
"Siniin!" pinta Ara.
Bukannya di kasih, Rio malah kembali memasukan kunci kamar Ara ke dalam saku celananya dengan wajah pura-pura tak mendengar.
"Ini ada kamar mandi, kenapa harus mandi di luar?" tanya Rio yang terheran.
"Biasa
"Tempat tinggal kamu sempit banget sih?" celetuk Rio seraya melihat keseluruhan kamar Ara.
Mendengar sindiran Rio, Ara geram.
"Ya udah sana pulang ke rumahmu yang gede!" jawab Ara tak mau kalah.
"Mana panas lagi."
"AC-nya nyala gak sih?" Rio mengibas-ngibas kerah bajunya.
"Pantes AC-nya udah mau pensiun itu," tambahnya ketika melihat ke arah AC yang memang terlihat sudah usang.
"Kasurnya pun, kecil," ucap Rio seraya menghempaskan diri ke ranjang milik Ara.
"Pasti sakit kalau bangun pagi, soalnya kualitas kasurnya kayaknya gak sebagus di rumah," tambahnya.
Ara yang jengah hanya memutar bola matanya malas.
"Ya udah sana pulang, ngapain buat menderita diri sendiri di sini!" usir Ara yang makin tersulut emosinya.
Rio beranjak dari tidurnya, berdiri ke arah jendela yang memang sudah di buka oleh Ara. Anginnya yang masuk pun membelai tirai.
"Sirkulasi udara di sini gak bagus juga, jendela cuma satu, ventilasinya pun gak ada. Kamarnya sempit, AC gak berfungsi baik, kamar mandinya apalagi," ucap Rio panjang kali lebar membuat telinga Ara sakit.
"Ya terus masalah buat kamu!"
"Ya masalah lah," jawab Rio menatap serius.
"Dimananya?"
"Masalahnya kamu itu istriku!"
Terdiam Ara. Apa maksudnya? Iya Ara paham, dirinya memang istrinya secara sah di mata agama dan negara. Kata 'istriku' mengapa terdengar hal yang memang Ara ingin dengar sejak awal mereka menikah. Ara merasa Rio dengan tulus mengatakannya. Apakah benar Rio ingin membuktikan perkataannya lusa lalu bahwa ingin kembali memperbaiki semuanya?
"Ayo, kita pulang!" ajak Rio.
Apakah saatnya Ara memaafkan hal menyakitkan yang telah Rio lakukan selama ini? Mendengar ajakan Rio, mengapa hatinya goyah seakan dirinya ingin mengiyakan.
Memikirkan hal itu, Ara terdiam dan tersipu malu. Buru-buru dirinya berbalik badan membelakangi Rio. Pipinya sudah memerah, bibirnya melengkung indah, perasaannya berbunga. Inikah rasanya jatuh cinta.
Memang Rio menyebalkan, sikapnya, kelakuannya. Namun bukankah cinta datang bisa membutakan apapun sekalipun itu hal yang terburuk.
"Gimana?"
Suara Rio menyadarkan Ara. Di pikir-pikir kembali, Ara harusnya tidak begitu saja menerima ajakan Rio. Biarkan saja tetap begini dulu untuk sementara. Ara mau lihat seberapa tulusnya Rio ingin memperbaiki rumah tangga mereka. Takutnya yang sudah-sudah.
Ara berbalik badan memasang wajah datar, "harusnya kamu yang pulang bukan aku, sini kunci kamarku!"
"Oh, ya sudah kalau kamu gak mau pulang. Aku juga gak bakal pulang," ujar Rio sembari menduduki ranjang milik Ara.
"Apa-apaan sih? Keluar gak!"
"Gak mau!" kekeuh Rio malah tubuhnya ia rebahkan di atas ranjang milik Ara.
Ara tak habis pikir mengapa isi kepala Rio terbuat dari batu. Kalau begini ceritanya bagaimana nanti ada penghuni lainnya memergoki Ara dengan Rio di dalam kos.
"Rio, entar para tetangga datang. Aku nanti di usir!" berharap Rio memahaminya.
"Biarin aja, biar kamu ikut pulang sama aku." Rio semakin seenaknya di ranjang milik Ara. Dirinya bahkan menarik selimut hingga sebatas leher lalu matanya terpejam.
"Gimana nanti aku jelasin ke mereka, kalau mereka tau di kamarku ada cowok di sini!" takut Ara yang tak ingin menimbulkan masalah.
Mata Rio terbuka, mendengar ucapan Ara barusan seperti dirinya melupakan sesuatu. Tiba-tiba ia bangun dan duduk, menatap kesal ke arah Rio.
Ara yang di tatap seperti itu mengerut dahinya.
"Seharusnya kamu yang jelasin ke aku maksud mereka tadi kalau kamu bawa-bawa lelaki lain selain aku, siapa dia?" todong Rio kesal.
Ara terdiam sesaat.
"Wajar aku ini suamimu, bilang aja ke mereka kalau kita ini udah menikah. Mereka gak percaya tunjuk aja kartu identitas kita. Bereskan! Kamu ada main di belakang aku ya?!" tuduh Rio.
"Apa sih! Kamu nuduh aku sembarangan, aku gak kayak kamu!" balas Ara tambah kesal.
Mulut Rio terbungkam seketika. Ada goresan kecil-kecil menyayat hatinya ketikaa mendengar ucapan itu dari Ara. Seolah-olah dirinya memang ahli dalam melakukan perselingkuhan.
"Yang mereka maksud itu Gilang, lagian Gilang di sini cuma dua kali waktu ngantar aku lihat kosan di sini dan pindahan karena aku minta tolong ke dia carikan tempat kos. Selebihnya dia antar aku ke kos cuma sampe depan gerbang. Kita gak ada hubungan lebih cuma sebatas teman!" jelas Ara.
___
Di suatu Mall Tasya dan dua temannya sedang melihat-lihat brand kosmetik. Mereka membeli beberapa kebutuhan yang sudah habis setelah membeli mereka pun keluar.
"Eh, pada laper gak sih?" tanya Tasya pada kedua teman wanitanya itu sembari melihat jam di tangannya. "Udah lewat jam makan siang ini, gue belum ada makan."
"Ya udah kita cari makan yang enak di sini," ajak salah satu temannya dan di setujui.
Mereka pun pergi mencari restoran yang sesuai selera mereka. Setelah melihat salah satu restoran mereka pun setuju ingin makan di sana. Restoran cepat saji. Pengunjungnya pun agak sepi karena sudah lewat di jam makan siang.
"Lo mau pesen yang mana Sya?" tanya salah satu temannya.
"Apa ya?" bingung Tasya karena banyak menu yang terlihat enak.
"Aduh!"
"Lo kenapa?"
"Gue ke toilet dulu ya, gak tahan nih tiba-tiba pengen buang air kecil. Pesenin yang mana ajalah. Gak tahan nih! " selorohnya langsung ngeloyor pergi.
Tasya berlari menuju toilet. Ketika ingin berbelok dirinya menabraknya seorang pria hingga tas miliknya jatuh berhamburan.
"Aw....!" pekik Tasya
"Eh, sorry!" ucap pria itu yang langsung membantu membereskan isi tas Tasya.
"Gak papa." Tasya pun ikut mengambil barang miliknya dengan tergesa-gesa.
"Sorry banget ya, gue nitip tas gue dulu. Gak tahan ini!" ujarnya dengan menahan-nahan.
Tak menunggu pria itu menjawab. Tasya ngacir terlebih dahulu. Ia tak pedulikan barang berharganya di pegang seseorang asing.
Lima menit berlalu, Tasya pun akhirnya keluar juga dari toilet dengan wajah lega sembari membenarkan rok mininya.
"Loh, mana cowok yang tadi gue tabrak?" batin Tasya panik sebab lelaki itu sudah tidak ada di area toilet. Ia cari hingga keluar dari area toilet dengan rasa panik dan menyesal mengapa dirinya begitu mudah menitipkan barang berharganya di orang asing.
"Ini tas punya lo," ucap seorang pria tadi.
"Aduh, makasih ya," segera Tasya dekap tas miliknya dengan rasa syukur.
"Maaf, gue kira lo copet, soalnya lo ilang gitu aja," jujur Tasya.
"Sorry juga, tadi gue ambil belanjaan yang gue titipin di toko sana," jelasnya seraya menunjukkan toko yang mana.
Tasya mengangguk sebab dirinya melihat pria tersebut memang membawa banyak tas belanjaan di tangannya.
"Oh, makasih ya sekali lagi, juga minta maaf udah nabrak lo."
"Iya gak papa, bentar ya gue angkat telepon dulu," ucap pria itu seraya menaruh belanjaannya di lantai dan tangan kanannya mengambil ponsel di dalam saku celana.
"Iya Mama ini masih di toilet?" pria itu menjawab telepon seseorang yang ia sebut mama.
Tasya termenung melihat pria muda di depannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia taksir usia pria itu setara dengannya. Sudahlah tampan, gayanya yang simpel namun terkesan elegan yang paling penting wanginya itu loh. Wangi-wangi kalem. Terlihat sekali bahwa pria itu dari kalangan atas. Semakin ia tatap dalam sosok pria di depannya. Semakin degup jantungnya beritme tak terarah.
"Iya, ya Derry nyusul Mama," pria yang menyebut namanya sendiri dengan sebutan Derry pun pamit pergi dengan isyarat mata lalu di akhiri tersenyum.
Tasya melongo tanpa membalas, hatinya kacau tak karuan. Sudah dapat namanya, di beri senyuman pula. Ia hanya mampu menatap tanpa kedip melihat pria itu pergi meninggalkan Tasya.
---