
Laki-laki emang sama aja, nyebelin!" Ngomel Ara sembari memasuki rumah.
"Gak Rio, gak Derry, emang satu golongan, yang satu nyakitin, yang satu nyebelin," ungkap Ara kesal.
Melihat nyonya mudanya datang lebih awal dari biasanya, Bi Imah pun menghampiri Ara.
"Lho Neng, kok udah pulang aja, biasanya malam baru pulang?" Tanya Bi Imah merasa heran.
"Bi," Ara langsung reflek mencium tangan Bi Imah.
Bi Imah tersentak mendapatkan perlakuan Ara yang mencium tangannya tanpa gengsi.
"Iya Ara sengaja pulang dulu sebentar, nanti juga keluar lagi kok mau ke cafe," jelas Ara singkat.
"Oh, gitu, tapi Neng," Bi Imah menujuk.
"Udah ya Bi, Ara mau naik ke atas dulu," pamit Ara.
"Eh, tapi, tapi Neng."
---
"Ya Allah kenapa aku harus di nikahkan orang kayak dia," teriak Ara ketika sudah masuk ke dalam kamarnya.
Ara pun menaruh tas ranselnya di atas ranjang. Ia ingin mandi terlebih dahulu sebelum berangkat ke cafe . Rasanya lelah menghadapi kejadian hari ini. Ia ingin menyegarkan diri sejenak.
Ia tersadar sesuatu hal yang mengganjal. Sadar ketika melewati cermin riasnya, ia kembali berjalan mundur guna memastikan apakah ada yang salah dengan dirinya.
"Ya Allah!" Kaget Ara memandangi bayangannya sendiri di cermin.
Ia memegang atas kepalanya.
"Ya Allah ini helmnya Derry, kok masih di kepala?!"
---
"Bi,Bibi," panggil Ara ketika menuruni anak tangga.
"Iya Neng ada apa?" tanya Bi Imah menghampiri mendekati ujung tangga.
"Ara mau pamit kerja ya Bi, biasa Ara pulang malam. Assalamualaikum," Ara meraih lembut tangan Bi Imah lalu menciumnya kemudian pergi menuju pintu keluar.
"Waalaikumsalam," balas Bi Imah.
---
"Berhenti sini ya Bang," tepuk bahu abang ojek online.
"Siap Neng."
Ara turun dari motor tepat di depan cafe milik Gilang. Tak lupa ia melepas helm, kemudian membayar.
"Makasih ya Bang."
"Sama-sama Neng," Abang ojek pun pergi.
Ara lalu masuk ke dalam cafe, ia menyapa pegawai-pegawai cafe lainnya yang baru datang karena baru ganti shift.
Ara sudah mulai beradapatasi dengan lingkungan cafe. Awalnya dia kurang di terima oleh pegawai lainnya karena beranggapan Ara terlalu dekat dengan Gilang bisa di bilang ada hubungan spiesal. Tapi lama kelamaan semuanya tahu bahwa Ara hanyalah sahabat plus teman kampus Gilang saja tak lebih. Dan mulai menerima Ara.
Ara pun pergi ke loker untuk mengambil seragamnya dan atribut lainnya.
Setelah selesai menggunakan seragam dan atribut, Ara pun keluar dan langsung mengerjakan tugasnya. Jujur ia lupa masalah yang ada ketika dirinya menyibukan diri. Ara serasa terlahir kembali, seperti hidup dengan keadaan normal. Gadis remaja memulai hidup dengan bekerja sebagai pegawai cafe. Itu yang Ara fikirkan. Tak apa beranggapan seperti melawan takdir.
Sejatinya Ara hanyalah ingin hidup biasa-biasa saja. Jatuh cinta dengan orang kita cintai lalu menikah dan hidup bahagia. Sesimpel itu. Tapi kenyataannya tidak semanis yang ia fikirkan.
"Ra kamu kerja?"
Ara terkejut, ia sedang membenarkan tali sepatunya yang sempat lepas. Wajahnya mencoba mendongak siapa yang mengajaknya bicara.
"Gilang!"
Ara langsung berdiri dan tersenyum kepada Gilang.
"Iya aku kerja," jawab Ara.
"Kamu tuh buat aku sama Tasya khawatir tahu gak, nyariin kami seisi kampus. Eh ada yang bilang kamu pergi dari kampus."
"Iya, sorry, aku pergi asal pergi. Padahal ada kalian di sana. Sorry ya," sesal Ara.
"Iya gak pa-pa. Kamu it's okey?" tanya ragu-ragu Gilang takut Ara tersinggung jika mengingatkan kejadian di kampus.
"Gak pa-pa," geleng Ara.
"Syukurlah, mau pulang?" tanya Gilang kelihatan Ara sudah memakai bajunya.
"Iya."
"Aku anter ya," tawar Gilang.
"Nggak usah, makasih Lang. Aku bisa kok pulang sendiri, lagian udah pesen ojek online tadi." Bohong Ara.
Ara tak mau mengulang kesalahannya lagi, Gilang sudah di miliki orang lain. Tak pantas jika Ara terus menerus dekat dengan Gilang walaupun mereka hanya sahabat. Tapi adanya kejadian di kampus, orang mudah saja menilai Ara mudah dekat dengan pria lain. Apalagi Gilang sudah tunangan, Ara harus berhati-hati saja.
"Kamu sendiri ngapain ke sini, udah malam begini," tanya Ara.
"Ini aku habis ambil berkas penjualan bulan ini, biasa setor sama daddy."
Ara mengangguk mengerti, mereka pun berjalan keluar bersamaan dan berpisah. Gilang lebih dulu pergi, dan Ara masih berdiri di depan halaman cafe sembari menggulir layar ponselnya.
"Ya ampun susah banget cari angkutan jam segini, dari tadi gak dapet-dapet ojek atau gerobak. Apalagi angkot."
Ia hanya alasan saja berkata pada Gilang bahwa dirinya telah memesan ojek online padahal memang ingin menolak ajakan Gilang.
"Mana udah malem," keluh Ara sembari celingak-celinguk siapa tahu masih ada angkutan umum di area ini.
Sudah 10 menit Ara menunggu, sampai kesemutan kedua kakinya.
"Kalau begini, sampai pagi gak bakal pulang," ucap Ara.
"Mending jalan kaki, siapa tahu nanti ada angkutan umum yang lewat."
Akhirnya Ara pun berjalan kaki. Larut malam semakin mencekam, dingin menyelimuti tubuhnya. Ara terus berjalan kaki, sesekali melihat ke arah jalan raya, mungkin ada angkutan umum yang lewat.
Sudah jauh kaki Ara berjalan, terasa makin jauh saja jalan arah pulang. Memang daerah sini terkenal sulit angkutan umum. Sudah sejauh ini Ara berjalan, tidak ada angkutan umum yang lewat.
Tiba-tiba ada mobil yang minggir, sepertinya ingin berhenti. Ara tak menghiraukan, dia takut orang itu memiliki niat jahat padanya. Apalagi sudah malam begini, di kota besar pula. Semakin cepat jalannya Ara, ia pun merutuki dirinya sendiri karena menolak ajakan Gilang
Ara menoleh ke belakang, mobil itu masih berjalan pelan mengikutinya. Ara semakin takut saja, di tambah mobil itu terus memberinya klakson. Entah apa maksudnya, Ara semakin mempercepat jalannya, ia berusaha tenang.
Semakin Ara berjalan cepat, bahkan setengah berlari. Mobil tersebut semakin laju hingga melewati Ara berlari.
TIN!
"Aw!" Kaki Ara tersandung batu, ia pun jatuh berlutut.
"Ya Tuhan lindungi hamba mu ini," Ara memejamkan mata, menunggu mukzijat dari Tuhan.
Terdengar derap langkah kaki melangkah mendekat, Ara memilih berjongkok dengan mata terpejam kuat. Merapalkan banyak doa.
Terasa bahunya ada yang menyentuh, Ara reflek teriak sekencang-kencang.
"Tolonggg!!! Tolonggg!!! Ampun, ampun, saya orang miskin, duit gak punya, atam, kartu apalah saya gak punya. Demi Allah! cuma punya hp sama nyawa satu. Ambil aja nih hp, nyawa saya masih sayang," ucap Ara.
"Ara, Ara, ini aku," Ara langsung terdiam, seperti kenal suaranya.
Berulang kali ia menepuk bahu Ara. Ara langsung menatap ke atas. Bernafas lega, rupanya Henry Kakak Tasya.
"Kakak, bikin Ara takut," ucap Ara.
---
"Gimana, masih sakit?" Tanya Henry kepada Ara.
Lutut Ara sedikit tergores, namun di tangani cepat oleh Henry. Dia selalu sedia kotak P3K di dalam mobil. Lutut Ara sudah di berikan plester luka.
"Udah gak kok Kak, makasih ya kak."
"Iya sama-sama."
"Maaf ya gara-gara Kakak, kamu jadi ketakutan sampai jatuh."
"Gak pa-pa Kak, aku nya juga gak lihat-lihat dulu siapa orangnya."
"Iya tadi aku lihat kamu jalan sendirian, akhirnya aku puter balik buat mastiin itu kamu apa bukan. Habisnya malam-malam begini kamu pergi sendirian, emang habis dari mana?" Tanya Henry
"Habis pulang kerja kak, tadi kebetulan aja gak ada angkutan umum yang lewat. Jadi aku mutusin jalan kaki."
"Kerja di mana?"
"Di cafe Gilang," jawab Ara.
"Oh, cafe Gilang yang di sana," angguk Henry.
"Iya kak, eh tapi ngomong-ngomong gak pa-pa anter Ara pulang. Rumah Ara sama Kakak kan gak searah," Ara merasa tidak enak hati.
"Gak apa-apa, santai aja," ucap Henry tersenyum pada Ara.
Sepanjang jalan mereka mengobrol ngalor ngidul. Tak terasa sudah sampai di depan rumah Ara.
"Ini rumah kamu?" tanya Henry seraya memperhatikan rumah Ara dari dalam mobil.
"Bukan, aku cuma numpang," ujar Ara.
"Kalau gitu makasih ya kak udah antar Ara sampai di sini, maaf gak bisa ajak masuk. Next Ara bakal traktir Kakak di gaji pertama Ara." Ucap Ara.
Henry tersenyum manis ketika mendengar kalimat terakhir.
"Aku tunggu," gumam Henry dengan pandangan tertuju tubuh Ara yang menghilang.
---
"Mama?!" Kaget Ara ketika masuk ke dalam rumah.
***