Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 97


Ara pulang di sore hari, lalu dirinya langsung berbenah rumah karena Bi Imah tidak lagi bekerja. Setelah itu ia sengaja masak untuk makan malam. Semua yang ia masak, ia tata di atas meja dengan rapih.


"Selesai, habis ini aku bisa mandi." ucap Ara.


Setelah mandi, Ara menunggu Rio pulang. Karena tidak ada kegiatan ia memutuskan untuk menonton tv. Ara tidak tahu kemana Rio pergi, karena waktu dirinya pulang Rio tidak ada di rumah.


[Pulang awal ya, aku mau ngomongin sesuatu.]


Pesan yang Ara ketik langsung ia kirim ke nomor Rio. Berharap Rio akan membacanya.


Sampai jam sembilan malam, Ara terus intens melihat layar ponselnya untuk mengecek barang kali Rio sudah membalas ataupun paling tidak membacanya.


"Kemana sih dia, jam segini belum pulang juga. Chat ku sampe gak di buka." Ara mulai mempertanyakan Rio sedang berada dimana.


Suara televisi masih setia menemani lelapnya Ara tidur di atas sofa dengan nyenyak. Tiba-tiba ia terbangun karena terkejut, remote tv yang ia pegang jatuh ke lantai.


"Ya ampun." kesal Ara seraya meraih remote yang jatuh.


"Jam berapa sih sekarang?" ucap Ara yang sesekali menggaruk kepalanya.


Matanya mencari-cari ponselnya.


"Ah, itu." Ara meraih ponselnya.


"Jam sebelas, Rio udah pulang belum ya." Ara menyapu pandangannya ke seluruh ruangannya berharap Rio sudah pulang, bahkan Ara mengecek chat yang ia kirim.


"Kok belum di buka sih? Kemana sih sebenarnya?" Ara beranjak dari duduknya.


Ia menyingkap korden di antara pintu masuk untuk melihat apakah mobil Rio ada di depan. Tidak ada mobil Rio, membuat Ara semakin penasaran kemana Rio pergi. Sedikit rasa khawatirnya memikirkan Rio.


"Apa dia tidur tempat Mamahnya?" tanyanya.


Ara ragu, karena setiap mereka punya masalah Rio tidak sesekali pergi begitu saja sampai tidak pulang bahkan tidur di tempat orang tuanya sangatlah mustahil. Lalu kemana Rio.


"Apa aku telpon Mamah Fani ya?" Ara segera mencari nomor kontak Mamah Fani.


"Eh, tapi kalau nanti Rio nggak ada di sana. Terus Mamah tanya balik ke aku, aku harus jawab apa?" bimbang Ara.


Akhirnya Ara mengurungkan niatnya untuk menelpon Mamah Fani dan memilih menunggu Rio sebentar lagi.


Jam sebelas sudah lewat, Ara capek menunggu Rio. Padahal ada hal penting yang ia ingin bicarakan dengan Rio. Ara menatap kosong arah pintu masuk, sudah dua botol minuman kemasan yang ia habiskan. Lelah dan masih mengantuk.


Makanan yang ia sengaja masak pun sudah dingin. Sudahlah ia tahan-tahan rasa laparnya sampai hilang tidak berselera makan. Ara menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Ara menyerah, ia berpikir untuk memasukan semua makanan yang ia masak ke dalam lemari pendingin. Daripada di buang, kan mubazir.


Baru saja beranjak dari duduknya, Ara mendengar suara deru mobil milik Rio di depan. Ara lega, ia akan membuka pintu terlebih dahulu baru akan memanaskan kembali masakannya.


Cepat-cepat Ara berjalan menuju pintu, ia buka pintu lebar-lebar. Benar Rio pulang.


Namun jantung Ara berasa berhenti berdetak. Matanya membelalak lebar karena terkejut, tubuhnya seketika kaku sekaku kakunya. Ia terdiam, wajahnya berubah menjadi datar.


Rio lebih terkejut melihat Ara yang membukakan pintu. Ia pikir Ara sudah tidur. Mata mereka bertatap satu sama lain. Ia sekarang bingung hendak bicara apa. Ada wanita yang ia bawa pulang.


Karena tidak ingin menatap lebih lama, Rio langsung masuk melewati Ara yang masih terpaku tanpa bicara.


Ara mengusap dadanya yang terasa nyeri setelah Rio masuk dengan membawa Angel masuk.


Memang bukan kali pertama Angel memasuki rumah mereka. Memang bukan Ara tak mengenal Angel siapanya Rio. Memang Ara bodoh yang masih bertahan untuk seseorang yang mana hatinya bukan untuknya, pikirannya.


___


Ara turun dari lantai atas membawa selimut tebal untuk Angel yang baru saja Rio baringkan di atas sofa. Ara membentangkannya lalu menyelimuti tubuh Angel. Mata Ara sakit melihat baju yang di kenakan Angel yang kekurangan bahan atau memang belum jadi.


"Ih... masih... seru... aku... gak... mau... pulang..." ngelantur Angel karena mabuk.


Mencium alkohol dari mulut Angel membuat Ara hampir muntah. Hidungnya memang tak pernah mencium aroma alkohol yang menyengat, dan itu menganggu indra penciumannya.


"Rupanya mereka habis pergi bareng ya." batin Ara.


"Kenapa Angel tidur di sofa, kenapa nggak di atas." tanya Ara kepada Rio yang masih berdiri di belakangnya.


"Kamar lain kan belum bisa di pake." jawab Rio.


"Kamarmu, biar aku yang tidur di sini." usul Ara.


Rio terkejut mendengarnya. Ia lupa rasa amarah dan cemburu kepada Ara sekarang berganti rasa bersalah karena membawa Angel pulang bersamanya.


Rio mencoba meraih tangan Ara, Rio tahu Ara sedang tak nyaman sekarang. Rio berusaha menjelaskan apa yang sedang terjadi, dan kenapa ia membawa Angel pulang bersamanya.


Ara menghindar kontak fisik dengan Rio. Rio sedih respon Ara begitu dingin. Ara tak ingin tangannya menyentuh dirinya.


Sebenernya Ara reflek ketika baru sadar dua kancing baju Rio terlepas. Tapi ia berusaha menutupi apa yang ia lihat.


"Aku panasin makanan tadi, kamu mandi dulu habis itu makan. Eh, pasti udah makan kan?" tanya Ara.


"Aku belum makan." jawab cepat Rio.


Ara terhenti jalannya, mendengar jawaban Rio. Matanya tiba-tiba memanas, air matanya sudah memenuhi pelupuknya. Ara kemudian berjalan kembali menuju dapur. Ia akan memanaskan kembali masakannya.


Dua jam yang lalu.


"Anterin kita pulang ya." pinta Alex kepada Rio.


"Gua juga ya, Bos." Aris pun ikut-ikutan.


Setelah mereka keluar dari gedung bar.


"Ck, ogah, rumah kalian pada jauh. Kenapa juga gak bawa kendaraan sih? Pake angkutan umum aja, atau taksi sana." Rio menolak.


"Ah, pelit amat." ucap Alex.


Mereka tak peduli penolakan dari Rio. Mereka tetap menaiki mobil Rio dengan sesukanya. Rio pun pasrah.


"Lu, cari apa sih?" tanya Alex.


"Hp." jawab Rio yang masih mencarinya bahkan sampe memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Ah, elo kebiasaan sih Rio." kesal Alex.


"Gue lupa, tadi gue taro mana ya."


"Ketinggalan di Bar kali, Bos."


"Oh, iya, astaga gue taro di meja lupa gue bawa." Rio mengingatnya lalu cepat memutar balik menuju Bar.


"Jangan lama-lama ambilnya!" seru Alex.


Rio pun buru-buru mengambil ponselnya di ruangan mereka tadi kumpul. Waktu ia buka pintunya, ternyata sudah ada dua wanita pekerja yang membersihkan tempat tersebut.


"Mbak, ada liat ponsel saya nggak?" tanya Rio kepada salah satu pekerja.


"Oh, ini ya. Ini punya Mas?" wanita satunya menyodorkan ponsel yang di cari Rio.


Mata Rio berbinar menemukan ponselnya.


"Iya Mbak, makasih ya." Rio mengambil ponselnya lalu pergi.


"Untung ketinggalan di sini."


Rio baru saja ingin mengecek ponselnya tapi ia urungkan. Karena matanya menangkap seseorang wanita yang mabuk tengah di goda oleh dua lelaki di lorong sepi.


Rio berusaha cuek, ia tak ingin terlibat. Tapi semakin ia berusaha ingin cuek, ia semakin tak tega.


"Ah, sial!" batinnya berteriak.


"Woy!" seru Rio kepada kedua lelaki yang tengah mencoba membujuk wanita yang tengah hilang sadar karena mabuk.


Kedua lelaki itu menoleh melihat siapa yang datang menghampiri mereka.


"Jangan ganggu dia!"


"Cih, elo siapanya dia emang?" tanya salah satu dari mereka dengan mengejek.


"Tetep aja, elo gak bisa seenaknya sama perempuan."


"Angel!" lirih Rio yang mengenali siapa wanita yang tengah mabuk di goda dua lelaki.


Rio langsung memperisaikan diri untuk Angel. Angel sepertinya sedang mabuk berat. Pastinya Rio tidak ingin terjadi apa apa pada Angel.


"Gak usah ikut campur ya, lo bukan siapa-siapanya dia!" ucap salah satu lelaki.


"Dia pacar gue!" lantang Rio.


Dua lelaki tersebut saling pandang, mereka sepertinya paham akan bertindak apa sekarang. Tanpa ba-bi-bu lagi, kedua lelaki itu menyerang Rio. Rio yang sudah paham langsung menangkis serangan dari kedua lelaki itu.


____


Alex dan Aris ngos-ngosan setelah keluar dari bar bersama Rio yang tengah memapah Angel.


"Gila, kalau nggak ada kita. Lo keluar tinggal nama, Rio." ucap Alex.


"Sorry, gak mungkin kan gue tinggalin nih Angel sendiri."


Memang Rio cari mati meladeni kedua lelaki yang berbadan besar. Untung saja Alex dan Aris datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, entah bagaimana nasib keduanya.


Aris membantu Rio membukakan pintu mobil untuk Angel. Angel sudah tidak sadarkan diri karena mabuk berat.


"Sekarang, lo mau anter Angel kemana?" tanya Alex.


"Ke apartemennya lah."


"Sebelum anter dia, anter kita dulu."


"Loh, kok gitu. Apartemen Angel lebih deket ketimbang rumah lo lo pada."


"Kita juga bantuin lo tadi, kalau gak ada kita habis lo. ucap Alex.


Rio pun kicep tanpa bisa bicara apapun selain menancap gas menuju rumah Alex terlebih dahulu.


Rio telah mengantar kedua temannya yang jaraknya jauh-jauh. Sekarang ia akan mengantar Angel ke apartemennya.


Dengan kecepatan tinggi, Rio akhirnya sampai di depan gedung apartemen Angel. Ia segera memapah tubuh Angel masuk. Baru saja masuk lobi, seorang wanita berseragam mendekat.


"Mas, ada apa ini?" tanyanya. "Loh, ini kan penghuni kamar 305. Mbak Angel kan?"


"Iya, dia tepar Mbak. Saya mau anterin dia ke kamarnya."


"Aduh, Mas. Nggak bisa."


"Kenapa Mbak?"


"Baru dua hari lalu apartemen Mbak Angel di sewa sama orang. Udah seminggu lalu Mbak Angel pindah, pindahnya pun saya nggak tau." jawab wanita itu.


Rio kembali ke dalam mobil, ia lihat wajah Angel. Mau di bawa kemana Angel, Rio tidak tahu tinggalnya Angel sekarang. Karena memang cukup lama Rio tidak berhubungan lagi dengannya.


Akhirnya Rio membawa Angel ke hotel terdekat. Namun memang tidak bernasib baik, tiga hotel yang ia datangi tidak ada kamar yang kosong. Semuanya penuh alasannya hari weekend. Rio pasrah, ia mengambil keputusan untuk membawa Angel ke rumahnya saja.


Ia pikir jam segini pasti Ara sudah tidur, nanti kalau mendekati waktu subuh Rio akan membangunkannya dan mengantar Angel pulang tanpa di ketahui Ara. Tapi tidak sesuai rencananya, Ara belum tidur bahkan melihat Rio membawa Angel dengan keadaan kacau.


____