Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 70


"Perasaan tadi ada suara Ara di sini?!" Mama Fani mendengar suara Ara begitu keras dari sini. Makanya Mama naik ke atas untuk mencari tahu. Ternyata tidak ada siapa-siapa, mungkin hanya halusinasi.


Mama Fani pun pergi memasuki kamar di sebelah Rio, tepatnya kamar Ara. Sengaja Rio mempersiapkan kamar Ara untuk di tempati oleh Mama nya.


Tidak mungkin kan, di saat ada Mama nya. Membiarkan mereka untuk tidur terpisah. Pastinya Mama akan marah, dan akan menyuruh mereka untuk tinggal saja serumah dengan mereka.


___


Ara bernafas lega bisa menghindar dari Mama.


"Tuh, udah aku kasih tahu juga. Ngeyel!"


"Dasar lelaki nyebelin!!" Ara langsung menyerbu Rio tanpa ampun.


Habis tubuh Rio di pukul oleh Ara menggunakan tas ranselnya.


"Aw.. Aw.. Aw.. Ampun Ra!!" Rio berusaha lolos dari amukan Ara.


"Terlalu jadi suami... nyebelin..." Pekik Ara seolah tak puas memukul Rio.


"Ra, sabar. Kita bicariin baik-baik oke. Aw, Aw,"


"Bodo amat !!"


---


Ara menatap beringas ke Rio. Ia sudah jengkel setengah ******. Jika di beri pilihan untuk hidup kembali atau mati. Ara pasti akan memilih mati saja jika kesempatan hidup yang ke dua kali di takdirkan bersama Rio kembali lagi.


Sebelum Mama Fani memergoki mereka berdua tadi. Rio cepat menarik Ara masuk ke dalam kamarnya. Dengan cepat pula Rio mengunci kamarnya, tanpa sepengetahuan Ara ia menyembunyikan kuncinya di dalam saku celananya.


Lelaki labil, lelaki nyebelin, lelaki tidak punya perasaan, pokoknya cap yang jelek-jelek itu lah Rio. Wanita mana yang betah di sisi Rio selain Angel. Ara sudah setengah mati rasanya menghadapi sikap Rio.


Puasnya Ara setelah memukul Rio.


"Stop!" Tangan Ara tertahan oleh cekatannya tangan Rio mentamengi dirinya sendiri agar Ara tidak terus


Tak sengaja ujung ekor mata Ara menangkap benda-benda tak asing. Ia fikir mungkin perasaanya saja, tapi ia semakin penasaran. Akhirnya matanya menatap juga benda-benda yang tak asing menurutnya.


"Lho itu, itu kan barang-barang aku, kenapa bisa ada di kamar Rio." Dalam hati Ara, Ara melepas tangannya kasar dari cengkraman dari Rio.


Ia berlari mendekati meja rias yang berada di sana dengan tergopoh-gopoh. Ingin memastikan dengan jarak dekat, apakah itu barang-barangnya.


Mata Ara membulat sempurna, benar itu semua, itu semua yang tertata rapih di meja rias milik Rio. Dari make-up, alat tulis, setumpuk buku, dan kotak rajut miliknya. Sebenarnya dia bingung, kenapa barang-barangnya bisa berada di sini.


Ara menatap Rio yang tengah merasakan rasa sakiy sekujut badannya akibat pukulan keras dari Ara.


"Kenapa barang-barang ku ada di sini?" Tanya Ara seraya menunjuk ke arah meja rias.


"Aw, memang tadi aku suruh Bi Imah buat bawa ke sini semua." Rio menjawab dengan entengnya sesekali mengeluh sakit bagian bahunya.


"Kenapa?!"


Rio duduk di tepi ranjang, "Tadi Mama nelfon mau datang ke sini, nah gak mungkin kan aku harus diem aja. Kalau nanti Mama datang tiba-tiba ngecek seluruh rumah. Dan liat barang-barang kita terpisah, maksud aku kamu di kamar sebelah. Sedangkan aku di sini, nanti Mama curiga. Terus banyak pertanyaan yang aneh-aneh." Jelasnya.


Ara terdiam, ia benar juga. Kalau Mama tahu dirinya dan Rio tidur terpisah, Mama akan marah. Lalu lebih bahayanya lagi Mama Fani akan memberitahu Bundanya. Bisa habis dirinya.


"Paham!" Ucap Rio bewajah datar.


"Iya Paham," angkuh Ara seolah dirinya tak bersalah.


Bisa saja Ara duduk di sembarang tempat, tapi Rio ini anti barangnya di sentuh orang lain. Ara juga gengsi jika sok menguasi tempatnya.


Mama Fani sudah tidur belum ya? Kalau sudah tidur, Ara akan tidur di kamar tamu. Tapi jika belum, masa iya akan berdiri sepanjang malam. Mana nih laki gak peka, bukannya nawarin duduk kek. Nih Ara sudah sopan lho tidak menyentuh apapun barang miliknya. Setidaknya izinin dirinya untuk duduk di lantai sekalipun.


"Rio..." panggil Ara terpaksa.


Kakinya sudah kram sedari tadi, akhirnya memilih untuk melupakan gengsinya di depan Rio.


"Hm..." Sahut Rio tanpa melihat Ara yang sudah kusut wajahnya.


"Tawarin aku duduk kek, aku pegel berdiri terus..." aku Ara.


Rio hanya melirik, terlihat Ara sudah mangkel sendiri.


"Duduk tinggal duduk, emang siapa yang nglarang? "


Mendapatkan izin, Ara langsung duduk di tepi ranjang. Rio sendiri sudah setengah berbaring di ranjang dengan serius membaca buku.


"Dari tadi kek," eluh Ara sembari memukul lututnya yang capek.


"Yang nyuruh kamu berdiri di sana siapa?" Rio tak teralihkan pandangannya dari buku tebalnya itu.


Ara baru lihat ternyata Rio hobi membaca buku sebelum tidur.


"Gak ada sih," Ara merasa dirinya terlalu bodoh.


"Ih, kalau bukan karena Mama di sini, aku gak mau berbagi nafas sama kamu. Mana remang-remang begini ruangannya, kek rumah hantu." Mata Ara menyapu bersih seluruh ruang kamar Rio yang benuansa klasik dengan dominan cat berwarna abu-abu dan putih.


"Aw..!" Pekik Ara ketika buku tebal Rio mendarat di kepalanya.


"Sakit...."


"Suka-suka lah, kamar-kamar ku..."


"Kenapa lutut mu, sakit?" Tanya Rio yang merasa terusik dengan gerakan Ara terus menerus memukul lututnya.


Angguk pelan Ara dengan terus memukul mukul kedua lututnya yang kram dan nyeri.


"Kamu tuh lho habis dari mana Ra, pulang selalu malam," Pertanyaan Rio membuat Ara berhenti memukul-mukul lututnya.


"Aku, aku...." Ara mendadak bingung menjawab apa.


"Aku apa?!" Rio menyenggol tangan menggunakan bukunya.


Wajah Ara begitu aneh, tegang dan gelisah ketika Rio mempertanyakan pertanyaan tadi. Seperti ada yang di sembunyikan oleh Ara.


"Eh, aku, ehem... Aku mau ke bawah, mau lihat Mama udah tidur apa belum."


"Aneh! Tanya apa jawabnya apa," gumam Rio.


Gelisah sekali, pertanyaan sederhana kenapa harus takut jika tidak melakukan hal yang salah.


Ara segera ingin menghindar obrolan mereka tadi. Bukannya ia tak mau tak jujur dengan soal dirinya bekerja. Ara males ribut atau menimbulkan masalah baru. Hubungannya dengan Rio saja sudah cukup rumit. Jika sudah waktunya ia akan jujur, untuk saat ini Ara ingin bekerja dengan tenang.


Ia juga tak mau di cap sebagai perempuan yang gila harta karena menginginkan pernikahan ini. Ia akan buktikan bahwa ia bisa mandiri tanpa menggantungkan hidupnya pada Rio.


***