.
Sekarang bukan plester luka yang ia gunakan, tapi foundation.
***
Hanya lima menit Ara berganti baju. Ara kenakan baju yang Rio mau. Dengan mencebik Ara keluar, dalam hati sudah banyak kata-kata menyumpahi lelaki itu. Itu yang sedang berdiri di sana dengan memasang wajah es balok. Jika dia memang es balok sudah sewajarnya Ara akan menggetoknya sampai hancur. Tapi itu hanya julukan untuk lelaki yang Ara jengkel.
"Udah." Ketus Ara.
"Belum!" Ara mengernyitkan dahi bingung. Apa yang Tuhan ciptakan dalam otak si manusia es balok ini?
"Apa S-" Terhenti ketika klakson motor Gilang bunyi, tak lama ponselnya berdering.
"Hallo!" Angkat Ara.
"Kamu dimana Ra?" Tanya Gilang
"Aku di rumah, tunggu lima menit lagi ya Lang." Buru-buru Ara mematikan panggilan mereka, lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Aku bilang belum." Rio menahan tubuh Ara untuk tidak keluar dari kamarnya.
"Apa lagi sih? Aku gak mau ribut Rio. Gilang udah nunggu aku di bawah." Protes Ara.
"Make upnya belum." Kenapa jadi lelaki ribet sekali.
Ara menghela nafas panjang, ia hembuskan dengan kasar. Ara buka tasnya dengan kasar, di iringi maki-makian untuk Rio dalam hati. Turuti saja lelaki di depan ini, Ara lelah. Ambil selembar tissue basah, sembari berjalan Ara menghapus make upnya.
***
Ara melihat dari kejauhan, di dalam ruangan Gilang terdapat wanita di sana. Ara tak ingin kepo, tapi matanya tak sengaja menangkap gerak-gerik mereka. Niatan awal mau pamit ke Gilang untuk pulang.
Tapi malah mendapati mereka di satu ruangan. Di sana hanya ada Gilang dan wanita itu. Entah wanita di sana Ara tak kenal. Tak terlihat wajahnya, karena wanita itu membelakanginya. Tapi Ara seperti mengenalnya, bentuk tubuhnya tak asing bagi Ara
"Mereka bertengkar?" Tebak Ara, mereka seperti berdebat panjang tentang suatu hal.
"Tunangannya kah?" Di fikiran Ara terus-terusan bertanya siapa wanita itu. Hubungan mereka terlihat tidak baik-baik saja.
Karena setahu Ara Gilang sudah bertunangan dengan wanita seusia dengannya. Dan katanya hubungan mereka terjalin sejak SMA. Pertunangan mereka terjadi seusai kelulusan SMA. Itu yang Ara tahu.
Ketika wanita itu ingin berbalik badan. Ara langsung ikut berbalik membelakangi pintu ruangan tersebut. Ia hampir ketahuan menguping pembicaraan mereka.
Ara hampir jantungan, Ara lihat wanita itu pergi tanpa Gilang di belakangnya.
"Ra! " Ara berjengit kaget, suara Gilang yang tiba-tiba memanggilnya.
"Apa?" Ara berbalik dan melihat Gilang sudah di depannya.
"Kamu ngagetin aku aja." Senyum canggung Ara.
"Emang aku ngagetin?" Alis sebelah Gilang terangkat.
"Lupakanlah, aku mau pamit pulang." Ucap Ara.
"Ya udah ayo!" Ajak Gilang.
"Eh, gak usah. Masa aku ngerepotin kamu terus sih, berangkat-pulang lagi. Aku pulang sendiri aja." Tolak Ara.
"Kan aku yang mau. Lagian juga aku udah bawa kamu dari rumah, masa gak bertanggung jawab gak anterin pulang sampai rumah. Ini Jakarta, kamu orang baru, masa aku tega biarin kamu pulang sendiri."
Iya juga sih, Ara lemah jika mengingat jalan. Apalagi kota besar seperti ini. Dari orok juga Ara tinggal hanya di desa. Terlalu mengambil resiko namanya kalau sampai Ara nekat pulang sendiri. Tampak Ara berfikir sejenak menimbang ajakan Gilang.
"Lama!" Tarik Gilang, lengan Ara di tarik Gilang sampai parkiran.
"Ini Jakarta, juga udah malam. Kebanyakan Mikir entar makin malam pulangnya." Kata Gilang sembari memakaikan helm ke kepala Ara.
Ara tertegun mendapati perhatian kecil namun manis dari Gilang. Ara tersanjung dengan kebaikan Gilang sebagai lelaki. Gilang potongan lelaki dewasa banget. Beruntung wanita yang bisa memiliki Gilang seutuhnya.
***
"Makasih ya Lang." Ara memberikan helm yang ia pakai kepada Gilang.
"Iya sama-sama, btw besok aku gak jemput kamu ya." Ara terkekeh mendengar itu.
"Ada yang lucu?"
"Besok kan weekend Lang."
"Ya ampun iya, ya?" Gilang menepuk jidatnya sendiri menyadari kelupaannya.
Ara tertawa melihat kelakuan Gilang.
"Ya udah ya, aku balik dulu." Pamit Gilang.
Ara mengangguk dan tersenyum manis. "Hati-hati ya."
Gilang membalas hanya tersenyum lalu melaju pergi meninggalkan pekarangan rumah Ara.
***