
Di dalam mobil, di sepanjang perjalanan. Tidak ada yang mau memulai obrolan, keduanya saling membisu. Rasanya tak nyaman dan canggung. Ara berulang kali melirik ke arah Derry berharap Derry membuka obrolan. Begitupun Derry, dia sangat ingin berbicara dengan Ara. Tetapi ia tak ingin memulainya lebih dulu.
"Hem," Ara berdehem mencoba memberikan sinyal ke Derry. "Gimana kabarmu? Udah lama kita gak ketemu."
Ara memberanikan diri untuk memulai. Terasa aneh, seorang Derry yang biasanya banyak bicara. Kini berubah, bukan Derry yang dulu Ara kenal semenjak sebulanan mereka tak saling bertemu. Mungkin karena itu keduanya saling canggung untuk sekedar bertegur sapa.
"Eh, kabar aku baik. Kamu gimana?" tanya balik Derry, kedua tangannya mengerat di stir mobil. Sesekali Derry membenarkan duduknya, berusaha serileks mungkin.
"Aku juga baik-baik aja," lirihnya dengan senyum di buat-buat.
"Kamu gak lagi baik-baik aja, Ra," batinnya.
Derry tahu, tapi tidak tahu masalah pastinya apa. Yang ia tahu, Ara sudah tidak tinggal di rumahnya bersama Rio. Di tambah, Rio baru kemarin datang untuk menginap. Mama pun menyuruhnya menjemput Ara, padahal ada Rio di rumah. Yang di tuju pun bukan rumah Rio.
"Syukurlah, aku lagi sibuk akhir-akhir ini. Lagi fokus latihan karena tinggal tunggu hari ada pertandingan basket antar sekolah. Jadi gitu deh, sibuk banget," ujarnya.
"Pantes udah gak lagi kekeh antar jemput aku."
"Gak, gak gitu Ra. Aku emang gak sempet aja, temen-temen biasanya udah jemput duluan ke rumah," gugup Derry merasa terjebak oleh pertanyaan Ara.
"Santai aja, aku cuma becanda," kelakar Ara berusaha lebih mencairkan suasana. "Gak papa kali, daripada kamu antar jemput aku. Mending waktu yang kamu punya, kamu pake buat hal-hal yang kamu suka. "
Derry tersenyum kecut mendengarnya. Sebenarnya keinginan Derry untuk bertemu Ara masih saja ada. Tapi untuk sekarang dan seterusnya, Derry tidak akan lagi menggangu Ara dan hubungannya dengan abangnya. Derry akan membiasakan diri seperti layaknya adik ipar untuk Ara tak lebih.
Ini semua karena Mamah Fani. Ternyata Mamah Fani sudah tahu kelakuan anak bungsunya itu sejak Ara dan Rio sebelum menikah. Tepatnya waktu Derry mengantar sekaligus menemani Mamah Fani berkunjung ke rumah Ara di Bandung untuk membantu mempersiapkan hari H.
Mamah Fani memergoki Derry yang mencoba menggoda Ara dan melakukan kontak fisik ke Ara. Tapi tidak langsung Mamah Fani menyetop aksi Derry. Ia urungkan saja dulu, sebab acara pernikahan Rio akan segera di laksanakan. Mamah Fani tidak ingin bertindak gegabah. Ia tahan rasa emosinya, agar semuanya berjalan lancar.
Hingga akhirnya Derry tak bisa menghentikan untuk tidak mengganggu atau mendekati Ara. Selalu saja Derry berusaha. Akhirnya Mamah Fani harus menegur keras kelakuan Derry yang tak pantas kepada kakak iparnya sendiri.
Ketika Mamah Fani mencoba berbicara secara hati ke hati. Berharap si bungsu memahami keadaan. Derry malah berkata jujur bahwa dirinya terlanjur suka dengan Ara sejak pertama kali bertemu. Pastinya Mamah Fani terkejut bukan main, awalnya Mamah Fani berpikir Derry hanya bercanda saja. Karena di keluarga ini tidak ada saudara perempuan. Mungkin Derry merasa senang memiliki saudara perempuan sekarang, dan ingin menjahili Ara saja. Tidak lebih
Karena ketakutan Mamah Fani Derry semakin di luar batas dan kejujuran Derry membuat Mamah Fani akhirnya memutuskan untuk melarang keras Derry bertemu Ara lagi. Bahkan kunci motor sudah Mamah Fani ia sita. Uang jajan di potong, bahkan pergi ke sekolah di antar dan di pantau oleh orang suruhan mamah. Di larang juga untuk pergi-pergi nongkrong bersama teman-teman sekolahnya. Jika itu ada alasan yang dapat di terima, baru mamah akan mengizinkan.
Tapi, kenapa Derry yang sekarang malah di minta menjemput Ara. Entahlah, Derry tak paham pikiran mamahnya sendiri. Padahal ada supir di rumah. Tapi kenapa juga harus dirinya. Yang jelas-jelas mamah sudah melarangnya menemui Ara. Tapi sebelum memberikan kunci mobil, Mamah Fani mengancam. Kalau Derry berbuat konyol ketika bertemu Ara, sekolah ke luar negeri adalah hukumannya.
Derry lebih baik menahan atau melupakan perasaannya ketimbang harus memilih pergi meninggalkan Indonesia. Mamahnya memang kejam. Ya, pastinya semua ini untuk kebaikan bersama.
___
"Rio, keluar Nak!" panggil Mamah Fani seraya mengetuk pintu kamar Rio.
Rio yang seharian mengurung diri di kamar menatap arah luar di jendela. Kamarnya gelap gulita. Tatapannya kosong, yang ia pikirkan adalah Ara dan Ara. Ponselnya tak pernah ia lepaskan, sekali pun sedang mandi ia bawa. Jaga-jaga ada kabar dari Ara atau Ara nya sendiri yang menghubunginya. Agar langsung ia bisa merespon dengan cepat.
Dua kali makanan yang di antar ke kamar Rio hanya di letakan begitu saja dan masih tetap utuh. ***** makannya hilang, dia merasa hampa sekarang. Rasa laparnya sudah tak lagi ia rasakan.
Mamah Fani yang sedari tadi menggedor pintu tak kunjungi si sulung membukakan pintu hilang kesabaran.
"Ya, ampun ni anak. Di panggil bukannya nyaut," kesal Mamah Fani dan langsung menerobos masuk ke dalam karena pintunya memang tidak di kunci. Sengaja kunci kamar Rio Mamah Fani sita buat menjaga saja.
Rio tak bergeming. Mamah Fani menggelengkan kepalanya melihat sikap sang anak yang hanya berdiam diri. Bahkan saat melihat dua nampan berisi makanan belum Rio sentuh sama sekali. Mamah Fani hanya bisa menghela nafas melihatnya.
Mamah mendekat, "ya ampun Rio. Sampai kapan kamu kayak gini, hah!"
Mamah Fani duduk bersanding dengan anaknya dan memeluk dari samping.
"Gak ada gunanya kamu diam kayak gini, usaha dong kalau kamu memang mau Ara kembali."
Rio menatap nanar ke arah Mamahnya. Terlihat mata lesu, sembab, dan wajah pucat sebab Rio kebanyakan menangis. Tubuhnya pun seperti kehabisan tenaga, karena jarang makan. Mungkin saja berat badannya banyak turun, terlihat tubuh Rio banyak menyusut.
"Mah, Rio udah usaha. Tapi sama sekali gak ada hasilnya, Rio harus gimana. Rio benar-benar nyesel sekarang," sesalnya. Buliran air bening meluncur bebas di pipi Rio kala mengingat kelakuannya terhadap Ara terdahulu. Rasanya ketika di ingat dirinya merasakan sesak teramat sangat. Berpikir bagaimana perasaan Ara dulu.
Mamah Fani menghela nafas panjang, ia tepuk punggung sang anak. "Memang wajar, penyesalan selalu datang di akhir. Tidak bisa memaksa kembali ke awal, tapi setidaknya ada kesempatan untuk memperbaiki kerusakan yang dulu kamu lakukan, Rio. Itu pun tergantung kamu mau melakukan usaha seperti apa. Semuanya tergantung kamu dan Ara."
"Kalau kamu masih ingin mempertahankan hubungan kalian. Perbaiki lah, selagi bisa. Tapi kalau dari Ara nya ingin sudah. Kamu juga harus berlapang dada. Anggap saja ini memang karma untuk mu. Memang sedari awal ini kesalahan kamu, Rio," sambungnya.
"Sudahlah, jangan banyak diem, dan nangis kayak gini. Ayo ganti bajumu," Mamah Fani beranjak dari duduknya menuju almari untuk mengambil pakaian Rio sebelum itu Mamah Fani menghidupkan lampu kamar Rio yang gelap.
"Nih, pake ini. Ayo cepetan siap-siap. Mamah gak mau tahu ya, harus di pake ini," Mamah Fani memberikan satu pasang baju.
"Rio , gak mau, Mah!" tolaknya.
"Kalau kamu gak mau pake, Mamah gak mau bantu buat ngomong ke Ara," ancamnya.
Sontak Rio langsung meraih baju yang di pilihkan oleh mamahnya dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju. Rio tak banyak bertanya, ia lebih takut kalau mamahnya tidak mau membantunya.
___