Rio & Ara

Rio & Ara
Episode 110


Ponsel Rio berdering berulang kali, membuat si empunya mau tidak mau harus bangun.


Masih dengan sisa-sisa mabuknya dan tentunya pusing menyerang. Rio terpaksa mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya yang berada di atas nakas.


Dengan mata yang enggan untuk ia buka. Jemarinya menggulir begitu saja layar ponselnya, lalu ia letakkan di telinganya.


"Halo!"


Tak ada jawaban.


"Halo! Siapa ini pagi-pagi ganggu aja?" kesal Rio.


Lagi, tak ada yang menyahut.


"HALO!" Kali ini nada suaranya meninggi.


Tak ada yang menjawab. Rio kesal di buatnya, ia tarik kembali ponselnya dari telinganya.


Kepalanya sedang pusing berat sebab sisa mabuk semalam. Kini ada orang yang iseng menelepon namun tak ada jawaban. Rio segera membuka mata untuk melihat siapa yang menelepon iseng padanya. Biar nanti ia beri pelajaran.


Jika itu Aris, ia tak segan langsung memecatnya tanpa uang pesangon. Jika Alex, ia akan sita mobil kesayangannya. Sebab Alex masih memiliki hutang pada dirinya yang belum Alex kembalikan. Siapa lagi jika bukan mereka berdua.


Mama dan Papanya tidak mungkin.


Setelah melihat siapa yang meneleponnya tadi. Kini air muka Rio lemas seketika.


"Alarm sialan!" hpnya ia buang sembarangan di atas kasur.


Ia terkekeh geli sebab menyadari kekonyolannya tadi. Marah, menyumpah, kesal setengah mati terhadap alarm yang ia pikir seseorang yang menelepon.


Ia garuk kepalanya yang memang terasa gatal. Posisi kepalanya menghadap ke sebaliknya dimana sekarang kepalanya menghadap persis ke arah meja. Niatnya ingin melanjutkan tidurnya saja.


Saat kelopak matanya hampir menutup netranya. Ada objek di depannya yang membuat matanya kembali membulat.


Ada nampan yang berisi roti sandwich dan segelas susu. Segera Rio terbangun. Tubuhnya mendekati meja tersebut dengan tatapan terheran.


"Apa Mama?"


Rio tertegun sejenak sambil menatap arah makanan tepat di depan matanya.


"Gak mungkinlah, kalau emang Mama pasti aku di hajar habis-habisan. Aku kan habis minum," pikirnya.


Mana mungkin Rio berani terang-terangan di depan mamanya kalau dirinya sesekali mengkonsumsi alkohol. Pastilah dirinya habis di hajar oleh kedua orang tuanya.


Rio raih sandwich tersebut lalu memakannya tanpa bersisa. Kemudian dirinya bergegas membersihkan diri. Rencananya hari ini harus menemui Ara untuk meminta maaf atas perlakuannya di masa lalu sekaligus memperbaiki keadaan.


Setelah berpakaian rapih dengan membawa rasa semangat dan percaya diri. Rio turun dari lantai atas. Kakinya melangkah melewati meja ruang makan. Namun sesaat langkahnya terhenti sebab ujung matanya menangkap hal yang janggal.


Tubuhnya memutar ke arah meja makan dan dapur. Dahinya berulang kali mengerut sebab terheran dengan apa yang terjadi di pagi ini.


"Loh, kok dapurnya bersih? Siapa yang beresin semua ini. Ah, masa Mama sih?" Rio semakin heran.


Untuk memastikan ia dekati area dapur yang sekaligus berdampingan dengan meja makan. Ia cek seluruh area itu, ia rasa setelah kepergian Ara. Bi Imah pun tak lagi bekerja di rumahnya. Mamanya tak mungkin. Mama pasti sudah enggan memijakan kakinya di rumah ini. Tak ada yang membersihkan. Rio belum sempat mencari ART baru.


"Apa ada maling semalam?" tanyanya.


"Mana mungkin, masa ada maling berhati malaikat. Maling kok beberes rumah?"


"Ah, masa bodolah," ucapnya sembari pergi.


Ada maling atau gak ada maling, Rio tak mau ambil pusing. Kalau adapun ya silahkan, selagi nyawanya utuh tak masalah barang berharganya hilang. Menurutnya yang paling berharga dan hilang untuk saat ini hanyalah Ara. Isi pikirannya terputar semua tentang Ara.


___


Saat berjalan ke arah garasi, Rio melihat mobil tidak ada.


"Lah, mobil gue mana?" ucapnya bingung.


"Astaga, tuh maling di kasih hati malah minta jantung. Gak tanggung-tanggung mobil gue pula yang di embat," kesalnya.


Rio belum sadar tentang kejadian semalam sepenuhnya. Ia lupa mobilnya masih terparkir di area kos Ara.


Rio pikir mobilnya hilang karena di ambil maling. Langsung dirinya menelpon Alex untuk menjemputnya untuk di antarkan ke kosan Ara.


Setelah lima belas menit Rio menunggu depan pagar rumah, mobil Alex berbelok ke blok perumahan Rio. Mobil Alex berhenti setelah sampai tepat di depan Rio. Kaca mobil bergerak turun memperlihatkan wajah kesal Alex ke Rio.


"Lama amat sih?" kata Rio seraya membuka pintu mobil.


"Lo mah, bisanya ganggu kehidupan gue. Gak bisa apa liat gue seneng dikit. Gue sibuk Rio!" gerutu Alex.


"Kayak gue hari-hari ganggu kehidupan lo!" seraya menjitak kepala Alex.


"Argh... sakit!" meringis Alex seraya mengusap kepalanya.


"Hari-hari lo tuh cewek terus. Rubah sikap lo Lex, nikah sana. Kasihan cewek yang hari-hari sama lo cuma di icip terus lo tinggalin gitu aja."


"Argh... sialan lo!" teriak Rio karena Alex membalas jitakannya tadi.


"Sembarangan lo kalau ngomong, mata gue emang jelalatan kalau masalah cewek. Tapi bukan berarti gue murahan ya, semua cewek yang gue bawa gak pernah gue rusak. Gila, mulut lo tuh!" caci Alex tak terima.


"Dan gue ogah nikah untuk saat ini. Liat rumah tangga lo aja gue yang trauma. Bebas gini, gak ada yang ngatur atau bawelin gue kecuali Ara," sambungnya.


Rio yang mendengar hal itu langsung melotot matanya ke arah Alex. Segera tangannya kembali melayang ke arah kepala Alex untuk bentuk membalas ucapan Alex tadi.


"Argh!" pekik Alex.


"Mulut lo, Ara punya gue!" tegas Rio.


Alex terkekeh mendengar ucapan Rio yang terdengar Rio sudah jatuh hati pada Ara.


"Elo ngomong kayak gini berasa banget lo tau gimana luar dalamnya Ara. Gue yang tau gimana Ara!"


Sejujurnya mendengar Alex bicara seperti itu semakin membuat Rio bersalah pada Ara. Dirinya terlihat menyedihkan karena telah membuang berlian seperti Ara.


"Harusnya sih gitu dan pastinya gak mungkin dong rumah tangga lo seberantakan ini kalau emang lo kenal Ara gimana. Asal lo tau semalam kalau bukan Ara yang nganter lo pulang, gue yakin lo bakal di kira gelandangan," ucap Alex di akhiri tawa renyah.


"Maksud lo apa?!" Rio kaget mendengar kalimat akhir Alex.


"Lo gak inget semalam? Siapa yang nganter lo pulang dengan susah payah?" tanya Alex.


Rio tertegun, mencoba merangkai setiap kejadian pagi tadi setelah ia bangun di ranjang miliknya. Rupanya itu semua Ara yang ngelakuin.


"Noh, dah sampe!"


Mobil Alex berhenti tepat di gerbang kos milik Ara. Padahal Rio belum memberi tahu akan kemana dirinya minta di antar. Namun Alex seakan membaca pikiran dirinya.


Tanpa basa-basi, Rio segera turun dari mobil Alex. Kakinya melangkah terburu-buru mendekati gerbang kosan Ara.


"Dasar cowok labil!" oceh Alex lalu membawa laju mobil miliknya pergi meninggalkan Rio.


"Pak, permisi pak. Boleh saya masuk?" tanya Rio tergesa-gesa kepada penjaga kos yang Ara tinggali yaitu Kang Odi.


"Mas mau ketemu siapa?"


"Mau ketemu sama Ara, Pak."


Kang Odi menatap wajah Rio dengan seksama sebab Kang Odi teringat kejadian semalam.


"Loh, ini Mas yang semalam yang di antar sama Neng Ara ya?" tanya lagi Kang Odi karena wajah Rio sangat familiar.


Segera Rio mengangguk.


"Bisa-bisa, mari saya antar ke kamarnya," ajak Kang Odi.


Rio mengikuti langkah kaki Kang Odi. Hatinya berdebar tak karuan. Senang dan sedih menjadi satu. Tak karu-karuan bagaimana ia akan menghadapi Ara jika nanti bertemu.


"Nah, ini kamarnya Mas. Kalau gitu saya pamit pergi." ucap Kang Odi.


"Iya pak, makasih ya Pak," balas Rio.


Kang Odi pun meninggalkan Rio yang tengah berdiri di pintu kamar milik Ara.


Dadanya bergemuruh tak karuan. Merasa dirinya belum siap berhadapan dengan Ara setelah apa yang ia ketahui selama ini. Seperti tak memiliki muka jika masih berani bertemu Ara.


"Bisa Rio, pasti Bisa!" Semangatnya sembari sesekali mengatur napas.


Baru saja dirinya hendak mengetuk pintu, pintunya terbuka lebar. Kaku, tubuh Rio seketika kaku. Ara malah terkejut melihat siapa yang ada di depan pintunya. Tak menyangka itu Rio.


Berubah kepalan tangan kini menjadi lambaian canggung ke arah Ara.


"Ha.... hai!" sapa Rio terbata.


Ara keluar lalu menutup pintu.


"Ada apa? kalau gak penting mending pergi," ucap Ara dingin.


Rio seketika diam, begini rasanya kehangatannya di balas sikap dingin dari Ara. Mengingat sikapnya terdahulu.


Tanpa menunggu jawaban Rio. Ara pergi meninggalkan Rio sendiri yang tengah mematung.


"Ngapain sih dia ke sini?" cicit Ara sedikit kesal melihat Rio datang ketempat tinggalnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Rio yang tiba-tiba sudah berada di dekat Ara. Otomatis Ara terkejut lalu berhenti.


"Ngapain sih ngikutin, aku mau mandi," jawab Ara.


"Loh, emang kamu mandinya dimana?" bingung Rio.


Ada rasa khawatir, kenapa Ara mandi harus keluar dari tempat tinggalnya. Yang ia tahu, kebiasaan Ara kalau mandi sering membuat Rio mengelus dada. Gimana cerita kalau sampai Ara mandi dengan jarak dari kamarnya sendiri jauh.


Ara tak mau meladeni Rio, langkah kakinya ia percepat agar sampai ke kamar mandi umum.


"Ara!" Rio meraih lengan Ara hingga Ara mau tak mau harus berhenti lalu menghadap ke arah Rio dengan wajah tak ramah.


"Aku mau mandi, tempat mandinya itu di situ!" tunjuk Ara.


Tempat mandi yang jauhnya sepuluh meter dari kamar yang Ara tinggali. Melihat itu, Rio tercengang.


Kamar mandi kecil yang di sekat menjadi tiga bagian. Tidak ada ruangan tertutup. Pastilah Rio tidak akan mengizinkan Ara untuk mandi di tempat terbuka seperti itu


"Kamu mau mandi di situ?"


"Iya, makanya lepasin!"


Ara menghempaskan tangannya dari genggaman Rio. Tubuhnya berputar membelakangi Rio. Segera mengambil langkah menuju kamar mandi umum.


Lagi-lagi Rio meraih lengan Ara. Ara jengah, tubuhnya berputar kembali menghadap ke Rio dengan tatapan terusik.


"Rio, ini tempat umum. Gak usah cari masalah, entar penghuni lainnya ngerasa terganggu. Aku nanti yang di tegur," ucap Ara yang kesal. "Mending kamu pergi sana."


Rio pun menuruti kata-kata Ara. Ia tahan rasa keinginannya untuk mencegah Ara. Bagaimana bisa membiarkan istrinya sendiri mandi di kamar mandi yang mudah orang siapapun dapat berbuat jahat, misal mengintip. Tapi ia harus tahan karena dirinya datang bukan menambah rasa keretakan namun ingin berdamai dengan sang istri.


Sebisa mungkin ia tak ingin membuat mood Ara rusak hanya karena sepele menurut Ara.


___