
"Hallo Ara, kamu lagi di mana? Aku khawatir banget sama kamu. " Cemas Tasya.
Kata Ara terlontar dari mulut Tasya membuat Gilang dan Rio melihat bersamaan ke arah Tasya. Jantung Rio berdebar menanti ekspresi Tasya. Makin khawatir atau lega hanya untuk memastikan keadaan Ara. Sedetik wajah Tasya lega, mungkin Ara baik-baik saja di sana.
"Kamu kenapa Ra? " Wajah Tasya mendadak berubah khawatir. Entah apa yang terjadi, yang jelas Gilang dan Rio ikut semakin cemas.
"Kenapa Ara?" Tanya Gilang tak sabaran.
Sedikit rasa aneh timbul di benak Rio ketika Gilang begitu memperhatikan Ara sebegitunya. Ada hubungan apa Ara dengan pria yang tengah mencemas-kannya juga?
Tasya hanya menujukan telunjuk jarinya ke bibirnya isyarat untuk diam kepada Gilang. Tasya tengah mendengarkan bicaranya Ara di seberang sana dengan serius.
"Oke, tapi kamu di situ ya. Tunggu aku!" Pinta Tasya kemudian mengakhiri panggilannya dengan Ara.
"Gimana Sya? Ara oke kan? Dia dimana sekarang?" Tanya beruntun Gilang.
Rio pun sedari tadi hanya pura-pura membaca buku ikut memasang telinga ingin mengetahui keadaan Ara.
"Banyak tanya lo." Kesel Tasya yang tangannya sibuk membereskan barang-barang milik Ara. "Kalau lo mau tahu kita ke toilet sekarang!" Tasya pun berlalu pergi dengan membawa tas milik Ara. Dan di ikuti Gilang, jalan mereka terlihat buru-buru.
"Ra, lo gak papa kan?" Lirih Rio yang tak mau telat juga mengikuti perginya mereka yaitu toilet. Hatinya pun ikut cemas, menerka-nerka apa yang terjadi dengan Ara.
***
Gilang tersenyum lebar melihat dua wanita keluar dari toilet wanita. Pandangannya tertuju ke Ara. Dengan reflek tubuhnya memeluk Ara dengan erat.
"Ra, kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir, lain kali jangan hilang tanpa kabar." Ucap Gilang dengan nada kelegaan.
Ara pun pasrah Gilang memeluknya. Pelukan mereka pun berakhir. Gilang menatap heran ke Ara. Ia tangkupkan kedua tangannya ke bahu Ara. Mata Gilang menyala seperti orang akan marah.
"Siapa yang buat kamu nangis Ra? Kamu habis nangis kan, terlalu lama kamu nangis. Lihat matamu bengkak." Tanya Gilang, Ara hanya tersenyum tipis.
"Aku gak apa-apa?" Ara melepaskan kedua tangan Gilang.
"Mana ada kamu nangis kayak gini pasti kamu ada masalah? Atau kamu di bully?" Gilang tak habis-habisny bertanya sampai Tasya menghela nafas kasar.
"Ih, lu tuh kaya emaknya dia tahu gak. Tanya satu-satu." Sewot Tasya.
"Diem lu, gue tanya sama Ara." Gilang menatap tak suka ke arah Tasya yang terlalu ikut pembicaraannya.
"Udah nanti aku jelasin. Aku pinjem topi kamu Lang." Ucap Ara dengan lemas.
"Pake aja." Gilang memberikan topi warna putih pada Ara, dan memakaikannya.
"Terus kamu mau kemana?" Tanya Gilang.
"Anter ke cafe kamu lah. Ini kan udah masuk jam kerja aku." Ara membenarkan posisi topi yang ia kenakan ke posisi nyaman.
"Kayaknya gak usah masuk dulu deh. Kamu kayaknya butuh sendiri." Gilang merasa kasihan melihat keadaan Ara.
Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Hidung Ara sampai memerah. Dan terlihat pucat sekali wajah Ara.
"Gak, aku gak apa-apa Lang. Izinin aku datang ya. Please!" Mohon Ara.
"Ya ampun Ra, kamu tuh lagi gak baik gini masa mau masuk sih." Protes Tasya yang masih memegang lengan Ara.
"Beneran aku gak apa-apa." Ara masih memohon kepada Gilang.
Gilang hanya menghela nafas pendek, ia benar-benar tak tega dengan keadaan Ara sekarang.
"Ya udah." Angguk Gilang, dan Ara pun tersenyum lebar.
"Tapi kalau kamu merasa gak kuat bilang ya." Ara pun cepat mengangguk.
"Ih, kok lo izinin sih." Kesel Tasya pada Gilang.
"Ya gak pa-pa sih, kan nanti gue yang jaga. Kasihan hidungnya udah mateng kayak gini." Gilang menjawil hidung mancung Ara yang berwarna merah efek menangis. Ara hanya tersenyum di perlakukan demikian.
"Ya udah, kita ke sana sekarang." Gilang meraih pergelangan tangan Ara. Ara tak menolak, ia sedikit terkejut akan sikap Gilang padanya. Ara tatap pergelangan tangannya di genggam erat. Itu membuat hati Ara sedikit menghangat.
Ada sepasang mata di sana sedari awal memperhatikan arah ruang toilet wanita. Degupan jantung yang bertalu-talu semakin memburu, lega seketika melihat Ara keluar dengan keadaan baik-baik saja.
Mata Rio membulat seketika melihat lelaki yang ia tak tahu namanya tiba-tiba memeluk Ara. Dan Ara tak menolak sama sekali. Kepalan tangannya semakin erat saja. Tidak pelukan saja, namun lelaki itu memakai-kan topinya ke Ara. Tak habis dari itu, hati Rio memanas melihat senyum lebar Ara tertuju untuk lelaki di depannya. Entah apa yang mereka bicarakan, jarak dirinya dengan mereka sangat jauh.
"Dia itu siapa sih? Pacar Ara? Atau siapa?" Ucap Rio yang masih menyorot tajam ke arah mereka. Dan terakhir lelaki itu menarik pergelangan tangan Ara begitu perhatian. Ara pun tak menolak sama sekali.
Mereka pergi bersama, entah Rio pun tidak tahu. Yang ia tahu dia sedang marah dengan Ara, ia pukul dinding di sisinya dengan kesal.
***