
Mau tidak mau Ara mendekati Rio. Setidaknya ia katakan maaf, dan berkata apa adanya. Tepatnya, sadar kalau dirinya salah.
"Kamu udah pulang?" pelan Ara ketika berbicara di dekat Rio.
"Hem..." hanya gumaman respon dari Rio.
Fix, alamat perang dingin ini mah.
"Em, anu...." takut, bingung, merasa bersalah campur jadi satu tak karuan. "Maaf, aku pake kamar mandinya, barang-barang aku kan di sini. Jadi aku pikir sekalian aja untuk yang terakhir pake kamar mandimu."
Rio hanya diam ia hanya sibuk mencari sesuatu di dalam lemari, tak memberikan respon lebih. Ara menjadi bingung sekarang, kenapa sikap Rio tidak seperti biasanya. Ara salah atau tidaknya pasti Rio akan membabi buta memarahinya. Tapi kali ini tidak. Buat Ara takut aja.
"Kata Bi Imah kamu lembur, em, mau aku buatkan kopi atau teh?" tawar Ara. Bagaimana pun Ara yang menciptakan masalah, dirinya pun yang harus menyelesaikannya juga.
"Terserah!" sedikit bernada tinggi, dan Rio pergi begitu saja meninggalkan dirinya untuk mandi.
Ara tertegun, kenapa kali ini hatinya sakit? Jantungnya berdegup kencang setelah peninggalan Rio. Ia remas pocket alat mandinya, kedua matanya memerah.
"Ra, kenapa sih?" Ara pejamkan mata, dan buliran bening melesat cepat jatuh ke kedua pipinya. Ia mengusap pelan air matanya. Dan berusaha mengatur nafas, agar terkontrol emosi Ara.
Rio belum sepenuhnya masuk ke dalam kamar mandi. Ia terhenti melangkah, dan sempat melihat Ara dari belakang. Ara pun keluar dari kamar, dan Rio pun masuk ke kedalam kamar mandi.
"Buat teh ya Neng?" tiba-tiba Bi Imah datang entah darimana.
"Eh, Bibi!" kejut Ara, yang kebanyakan melamun sambil mengaduk teh yang tak sudah-sudah. Padahal tidak sampai tiga menit gula pun sudah larut. Karena Bi Imah memperhatikan, makanya ia menghampiri Ara untuk menyadarkannya.
"Gulanya udah larut Neng!" ucap Bi Imah.
Ara hanya tersenyum kecut mengetahui kebodohannya. Segera Ara menyelesaikan pekerjaannya. Dirinya pun pamit dengan untuk mengantar teh untuk Rio.
***
Ara masuk ke dalam kamar, jantungnya kembali berpacu. Rio telah selesai mandi, bahkan sudah mengenakan piyama dan tengah duduk di ranjang, sibuk dengan gawai miliknya. Ara masuk pun entah dia sadar atau tidak. Ara tak basa-basi ia pun meletakan secangkir teh di atas nakas dekat tempat tidur persis sebelah Rio. Rio hanya melirik Ara yang tengah menaruh secangkir teh.
Ara pun berlalu meninggalkan Rio tanpa sepatah katapun. Bukan dia marah akan sikap Rio, namun ia merasa bersalah. Jadi membuatnya tak enak hati.
"Mau kemana?" tanya Rio ketika Ara baru hampir di ambang pintu.
Siapa yang di tanya? Dirinya kah? Ara pun berhenti melangkah, dan berbalik.
"Aku?" tanya Ara seketika menunjuk dirinya sendiri.
"Terus siapa lagi?!" ketusnya sampai membuat Ara hampir mengelus dada.
"Aku, aku mau anter nampan ke bawah." jawab Ara. "Ada apa?" tanyanya.
"Oh, nggak ada. Ya sana!" usirnya.
Mangkel sih, tapi ya mau gimana. Ara pun pergi dari tempat si balok es. Turun tangga ia sengaja menghentakkan kakinya, dirinya kesal dan inilah caranya meluapkan kekesalannya.
"Dasar kulkas, es batu, balok es, apalah itu. Uh, mentang-mentang ini rumahnya berbuat seenak hati menindas orang, berkata sesuka hati. Uh..." geram Ara, tak lupa saay di ujung tangga, ia tendang tralis di dekatnya berulang kali. Dan yang terakhir "Aw!" ringisnya karena tendangan terakhirnya sangat menyakitkan.
Tak sadar, ternyata yang di kutuk tengah berada tak jauh darinya. Bahkan Rio menyaksikan betapa Ara kesal pada dirinya tadi.
"Udah puas ngatain aku!" ucap Rio dan melewati Ara.
Ara terkejut, bahkan sampai rasa sakit pada kakinya pun secara mendadak hilang saat Rio datang.
"Eh, sejak kapan kamu di sini?" tanya Ara, ia berharap Rio baru saja datang. Kalau dia mendengar umpatannya, habislah dirinya.
Rio berhenti melangkah, ia berbalik badan menghadap Ara.
"Sejak kamu ngatain aku." sarkasnya dan berlalu pergi menuju dapur.
Ara pun hanya terdiam di tempat. Ia mengakui kebodohannya. Sudahlah membuat api, sekarang ia tambah menyiram dengan minyak bensin. Apes, memanglah apes. Ara semakin tidak memiliki semangat hidup, wajahnya kusut sekusut kusutnya.
***
Rio menatap jam di dinding, matanya tak lepas dari jam dinding kemudian pintu masuk. Berulang kali dirinya menatap dua objek tersebut secara bergantian.
Ara duduk di teras samping sendiri. Ia mencatat pelajaran yang tertinggal. Tadi Tasya yang meminjamnya.
Berulang kali Ara menguap saking mengantuknya. Ia lihat jam di layar ponselnya yang menunjukan pukul 1 malam.
"Ah, udah malam banget." gumamnya.
Karena sudah menyelesaikan catatan tersebut. Ara membereskan semua yang di atas meja. Matanya sudah benar-benar berat di rasakan. Besok harus bangun pagi, melakukan rutinitas seperti biasa.
Ara masuk ke kamar Rio. Tahu pintu akan terbuka, Rio pura-pura membaca buku yang ia pegang dari awal.
"Ini kan udah malam, kenapa dia belum tidur?" batin Ara.
"Mau kemana?" tanya Rio.
Ara berbalik badan, "Mau ke sebelah." tunjuk Ara dimana di situ adalah kamarnya.
"Nggak bisa di tempati!" ucapnya tegas.
"Kenapa?"
"Renovasi, Mama minta ada beberapa bagian minta di renovasi." jawabnya yang lagi-lagi dingin.
Ara mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan nada bicaranya yang memang Ara tak suka dari awal dari sosok Rio.
"Ya udah, aku bisa tidur di kamar tamu." Ara meraih knop pintu.
"Nggak bisa juga!" tegasnya, ia pun sampai duduk tegap.
"Kenapa lagi?" tanya Ara lagi, ia pun melepaskan knop pintu dari genggamannya.
"Di renovasi sekalian, aku mau ganti interior. Bosan liatnya." jawabnya.
"Huh, maklum banyak duit. Bosan di liat langsung sesukanya di ganti." gumam Ara terlanjur mangkel.
"Apa!" Rio tak mendengar jelas apa yang di katakan Ara.
"Hah!" Ara tersenyum tipis, ia terkejut mengira Rio mendengar apa yang ia ucapakan tadi. "Terus aku tidur di mana?" kesalnya.
"Di sini." tunjuk nya persis sebelah ia sekarang merebahkan diri.
"Aku? Serius?" Ara tertegun mendapatkan ajakan dari Rio sendiri.
__
"Ara..." panggil Rio.
Malam ini akhirnya Ara pun menyetujui suruhan Rio untuk dirinya tidur bersamanya. Padahal dengan hati dongkol, Ara menyelimuti tubuhnya sebatas leher dan menghadap membelakangi Rio lalu memejamkan matanya.
Namanya di panggil, Ara membuka mata. Sekian lama mereka dalam keheningan, Rio pun memanggil namanya.
"Hum..." sahutnya dan kembali menutup matanya.
Rio yang memang sulit tertidur karena banyak pertanyaan di kepalanya untuk Ara. Dadanya masih berkobar api cemburu. Gimana tidak cemburu, saat dia di jalan mau pulang. Tak sengaja melihat Ara dan Gilang sedang di jalan akan memasuki komplek.
Terkejut Ara ternyata pulang, mana tidak memberi kabar. Sekali pulang larut malam, di tambah Ara pulang dengan Gilang. Hatinya panas melihat mereka terlihat mengobrol sesaat sebelum Gilang pergi meninggalkan Ara sendiri di jalan.
Sesekali ia melirik Ara yang entah sudah tidur apa belum.
Cemburu, kenapa Ara sampai-sampai turun di jalan. Yang jelas rumah mereka terbilang dekat? Pikirannya kemana-mana, Rio berpikir mereka memang memiliki hubungan lebih sekedar dari teman.
Pikirannya sedang kalut memikirkan Ara. Makanya ia berani bertanya, daripada ia tidur membawa rasa penasaran.
"Kamu kenapa nggak ngajak aku pergi ke rumah Bunda?" Rio mulai mengintrogasi Ara.
Ara mendengkus, mendengar pertanyaan Rio membuat dirinya malas berkomentar.
"Ra, kamu belum tidurkan?" memastikan Ara belum tidur karena Ara tak menjawab pertanyaannya tadi.
"Kenapa kamu tanya segala?" tanya balik Ara.
"Wajar, aku kan suami mu." Rio memperjelas statusnya, ya mulai mengakui siapa dirinya.
Deg
Dada Ara bergemuruh, matanya terbuka lebar. Apakah Rio telah di beri hidayah oleh Tuhan? Ah, mana mungkin.
"Ra... aku ini suamimu, kamu pergi kemana harus seizin aku. Pergi gak izin, mana nggak ngabarin blas. Sekarang pulang nggak ngabarin juga. Kamu anggap aku suami apa nggak sih?" jelasnya tanpa jeda.
"Nggak!" jelas, singkat, padat jawab Ara.
Rio mendelik, mudahnya Ara menjawab hanya satu kata. Apalagi jawabannya membuat Rio mati kutu. Segitunya dirinya di mata Ara. Rio tak akan menyerah, Rio ingin mempertanyakan hubungannya dengan Gilang. Rio ingin sebuah jawaban yang bisa memuaskan dirinya.
"Oh, oke. Kamu juga bukan istri di mata aku." Rio semakin ingin memancing bara agar menjadi api. Jelasnya, ia kesal tidak di anggap.
"Yang mau di anggap istri sama kamu itu, siapa?" remeh Ara yang langsung membuat Rio membeku seketika.
Dadanya seperti tertusuk anak panah hingga tepat menusuk jantung. Seketika kepalanya berdenyut. Ara tidak seperti dulu, jika Rio mengajak berargumen. Ara biasanya langsung kalang kabut, mulutnya tak henti-hentinya nyerocos. Kenapa sekarang susah sekali, mana jawabannya nusuk lagi.
Rio akhirnya menyerah dengan perasaan dongkol menjalar di hati. Ia pun tak ingin bertanya-tanya lebih lanjut. Dengan kasar Rio membaringkan tubuhnya dan menarik selimut dan menghadap membelakangi Ara. Dirinya benar-benar kesal malam itu.
🥀𝔹𝕖𝕣𝕤𝕒𝕞𝕓𝕦𝕟𝕘🥀