Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 79


Ara memejamkan matanya, terasa ada sesuatu yang hangat dan lembut yang tengah menyentuh bibirnya.


Ah, Ara sampai gila di buatnya. Nafasnya menderu kasar. Dadanya naik turun, tersengal di buatnya.


Ingin kedua tangannya merengkuh leher Rio, ingin menikmatinya lebih dalam. Namun ia urung, ia malah mendorong lembut dada Rio. Otomatis pautan mereka lepas, Rio pun mengambil jarak menjauh. Nafas mereka tersengal, saling melempar pandang


"Maaf," desahnya seraya pergi begitu saja meninggalkan Rio.


Hatinya belum siap, jika harus melakukan lebih dari hubungan mereka yang tak jelas ini.


Rio terduduk di tepi ranjang, dengan wajah lesunya. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan yang sesungguhnya. Jujur ia mulai memiliki hati untuk Ara, entah kapan itu terjadi.


Yang jelas saat ini, ia merasa sedih. Berulang Ara menahannya sampai dirinya benar-benar memilih Angel atau Ara. Jujur sangat jujur jika ia memilih, ia akan memilih....


Brak!


Rio terkejut, pintu tertutup dengan kasar. Ia menatap Ara tengah sedang terengah-engah di pintu.


"Ada apa Ra, bikin orang jantungan!"


"Sorry, sorry, ada Mama di bawah. Aku jadi gak berani ke kamar," tuturnya memberi penjelasaan.


"Rio... Ara..." samar-samar memanggil mereka, sepertinya akan menuju kamar Rio.


"Tuh, Mama kayaknya mau ke sini deh," papar Ara.


"Hm....kamu buka aja pintunya. Aku mau pakai baju dulu, paling ngajak makan," Rio pun pergi ke kamar mandi guna memakai bajunya.


"Oh..." angguk Ara kemudian menjauh dari pintu dan memilih duduk di meja rias.


Rasanya canggung pikir Ara. Kali ini Ara benar-benar tak mau terjebak lagi, mengikuti hawa nafsu ketika mereka terlalu dekat. Biarlah, biar Rio memikirkan hubungan mereka. Jika memang ia memilih Angel setidaknya Ara janda dalam keadaan perawan.


"Ara, kamu udah bangun?" panggil Mama seraya mengetuk pintu.


"Mama," lirihnya, ia pun beranjak dari kursi mendekati pintu.


"Iya, Ara udah bangun," jawabnya sembari membuka pintu lebar-lebar.


Mama tersenyum lebar ke Ara, tentu Ara membalasnya. Tatapan hangat dari Mama membuat Ara merindukan Bundanya.


"Ada apa Ma?" tanya Ara.


"Rio mana?" tanyanya, Mama melihat arah belakang berdirinya Ara yang memang kebetulan menghalangi pandangan Mama Fani. Sepertinya ingin tahu keberadaan Rio.


"Masih di dalam kamar mandi, Ma. Pakai baju," balasnya.


"Oh, kamu kayaknya udah siap mau berangkat ke kampus," Mama Fani memperhatikan penampilan Ara.


Ara tersenyum dan mengangguk.


"Ya udah yuk, kebawah, kita sarapan," ajaknya.


Cklek!


"Rio kamu turun juga ya," ujarnya saat melihat Rio keluar dari kamar mandi dan telah siap dengan pakaian casualnya.


"Iya Ma..." jawabnya singkat.


Baru saja ingin mengikuti langkah Mama keluar dari kamarnya. Ujung matanya menangkap sesuatu yang membuat,


jantungnya mau copot, benar-benar ia ingin


mati di tempat. Rio tengah mendekat di lemari action figure-nya, sambil menggunakan jam tangannya ia memperhatikan dari luar kaca koleksi action figure-nya.


Mendadak suhu badannya panas dingin.


"******, gimana kalau dia sadar kalo action figure-nya ada yang ilang," bathinnya, ia mulai ketakutan. Dan harus cepat mengalihkan Rio dari tempat sana sebelum dirinya menggantikan action figure yang mirip dengan miliknya.


"Ayo, kita ke bawah," Mama meraih tangan Ara. Ara membeku, Mama Fani sudah menarik lengan menantunya namun tidak lekas berjalan.


"Ara..." panggilnya sekali lagi.


"Eh, iya mah, aku ambil tas dulu ya Ma, sebentar.... kok. Mama duluan aja , nanti Ara nyusul," imbuhnya dengan sedikit memohon agar Mama Fani segera turun.


Mama Fani sedikit merajuk, padahal dirinya ingin sekali mengajak menantunya turut ikut turun bersama. Tapi bagaimana lagi, jika menantunya enggan ikut.


"Iya, Mah," angguk Ara.


"Jangan lama-lama ya," selorohnya memastikan Ara tidak mengulur waktu.


"Iya, Mah, nanti Ara segera turun," berulang kali Ara melihat ke arah lemari kaca yang di mana action figure di letakan hanya memastikan Rio untuk tidak sedikit pun membuka lemari tersebut.


"Ya kalau gitu, Mama turun duluan ya," pamitnya dan berlalu meninggalkan Ara.


Ara tersenyum, lalu cepat Ara menutup pintu tersebut. Dan ia berlari mendekati Rio, berusaha mengalihkan pandangannya dari lemari kaca tersebut. Bagaimana caranya? Yups, Ara menghalangi pandangan Rio dengan berdirinya di depan mata Rio.


"Udah selesai kan?" tanya Ara.


"Udah," jawab Rio dan menggeser tubuh Ara ke samping. Namun Ara kembali memaksa kembali bergeser agar tetap di hadapannya.


"Ya udah kita turun, Mama udah nunggu kita," alasan Ara.


Lagi-lagi Ara tidak mau bergeser dari tempat ia berdiri. Selain tidak mau menggeser yang padahal Rio sudah memaksa Ara untuk menggeser sedikit tubuhnya.


"Iya, tapi tunggu!" Rio memutar bola mata jengah, Ara sedang kenapa sih?


"Sekarang!"


"Iya Ara... tapi, please geser, aku mau ambil jam tangan!" pintanya.


Ara melongo dengan wajah ****, "Cuma mau ambil jam tangan?" tanyanya.


"Geser!" Rio menggeser Ara kembali, dan Ara pun menurut dengan melongo ternyata hanya ingin ambil jam tangan. Bukan mau ambil action figure.


Tuhan, ternyata Engkau masih berpihak padaku. Ara bernafas lega, karena Rio ternyata hanya mengambil dari sekoci paling bawah tidak di lemari kaca yang terdapat kumpulan koleksi actin figure Rio.


"Kurang sreg sama jam tangan tadi, jadi mau aku ganti," Rio memasang jam tangan bermerknya di pergelangan tangannya.


Ara menyengir kuda, ia hanya menggaruk tekuknya yang tidak gatal. Malu juga sih, kenapa ia bertingkah aneh di depan Rio. Seharusnya ia bertanya terlebih dahulu, sebelum bertindak.


Lagian ngapain juga ia harus menghabiskan waktu di pagi hari hanya say hello dengan benda mati. Ara terlalu takut saja, ia bakal ganti sama persis. Walau ia tidak tahu harus beli ke mana barang begituan. Ara tak paham, dan harus bertanya dengan yang tahu.


"Ayo, tadi ngajak turun, kok malah bengong!" ujarnya yang sudah berada di ambang pintu.


"Eh, iya, ini mau jalan," Ara buru mengambil tas ranselnya kemarin lalu melangkah menyusul Rio.


---


"Ih, berantakan rambut aku!" protes Ara seraya memrapihkan tatanan rambutnya kembali setelah di acak-acak oleh Rio.


Mereka turun bersamaan, Mama Fani seperti orang yang paling bahagia melihat kedekatan mereka. Pandangan yang menyehatkan jiwanya. Senyumnya terus melebar, dia tak menyangka kini melihat putranya sudah menikah.


"Pagi Ma!" sapa mereka kompak, mereka berdua tak menyangka jika akan bersamaan jadi mereka saling pandang.


"Pagi," senyum Mama.


Bi Imah di sana tak kalah senang, melihat pasangan suami istri muda sekarang memiliki hubungan baik. Ya walau bi Imah tidak tahu itu semua di tunjukan hanya sekedar menyenagkan nyonya-nya yang kebetulan berada di sini.


"Ayo duduk, Mama udah bikin sarapan buat kalian," ujarnya sambil mengambil nasi goreng ke piring Rio lalu....


"Gak usah Ma, Ara bisa sendiri," ucapnya bersamaan Mama akan menaruh nasi ke piring Ara namun keburu Ara menarik piringnya.


Seharusnya dirinya yang melakukan itu bukan sebaliknya.


Mama Fani tersenyum, ia kembali meletakan kembali sendok nasi. Dan membiarkan Ara mengambil sendiri.


"Ya udah."


"Mama akan tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan," ucapnya tiba-tiba membuat Ara tersedak.


"Uhuk... uhuk..."


"Ini minumnya..." Mama menyodorkan air minum, segera Ara menerima lalu meneguk air tersebut hingha habis.


"....pelan-pelan sayang," tambahnya.


Rio tersenyum tipis, ia tahu Ara terkejut dengan keputusan Mama Fani yang tiba-tiba untuk tinggal di rumah mereka. Jelas, Ara malam ini akan kembali tidur di kamarnya.


***