
Tak lama mobil berwarna hitam keluar dari pekarangan rumah setelah mobil Derry pergi.
Rio sudah berniat membuntuti mobil Derry yang akan mengantar Ara pulang. Rio penasaran selama ini Ara tinggal dimana. Kedua mobil bersaudara melesat membelah jalan ibu kota di tengah malam.
Mama Fani sengaja meminta Derry yang mengantar Ara pulang. Karena takut membuat Ara tak nyaman jika Mama Fani menyuruh Rio. Sekaligus untuk acuan Rio semakin membara mendapatkan Ara kembali.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Derry berhenti depan gedung indekos. Mobil Rio berhenti tak jauh, cepat-cepat mesin mobilnya ia matikan.
Rio tak menyangka jika Ara selama ini tinggal tak jauh dari rumahnya.
Ara keluar dari mobil Derry, lalu Ara melambaikan tangannya ke arah Derry seraya melempar senyum. Mobil Derry akhirnya pergi menjauh dari tempat tinggal Ara.
Rio tetap memasang mata elangnya, menangkap gerak-gerik Ara yang sekarang sudah masuk ke dalam.
Rio akhirnya bernafas lega sekarang tahu Ara tinggal dimana. Setidaknya itu yang terpenting.
___
"Bang, lo mau ke kantor?" tanya Derry.
Pagi ini, Rio terlihat rapih mengenakan stelan jas seperti biasa akan masuk ke kantor. Wajar Derry bertanya, karena sudah semingguan abangnya ini tidak nafsu melakukan aktifitas apapun semenjak rumah tangganya sedang di ujung tanduk.
Rio tidak menjawab, ia hanya fokus menghabiskan sarapannya.
"Ah, elah. Kek, cewek lagi dapet aja lu bang. Orang tanya tuh, di jawab," cibir Derry yang ikut duduk berhadapan dengan abangnya.
Derry tersenyum smrik, melihat abangnya sekarang seperti terlihat stres berat. Ia hanya terdiam sembari makan tanpa ekspresi. Derry sangat tahu abangnya ini memang orangnya akan lebih pendiam lagi jika ada masalah yang berat. Apalagi bukan Ara.
Pastinya isi pikirannya sedang kocar-kacir memikirkan bagaimana kedepannya. Derry memang senang tapi tidak sepenuhnya. Ia senang akhirnya Rio menyadari kesalahannya menelantarkan Ara. Sehingga abangnya ini bisa memilih untuk tetap jalan atau tidak.
Derry masih memiliki perasaan ke Ara. Tetapi sekarang ia sedang belajar mengolah perasaannya menjadi rasa sayang sepantasnya saja. Makanya ia juga tak tega melihat penderitaan kakak iparnya itu di perlakukan dengan plin-plan. Derry tahu, Ara sebenarnya memiliki rasa untuk Rio. Makanya ia lebih empati ke Ara ketimbang abangnya sendiri.
"Udah Bang, hubungan kalian itu tinggal pilih aja. Mau lanjut apa kagak. 'Kan lu gak suka tuh sama Ara. Lepasin aja, kasihan Ara. Nangis mulu sama lu," ucap Derry memancing.
Mendengar itu, hati Rio tertohok. Tubuhnya bereaksi, terkejut ucapan sang adik.
"Lagian nih, Ara tuh penurut banget. Walau dia punya rasa suka atau enggaknya ke lo. Kalau lo bilang end, ya udah end. Dia gak matre, gak bakalan juga pastinya minta harta gono-gini. Apalagi kalian belum punya anak. Aman dan pastinya cepet kelar tuh perceraian," sambung Derry yang memang sengaja memanasi abangnya.
Terhenti Rio yang berusaha payah menghabiskan sisa sarapannya dengan di sandingkan ucapan Derry yang menusuk.
Setelah kejadian yang lalu, kejadian dimana Derry berterus terang akan perasaannya terhadap Ara pada Rio. Hubungan mereka tak sedekat seperti dulu.
Rio yang memang tak ingin berdekatan lagi dengan sang adik. Setelah sekian lama, baru kali ini Derry mengajaknya berbicara. Tetapi hal yang di bicarakan sungguh tidak bagus untuk kembali memperbaiki hubungan mereka yang tadinya renggang.
"Udah, lu gak usah pusing-pusing. Entar kalau lu dah cerai sama Ara, baru tuh. Gue yang ganti posisi lu, jadi suami Ara," kelakar Derry.
Rio berusaha menahan untuk tidak meluapkan kekesalannya karena sang adik berusaha mengujinya. Namun, dia tidak bisa lagi menahannya lebih lama lagi.
Rio langsung berdiri dan menyambar kerah baju Derry hingga Derry pun berdiri. Tatapan mereka bertemu, kedua mata Rio berapi-api. Cengkraman Rio semakin mengerat saja. Akan tetapi Derry tetap santai, malah mengulum senyum.
"Derry, tarik ucapan lo sekarang!" ucap Rio penuh penekanan.
"Yang mana?" Santai Derry. "Oh, yang gue bakal gantiin posisi lu? Gue serius!"
Nafas Rio memburu, cengkeramannya semakin mengerat. Rasanya ingin menghajar wajah adiknya itu hingga babak belur. Tapi ia sadar, ia masih mencoba menahannya.
"Gak adil rasanya kalau Ara harus menderita demi bertahan sama lo. Kalau lo gak mampu bahagian Ara, mending lepasin. Kasih Ara buat gue, adik lo. Gue siap kali, gue nerima Ara apa adanya. Pastinya gue lebih bersyukur karena mendapatkan seorang istri modelnya kayak Ara."
Wajah Rio semakin memerah, emosinya benar-benar di uji. "Ara bukan barang!"
"Nah, lu tahu! Kemana aje selama ini lu. Otak lo tuh masih normal, masih bisa bedain mana manusia sama benda. Ara itu manusia punya perasaan, makanya lo tuh harusnya jaga perasaan Ara.
Minimal, hargain Ara kek. Lo gak tahu Ara berusaha bertahan sama lo yang jelas-jelas gak bisa kasih pilihan dia hidup. Kalau lo mau Ara balik, tegas, jaga, kejar! Jangan ngabisin waktu buat mikir, tapi usaha!" ucap Derry dengan sarkas kemudian ia hempas cengkraman tangan Rio dari kerah bajunya.
Rio terdiam, terpaku. Emosinya perlahan melemah, otaknya sedang merekam dan berulang kali memutarkan apa yang Derry ucapkan barusan. Rio tertampar.
"Ah, payah lo. Mau nungguin Tuhan buka mata hati Ara, bangun! Makanya selagi ada tuh di jaga," kata Derry kemudian ia langsung pergi meninggalkan sang abang sendiri dengan kekalutan di benaknya.
Seperginya Derry, Rio terduduk. Apa yang di ucapkan Derry memang bentuk sikapnya selama ini. Secara gak langsung Derry mewakili perasaan Ara selama ini.
____
"Bos, gimana, Ara udah ketemu?" tanya Aris pada Rio yang baru saja masuk setelah Rio.
Rio menghempaskan diri ke kursi kebanggaannya. Setelah seminggu Rio tak masuk ke kantor. Aris di buat kalang kabut ketika Rio meminta bantuannya untuk menemukan Ara. Setelah lagi ini di tampar oleh kata-kata Derry. Rio semakin frustasi.
Tapi ia tersadar satu hal, satu pertanyaan yang membayangi benaknya. Kenapa Derry begitu memahami Ara?
Dia tahu, Derry jujur kalau dirinya memang menyukai Ara. Tapi Rio lebih tahu adiknya seperti apa. Tidak mungkin Derry melangkah lebih jauh hanya sebuah perasaan yang jelas akan membuat perselisihan panas antara mereka.
Argh! Semakin di pikirkan semakin sakit kepala. Kalau pun iya, memang salahnya. Dirinya yang menyia-nyiakan Ara sedari awal. Sekarang ia merasa karma tengah menggerogoti tubuh, pikiran, dan hatinya.
Melihat kedatangan Rio. Aris menebak, Ara pasti sudah ketemu atau pulang. Kalau tidak, tidak mungkin Rio datang ke kantor.
Sempat dirinya di minta mencarikan Ara hingga ketemu. Kalau tidak di laksanakan, ya, pasti Rio akan mengancam akan menurunkan jabatannya. Mau berbuat apa selain menuruti si bos nya itu. Aris tidak tahu harus mencari kemana istri bos-nya itu hanya dengan bermodalkan foto. Ikut khawatir juga saat Rio memintanya dengan nada putus asa.
Butuh lama Rio menjawab. "Udah."
"Oh, syukurlah," lega Aris. "Terus gimana keadaannya?" tanya Aris.
"Baik-baik aja."
"Lah, Ara ketemunya dimana? Pasti dia pulang sendiri," tebak Aris.
"Iya," jawabnya. "Udah, nanyanya?"
Bibir Aris mencebik lalu berlalu pergi ke tempat kerjanya. Padahal ia masih banyak yang ingin ia tanyakan. Tapi mood Rio sepertinya sedang tidak bagus.
"Ketemu gak ketemu sama-sama galak," cibir Aris.
Rio memijat-mijat dahinya, pikirannya benar-benar kacau. Kehidupannya begitu mudah di jungkir balikan oleh seorang Ara. Yang dirinya pernah membangun hubungan dengan Angel saja tidak separah ini. Benar-benar seperti hanya terjadi satu malam.
Ia sedang memikirkan bagaimana caranya membuat Ara kembali, kembali bersamanya. Memang benar, rasa akan nyata ketika seseorang itu telah pergi. Itu yang sekarang Rio rasakan. Apalagi perkataan Derry membuat Rio akan berusaha mendapatkan hati Ara sesegera mungkin. Tak rela ia lepaskan Ara begitu saja, apalagi untuk Derry.
Maka dari itu Rio tidak bisa lagi menunggu lebih lama. Semakin ia banyak terdiam, peluang yang ada semakin hilang. Ia harus berbuat sesuatu.
"Eh, Bos mau kemana?" tanya Aris melihat Rio keluar dari ruangannya.
Rio tidak menjawab, ia hanya melewati Aris dan beberapa staf begitu saja. Otomatis Ari mengejar Rio.
"Nanti ada pertemuan sama Surya Grup, Bos. Masa mau di ulur lagi sih," protes Aris yang sekarang sudah berada di samping Rio.
Rio masih saja terdiam hingga di depan lift. "Batalin aja."
"Hah!" Aris melongo. "Mana bisa, ini klien kita penting banget. Mereka mau investasi gede-gedean. Masa mau di batalin gitu aja," ujar Aris berusaha meyakini atasannya itu.
"Gak bisa gue ada urusan penting."
Lift pun terbuka, beberapa staf keluar dan menyapa Rio. Lalu Rio segera masuk dengan di susul Aris. Ia tekan tombol lantai dasar.
Pastinya Aris kalang kabut kalau sudah begini. "Emang gak bisa di tunda dulu apa, ini kesempatan bagus Rio!"
Rio hanya terdiam.
"Kalau kamu tunda lagi, pasti pihak Perusahaan Surya Grup bakal batalin begitu aja."
Tak lama pintu lift terbuka, Rio seperti mendengar masuk telinga kiri lewat telinga kanan. Sama sekali tak menggubris apa yang di ucapkan asistennya itu.
Kakinya melangkah keluar dengan terburu-buru, Aris pun masih mengikuti Rio dengan wajah kusut.
Mobil yang akan ia pakai telah siap di depan lobi. Sebelum masuk, Rio berbalik badan menghadap ke Aris. Aris pastinya menatap harap kalau bosnya itu berubah pikiran.
"Iya emang sayang sih," ucap Rio manggut-manggut.
Mata Aris berbinar, senyumnya melebar. "Nah, jadi 'kan?"
"Gak?" jawab cepat Rio.
Aris kecewa, lalu apa yang di maksud Rio tadi.
"Kalau lo ngerasa nih sangat menguntungkan bagi perusahaan. Bikin janji lagi sama pihak mereka. Setelah aku selesai sama urusan gue, baru gue bakal hadir ke pertemuan mereka," jelas Rio.
Aris tercengang bagaimana bisa si bosnya dengan mudah memerintahkan dirinya membuat janji lagi ke pihak Surya Grup.
"Bos, lu gila ya!" Tak percaya Aris.
Rio tidak memperdulikan keterkejutan Aris karena ucapannya barusan. Rio memilih masuk ke dalam mobil dan memacu mobilnya pergi meninggalkan gedung kantornya.
Setelah mobil Rio menghilang dari pandangan. Aris rasanya ingin mencaci maki atasannya itu. Tapi ia urungkan, sebab security kantor sedang di sisinya. Aris pun masuk kembali dengan perasaan dongkol.
___