
Lama-lama telinganya semakin panas mendengar celoteh dari mereka. Ara hanya mampu menunduk, ia tak berani menatap kedua sahabatnya kini yang sedang menatap penuh tanda tanya.
"Jangan deket-deket sama dia, entar pacar kita di tikung sama dia," lanjut salah satu dari mereka.
Byurrr!
"Arghhhh!!!" Tiga mahasiswi berteriak bersamaan ketika Tasya menumpahkan dua gelas es jeruk yang baru datang kepada tiga perempuan yang duduk di sebelahnya.
Tasya menatap beringas ke arah mereka, rasanya ia ingin merobek mulut-mulut kejam mereka. Namun di tahan lebih dulu oleh Gilang.
Mereka bertiga teriak begitu keras, menjadi pusat perhatian. Semua orang di seluruh kantin melihat ke arah sumber suara, suasana pun jadi hening. Seolah ingin menantikan kejadian selanjutnya.
"Hey, lu liat sengaja ya, lu cari ribut sama kita!" Salah satu dari mereka berdiri seraya mengusap area yang basah akibat guyuran dari Tasya.
"Liat! Basah ini," sentak dari mereka tak kalah terima.
Tasya maju selangkah dengan begitu berani ia lipat kedua tangannya ke dada dengan wajah menantang mereka.
"Kenapa gak suka, itu balasan buat kalian semua," ungkap Tasya.
"Emang salah kita apa?"
"Pake tanya lagi, mulut lo pada belum di sekolahin ya, japlak sesuka jidat lu semua," kesal Tasya.
"Udah Sya, jangan di lanjutin, biarin aja," Gilang berusaha melerai Tasya dari mereka perempuan gak ada ahlaknya itu.
"Gak bisa gitu Lang, mulut-mulut mereka itu harus di kasih pelajaran, enak aja ngomongin tentang Ara sejahat itu, emang dia siapanya Ara sampai sebebas itu ngatain Ara sembarangan," ucap Tasya.
Salah satu dari mereka mendorong bahu Tasya dengan kuat, hingga membuat Tasya jatuh. Untungnya ada Gilang yang menahan tubuh Tasya agar tidak jatuh kebelakang.
"Semua orang tahu, kalau Ara dan Rio di kelas tadi mereka peluk-pelukan sampai ciuman...." Ucap salah satu dari mereka yang tadi mendorong Tasya.
Takut Tasya di dorong kembali, Gilang pasang badan membatasi keduanya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Mendengar pernyaatan dari perempuan itu, Gilang dan Tasya memberikan reaksi terkejut. Apa benar?
".... Kalau lu tanya gue tahu dari siapa, tanya aja langsung sama Uut. Dia yang lihat sendiri kejadiannya," ucapnya.
Suara bangku bergesek dengan lantai begitu nyaring. Karena semua orang terdiam seakan menonton sebuah pertunjukan yang menegangkan saja. Mendengar suara itu, semua mata tertuju padanya. Padanya, Ara yang tengah berlari keluar.
"Ara," lirih Tasya.
"Ara... Ara... Ara tunggu aku Ra!!" Panggil Tasya dari kejauhan.
Ara tak menghiraukan Tasya yang memanggil dirinya berulang kali. Ara tetap berlari sekuat kuatnya tanpa menoleh ke belakang lagi. Dirinya sudah terlalu menahan rasa sakit akibat ucapan yang membuat dirinya seperti tidak ada harga dirinya.
Kenapa harus dirinya yang menanggung pahitnya? Di mana Rio? Bukan kah kita sama-sama melakukannya. Kenapa hanya Ara saja?
Orang disekitarnya melihat Ara berlari tanpa tujuan bahkan sesekali dia menyenggol bahu orang lain. Beberapa menatap heran. Air mata pasti mengalir dengan sendirinya. Padahal Ara sudah menahan sebisa mungkin. Sakit, sakit sekali. Ia bertanya dalam dirinya, kapan penderitaannya berakhir. Kata-kata jelek dari mereka terus terngiang jelas di telinganya.
"Eh hati-hati dong!" Seru lelaki yang barusan Ara tabrak.
Tahan Ra, harus kuat, menjauh dari mereka lebih baik ketimbang harus tetap sok kuat di depan mereka. Biar mereka ngomong tentang aku apa aja, toh, aku ini istrinya. Hanya saja mereka tidak tahu identitas ku yang asli. Tapi kenapa harus aku yang di hakimi, kenapa?
Brukkk!!
"Ish, aww!" Ara terjatuh, lututnya terasa sakit.
Tangan besar mengulur ke depan wajah Ara. Ara cepat menghapus lelehan air matanya. Ia malu orang melihat keadaanya sekarang. Meringis kesakitan ia mendongakkan wajah ke atas.
Mata Ara membulat sempurna, ternyata yang ia tabrak adalah Rio sampai dirinya terjatuh. Rio masih betah mengulurkan tangannya untuk menolong Ara bangun. Namun Ara tak kunjung merespon uluran tangan Rio, bahkan air muka Ara berubah masam.
"Ara kenapa? Dia nangis?" Bathin Rio.
Ara tolak mentah-mentah uluran tangan Rio. Ara berdiri sendiri dengan menahan rasa sakit. Ara menyadari semua mata mempusatkan ke dirinya dan Rio dengan tatapan menggunjing.
Mata bulat bermanik cokelat terang milik Ara memerah, air mata telah memenuhi pelupuk matanya. Ia sadar memiliki rasa untuk Rio, tapi kenapa rasa suka nya perlahan menjadi rasa sakit.
Uluran tangan Rio di tolak, ia pun menarik kembali tangannya lalu membenarkan tas ranselnya. Mati gaya iya, hanya Ara yang menolak uluran tangannya. Sedangkan wanita lain mungkin mendamba sentuhan fisik. Malah Ara sekarang membuar Rio mati gaya di depan semua mata yang tengah memandangi mereka berdua.
"Kamu gak papa?!" Tanya Rio.
Ara hanya diam, ia masih menatap nanar sosok Rio dengan sesaknya dada. Dengan terpaksa Ara menggeleng kepala, lalu cepat berlalu pergi meninggalkan sepatah kata.
"Liat Ara gak?" Tanya Tasya kepada salah satu mahasiswa yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Lari ke sana!" Tunjuknya.
"Makasih ya!" Tasya pun terus berlari mengejar Ara.
Kakinya terhenti ketika melihat dua wanita yang berada di dalam perpustakan. Wanita yang ingin ia cari. Tepatnya ingin mengacak-ngacak penampilannya yang sok cantik. Tangannya mengepal keras, menggigit bibir bawahnya geram, matanya menajam seolah ingin menerkam mangsanya.
"Mana lagi Tasya?!" Gilang berhenti sejenak guna mengatur nafasnya tersengal akibat mengejar dua wanita yang tengah memiliki perasaan berbeda.
Matanya menangkap sosok Tasya yang jaraknya lumayan jauh. Gilang melihat Tasya berada di depan pintu perpustakan.
"Ya ampun cepet amat udah nyampe sana aja," eluh Gilang.
Melihat Tasya memasuki ruang perpustakan, Gilang bernafas lega, setidaknya ia tidak perlu mengejar. Mungkin Tasya sudah menemukan Ara. Jadi, dirinya memilih berjalan santai menghampiri mereka.
Brak!!
"Woy, santai!!" Kaget salah satu dari dua perempuan yang tengah membaca buku.
Tasya berdiri dengan wajah datar, tetap di dalam dadanya menahan rasa marah.
"Ada masalah apa?" Tanya Uut dengan wajah songongnya.
"Datang-datang gak sopan," ketus Iren teman dekat Uut.
"Lu semua punya mulut tuh di didik, jangan nyebarin berita gak jelas tentang Ara!" To the point Tasya.
"Ara?!" Uut menatap teman dekatnya dengan menaikan satu alis.
"Oh, perempuan genit itu, kenapa?"
"Muka jelek!" Geram Tasya dalam hati, sebal melihat ekspresi wajah tengil Uut.
"Pake tanya lagi," Tasya di uji kesabarannya oleh sikap Uut seolah-olah dia tak bersalah.
"Gue kasih tahu, Ara gak genit, yang genit itu lu, gak sadar diri!"
"Jelas dia yang genit, godain Rio di kelas, gue lihat sendiri," melotot Uut, ia malah seolah menantang Tasya terang-terangan.
"Emang lu siapa Rio, pacar? Atau istri? " Tanya Tasya.
***